
Hari sudah menjelang malam saat Jonathan dan Kezia beranjak dari mall itu menuju ke parkiran motor.
Setelah selesai makan tadi, Jonathan membelikan Kezia sebuah jaket untuk melindungi Kezia saat naik motor.
"Wajah Bang Jo berubah deh, ada apa sih Bang?" tanya Kezia sambil mengenakan helmnya dan memakai jaket yang baru di belikan Jonathan tadi.
"Besok Ratna mau datang Kezia!" ucap Jonathan.
"Hah?! Beneran bang?" tanya Kezia tak percaya. Jonathan Menganggukan kepalanya, sambil mulai menyalakan mesin motornya.
"Terus nanti Ratna mau menginap di mana?" tanya Kezia lagi.
"Mungkin di depan kos aku!" sahut Jonathan.
Kezia terdiam sampai Jonathan mulai melajukan motornya meninggalkan mall itu.
"Kenalin aku sama Ratna Bang Jo!" ujar Kezia.
"Buat apa?"
"Memangnya kita tidak boleh jadi teman?"
"Tapi, nanti Ratna akan berpikir aneh-aneh lagi... aku takut!" sahut Jonathan.
"Takut apa bang?"
"Aku takut menyakiti hati Ratna!" kata Jonathan yang tiba-tiba menepikan motornya di pinggir jalan.
Terdengar suara petir yang menggelegar di sertai kilat yang bersinar terang.
"Kenapa berhenti Bang? Sudah mau hujan lho!" sergah Kezia.
"Kezia, aku butuh teman malam ini!" kata Jonathan. Kezia terkesiap.
"Tapi Bang ...!"
"Aku bingung dengan perasaanku sendiri Kezia!" ungkap Jonathan.
Mereka kemudian duduk di sebuah halte di pinggir jalan itu.
"Kok pacar Bang Jo datang Abang malah bingung, harusnya kan Abang senang, memangnya tidak kangen gitu?" tanya Kezia.
"Kezia, semakin lama aku semakin sadar, kalau bukan Ratna yang ada di hatiku, entah kenapa aku jadi begitu hambar terhadapnya, mungkin karena dia terlalu banyak menaruh harapan padaku, sementara aku tidak bisa mengimbanginya!" ungkap Jonathan.
"Tapi, bukankah kalian pacaran?" tanya Kezia.
"Ya, begitu memang statusnya, orang tuanya sangat antusias padaku, karena sejak kecil aku sering di titipkan ibuku pada keluarga Ratna, karena ibuku yang single parent harus bekerja!" tutur Jonathan.
"Jadi Bang Jo merasa hutang Budi pada keluarga mereka?" tanya Kezia lagi.
"Iya Kezia, sebelum meninggal ibuku juga berpesan agar aku, bersama Ratna ..." jawab Jonathan.
"Kalau begitu, belajarlah untuk mencintai Ratna, taruh namanya dalam hatimu yang terdalam Bang! Kasihan Ratna, apalagi dia kelihatan begitu mencintaimu, bahkan besok dia akan menyusulmu ke Jakarta!" ujar Kezia sambil menepuk lembut bahu Jonathan.
Gerimis mulai turun perlahan, angin dingin mulai menyapu sekeliling tempat itu, banyak pengendara motor yang berteduh di halte itu.
Kezia merapatkan tubuhnya yang di gin di samping Jonathan.
"Kau kedinginan Zia?" tanya Jonathan.
"Sedikit!" sahut Kezia.
"Pakai lagi jaketku, supaya lebih hangat!" Jonathan langsung melepas jaketnya dan kembali memakaikannya pada Kezia.
"Nanti bang Jo yang kedinginan!" sergah Kezia.
"Tidak, aku sudah biasa menahan dingin!" sahut Jonathan.
Lama mereka berteduh di halte itu, sampai hujanpun berganti gerimis halus. Satu persatu orang-orang yang berteduh kembali melanjutkan perjalanannya.
"Kezia, seandainya aku sudah lama mengenalmu, kenapa kita baru ketemu ya?" tanya Jonathan.
