Heart's Owner

Heart's Owner
Kesedihan Rosi dan Andri



Api masih berkobar di cafe Rosi, membuat kemacetan yang panjang di jalan raya itu.


Jonathan dan Kezia juga terjebak macet, mobil mereka bahkan tidak bisa bergerak, suara sirine pemadam kebakaran mulai terdengar.


Suara teriakan warga sekitar mulai terdengar, mereka berusaha memadamkan api secara manual.


"Bang, gimana nih, kita terjebak macet, gimana ya kondisi Mbak Rosi dan Mas Andri?" tanya Kezia cemas.


"Sepertinya kita harus melipir di pinggir jalan Zia, terus kita jalan kaki ke cafe itu, macetnya parah!" sahut Jonathan.


Akhirnya mereka memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket yang ada di pinggir jalan itu.


Jonathan langsung menggandeng tangan Kezia menuju ke cafe Rosi yang terbakar, hawa panas mulai terasa di wajah mereka.


Di depan cafe di pinggir jalan, Rosi nampak sedang menangis dalam pelukan Andri.


Jonathan dan Kezia langsung menghampiri mereka.


"Mbak Rosi, yang sabar ya Mbak!" ucap Kezia sambil memeluk Rosi.


Sementara Jonathan terus menepuk bahu Andri untuk menguatkannya.


"Kenapa bisa sampai terbakar begini Bro?" tanya Jonathan.


"Entahlah, sebelum terbakar ada tabung gas yang meledak, lalu langsung menyambar api yang kebetulan sedang menyala, setelah itu api dengan cepat menyebar, semua karyawan selamat, cuma tidak ada lagi barang yang tersisa!" ungkap Andri dengan wajah sedih.


"Mbak Rosi, Mas Andri, sebaiknya tenangkan pikiran dulu, yuk istirahat di kos nya Bang Jo, biar pemadam kebakaran saja yang memadamkan apinya, percayalah, harta benda bisa di cari, yang penting kalian semua sehat dan selamat!" kata Kezia.


Akhirnya mereka berjalan menuju ke kosan Jonathan.


Jonathan langsung membuatkan mereka semua minuman hangat. Wajah Rosi sudah mulai sedikit tenang.


"Semua ini karena kelalaian karyawan, biasanya Rosi yang selalu memantau kinerja mereka, namun hari ini dia tidak datang ke cafe, eh malah ada insiden seperti ini!" ungkap Andri.


"Kenapa Mbak Rosi tidak datang ke cafe?" tanya Kezia.


"Dari pagi perut ku mual, bahkan aku tidak bisa makan makanan apapun, Andri saja sampai bolos kerja hanya untuk menemani aku, seharian ini entah sudah berapa kali aku muntah!" jawab Rosi.


"Sudah periksa ke dokter belum?" tanya Kezia. Rossi menggelengkan kepalanya.


"Tadinya malam ini kami mau periksa ke dokter, tapi ternyata malah ketimpa musibah!" sahut Andri.


"Aku pernah lihat ibuku juga sama kayak Mbak Rosi, mual, muntah dan tidak nafsu makan, eh ternyata ibu lagi hamil adikku!" tambah Kezia.


"Apa? Hamil?" seru Andri dan Rosi berbarengan.


Rosi nampak sedang berpikir sesuatu, dia mengerutkan keningnya.


"Wah, aku juga baru ingat, aku sudah telat datang bulan, harusnya bulan lalu aku sudah dapat, ini sudah lewat bulan tapi masih belum juga!" ujar Rosi.


"Sayang, ayo kita periksa ke dokter sekarang juga!" kata Andri yang langsung menggenggam tangan Rosi.


"Tapi, bagaimana dengan cafe kita?" tanya Rosi yang wajahnya kembali murung saat teringat akan cafenya yang terbakar.


"Kalian tenang saja, aku dapat komisi penjualan rumah, aku akan berikan sebagian komisiku untuk kalian membangun kembali cafe kalian, anggap saja ini sebagai bantuan, bukan pinjaman lho ya, karena aku tidak suka menghutangi orang!" kata Jonathan tiba-tiba.


Semua mata mengarah ke arah Jonathan.


"Tapi Jo, bukankah kau sangat ingin melamar Kezia dengan uang itu?" tanya Andri.


"Aku masih punya banyak kesempatan untuk bekerja keras, lagi pula sekarang aku sudah naik gaji, semua yang aku miliki adalah milik Kezia, dan aku yakin Kezia juga tidak akan keberatan aku memberikan sebagian uangku untuk kalian!" jelas Jonathan.