"Mungkin takdir Bang!" sahut Kezia.
Di halte itu, hanya tinggal mereka berdua yang sibuk dengan pikirannya masing-masing, mereka juga terlihat enggan meninggalkan tempat itu, padahal hujan sudah berhenti sedari tadi.
"Sudah malam bang!" kata Kezia.
"Iya, aku antar ya Zia? kau tinggal tunjukan saja di mana rumahmu!" ujar Jonathan.
Mereka berjalan menuju ke motor yang terparkir di pinggir jalan itu.
Tak lama kemudian mereka sudah beranjak akan kembali pulang.
Kezia mengarahkan Jonathan menuju ke rumah Erin. Motor Jonathan berhenti di depan rumah Erin yang nampak sepi itu.
"Aku mau ketemu Papamu Kezia, supaya aku bisa tanggung jawab kalau Papamu marah!" kata Kezia.
"Jangan Bang! Papaku galak tau!" cetus Kezia.
"Aku tidak takut!" bantah Jonathan.
"Iiih! Nyebelin ah! Nanti sajalah kapan-kapan kalau mau ketemu Papa!" tukas Kezia.
"Tapi aku ingin kenalan sama Papa kamu Zia, aku ini kan laki-laki yang bertanggung jawab!" ujar Jonathan.
"Tidak sekarang!" seru Kezia.
"Hmm, baiklah, kalau begitu aku pamit pulang saja, sampaikan salamku untuk keluargamu ya!" ucap Jonathan yang langsung membalikan tubuhnya.
"Bang Jo!" panggil Kezia. Jonathan menoleh.
"Ada apa Zia?" tanya Jonathan. Kezia berjalan mendekati Jonathan.
"Untuk saling menjaga perasaan, selama ada Ratna, lebih baik kita tidak usah bertemu dulu!" ucap Kezia.
"Tapi, dua hari lagi hari ulang tahunku, aku sangat ingin mengajakmu makan untuk merayakan ulang tahunku itu!" kata Jonathan.
"Tapi Bang, kan ada Ratna, kalian bisa merayakannya berdua saja kan, bahkan itu jauh lebih romantis!" ujar Kezia.
Tiba-tiba Jonathan maju dan memeluk Kezia. Kezia terkejut, namun tetap membiarkan Jonathan memeluknya, karena Kezia merasa sangat nyaman berada dalam pelukan Jonathan.
"Aku tidak seromantis yang kau kira, aku begitu kaku dan dingin, apalagi jika berhadapan dengan Ratna!" bisik Jonathan.
Ada desiran hangat yang melanda keduanya, tapi masing-masing dari mereka menyembunyikannya.
"Kau sudah milik Ratna Bang Jo!" ucap Kezia. Tak terasa air matanya menetes, sebenarnya dia sangat tidak rela mengucapkan kata-kata itu.
Tiba-tiba Jonathan menangkup wajah Kezia dengan tangannya, di tatapnya wajah itu dengan tatapan yang sulit untuk di ungkapkan.
Kemudian Jonathan mengecup wajah Kezia yang kini penuh dengan air mata, Kezia memejamkan matanya, menahan gejolak rasa yang melandanya.
Tanpa sadar Jonathan mulai mencium bibir Kezia, Kezia langsung melotot, belum pernah dia memberikan bibirnya pada siapapun, termasuk pada Robby mantan pacarnya.
"Jangan Bang!" lirih Kezia.
"Sebentar saja, aku belum pernah melakukan ini sebelumnya, termasuk pada Ratna, ini ciuman pertamaku!" bisik Jonathan dengan suara gemetar.
Kezia mendorong dada Jonathan lembut, kemudian dia mengusap bibirnya dengan tangannya.
"Pulanglah Bang, ingat, kau adalah milik Ratna, besok dia akan datang, dia adalah pacarmu!" ujar Kezia.
"Maafkan aku Kezia, maaf!" ucap Jonathan. Kemudian dia segera menaiki motornya dan melajukannya meninggalkan Kezia yang masih berdiri sambil menangis.
****