Kezia langsung menganggukan kepalanya.


"Bang Jo benar, yang penting Papaku sudah merestui hubungan kami, Bang Jo juga sudah di sayang Papa kelihatannya, jadi kalian jangan sungkan menerima bantuan dari Bang Jo!" tambah Kezia.


"Sudah kalian segera ke dokter sana, semoga Mbak Rosi beneran positif, selamat menjadi calon orang tua!" ucap Jonathan.


Tak lama kemudian, Andri dan Rosi segera pamit untuk pergi periksa ke Dokter.


"Kezia, Bang Jo minta maaf ya, sebagian uang untuk melamar Kezia Abang berikan buat Andri dan Mbak Rosi, Bang Jo kasihan sama mereka, dulu juga Andri pernah meminjamkan Bang Jo uang saat dompet Abang hilang!" ucap Jonathan.


Kezia menoleh ke arah Jonathan. Lalu menatap manik mata coklat Jonathan yang tajam itu.


"Aku malah bangga sama Bang Jo, mau berbagi sama teman yang sedang susah, memiliki rasa empati terhadap sesama, Bang Jo memang pria idaman!" puji Kezia.


"Ah Kezia, Bang Jo kan jadi malu!" sahut Jonathan menunduk.


Kezia mencubit gemas dagu Jonathan yang baru di cukur itu.


"Pacar siapa ini yang suka malu-malu tapi mau!" ujar Kezia.


"Sudah yuk Zia, Abang antar pulang, nanti kemaleman calon mertua marah lagi!" kata Jonathan yang langsung beranjak dari tempatnya.


kemudian merekapun keluar dari kos an Jonathan menuju ke arah mobil yang di parkir yang posisinya agak jauh.


Kobaran api di cafe Rosi sudah mulai padam, tinggal tersisa asap yang masih mengepul.


"Kalau Kezia capek jalan Bang Jo gendong ya!" tawar Jonathan.


"Tidak Ah Bang! Malu di lihat orang!" sergah Kezia.


"Lho kok malu, kan di gendong sama pacarnya, masa malu!" ujar Jonathan.


"Ya malu lah Bang, nanti jadi pusat perhatian orang lagi!" sahut Kezia


"Zia, kalau nanti Abang melamar Kezia, Abang ajak Bang Binsar ke Jakarta, karena saudara Abang cuma dia sama keluarga Ratna!" ucap Jonathan.


"Iya Bang, ajak saja, sekalian kenalan sama keluarga dan kerabat Abang!" ujar Kezia.


"Tapi Abang juga tidak tau Zia, Bapak Mamaknya Ratna mau tidak ya melamarkan Kezia untuk Abang, mereka kan marah sama Abang gara-gara ... Abang nolak di jodohkan sama Ratna!" jelas Jonathan.


Kezia terdiam mendengar perkataan Jonathan, dia tidak tau harus menjawab apa lagi.


"Memangnya, harus ya keluarga Mbak Ratna di ikut sertakan?" tanya Kezia pelan.


"Keluarga Ratna itu masih saudara dari Mama Bang Jo, walau bagaimana Bang Jo harus menghargai mereka juga!" jawab Jonathan.


Akhirnya mereka sampai di depan mini market tempat mobil Jonathan terparkir.


Sebelum mereka masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Jonathan memeluk pinggang Kezia.


"Zia, cuma Kezia yang ada di dalam hati Bang Jo!" bisik Jonathan.


Bulu kuduk Kezia langsung meremang seketika. Jonathan lalu mengusap lembut perut Kezia.


"Bang Jo apaan sih! Geli tau!" sergah Kezia.


"Waktu lihat Rosi yang hamil tadi, Bang Jo jadi pengen cepat-cepat melamar Kezia, supaya kita cepat menikah, dan Kezia bisa mengandung anak Bang Jo!" ucap Jonathan.


"Ih Bang Jo jadi genit begini sekarang? Sudah ah, antar aku pulang Bang! Tidak mau kan di semprot sama calon mertua masa depan??" tanya Kezia sambil tersenyum.


Dengan sigap Jonathan langsung membukakan pintu mobil untuk Kezia, lalu naik ke dalam mobilnya dan menyalakan mesinnya, kemudian cepat-cepat berlalu meninggalkan tempat itu.


*****


Halo guys ...


Jika kalian suka dan terhibur dengan cerita ini, silahkan di Share ya ke saudara, kerabat, atau siapapun ...


Trimakasih ...