Heart's Owner

Heart's Owner
Persiapan Persalinan



Hingga hari menjelang siang, Kezia masih berjuang di kamar bersalin, kini rasa sakit di perutnya sudah semakin sering, di tangannya terpasang selang infus dan induksi.


Jonathan tidak sedikitpun beranjak dari samping Kezia, dia mencoba dengan berbagai cara untuk membantu Kezia bisa mengurangi rasa sakitnya.


Dari memijiti kaki, kepala, punggung, hingga mengelus perut, namun Kezia masih terus merasakan sakit yang semakin lama semakin sering.


"Dokter! Ini lama sekali, kapan sakitnya akan berakhir??" seru Jonathan.


"Sabar Pak Jo, ini baru pembukaan empat, semua wanita yang melahirkan memang seperti itu menahan sakitnya, justru kalau Bapak panik akan membuat Ibu Kezia juga panik dan stress, itu justru yang berbahaya, tensi bisa naik dan kondisinya malah mengkhawatirkan!" jelas Dokter.


Jonathan kemudian langsung memeluk Kezia.


"Kalau rasa sakit ini bisa di pindahkan, Abang mau menanggung semua rasa sakit mu Kezia, pokoknya Kezia tidak boleh hamil lagi, kalau harus kesakitan seperti ini!" ucap Jonathan.


"Bang! Sakit Bang, aduuuh, sakit Bang!" rintih Kezia sambil menyandarkan tubuhnya di tubuh Jonathan.


Sesekali Kezia mencengkram tangan Jonathan, atau menjambak rambut Jonathan untuk menahan rasa sakitnya.


Ricky dan Lika baru tiba di rumah sakit, saat Jonathan baru menghubungi mereka.


"Kenapa kau baru hubungi kami sekarang Jo!" sengit Ricky saat tau Kezia sejak subuh sudah ada di rumah sakit.


"Maaf Pa, namanya orang panik mana ingat aku untuk menghubungi orang-orang!" sahut Jonathan.


Lika langsung mendekati Kezia dan memegang perutnya.


"Kezia, tahan sebentar ya sayang, Kezia bayangkan saja yang indah-indah, atau ingat masa yang indah dan lucu, untuk mengalihkan rasa sakitnya!" ucap Lika.


"Iya Bu, tapi ini sakit sekali!" keluh Kezia.


"Zia sayang, masih ingatkah dulu saat Kezia mengerjai Abang, dengan mencoret dan menggambar KTP Abang? Abang masih menyimpan KTP itu Zia, buat kenang-kenangan, karena dari situ awal Bang Jo mulai tertarik sama Kezia!" ungkap Jonathan yang tidak tau lagi harus berbuat apa.


"Masih ingatkah saat Kezia ketiduran di taksi saat pameran karena hujan lebat, hingga Kezia terpaksa Abang gendong ke kamar kos Abang, lalu Kezia makan mie instan yang Abang buatkan untuk Kezia?" lanjut Jonathan.


"Apa?? Jadi kalian pernah tidur satu kamar dulu sebelum menikah??" tanya Ricky melotot.


"Ah, ketahuan deh Zia, bukan Pa, Kezia tidur di ranjang ku, tapi aku kan tidur di bangku!" tukas Jonathan.


"Tetap saja, kalian telah membohongi Papa apalagi dulu kau masih jadi marketing!" sungut Ricky.


"Maaf deh Pa, yang penting kan aku sudah buktikan perjuangan cintaku di depan Papa dan Kezia, tapi di jamin Pa, kita sama-sama masih perawan dan perjaka!" ujar Jonathan.


"Tutup mulut kalian! Saat seperti ini kenapa jadi membahas hal yang tak penting??" sergah Lika.


"Maaf bapak ibu, jangan berkerumun di sini, biarkan saja suaminya yang menemaninya, supaya Bu Kezia tidak tambah stress!" seru seorang perawat.


Akhirnya Lika dan Ricky keluar dari ruang bersalin itu dan menunggu di luar.


"Jo, kau makan dulu sebentar, supaya ada tenaga untuk menjaga Kezia!" kata Lika.


"Tapi Bu, masa Kezia di tinggal?" tanya Jonathan.


"Sebentar saja! Kezia, Ibu pinjam Jo dulu, kasihan suamimu belum makan apa-apa sejak tadi!" ujar Lika sambil menarik tangan Jonathan keluar dari ruangan itu.


Tak lama Mr. Michael dan Mom Diana muncul.


"Apakah cucuku sudah lahir?" tanya Daddy Michael.


"Belum Dad!" sahut Jonathan.


Tanpa banyak bicara lagi Jonathan kembali ke ruang bersalin istrinya, menemani Kezia yang kini terlihat sudah kehabisan tenaga.


"Kezia, bertahanlah, kau pasti bisa sayang!" ucap Jonathan sambil mengecup bibir dan kening Kezia.


Kezia sudah nampak pucat dan lemah, tenaganya bahkan sudah hampir habis.


"Bang Jo, aku haus!" kata Kezia.


Jonathan lalu segera mengambil air putih. Kemudian menyodorkannya ke mulut Kezia.


"Dokter, sudah pembukaan berapa istriku?? lama sekali!" sungut Jonathan.


"Baru pembukaan lima, sabar saja dulu, atur nafas perlahan, jangan boroskan tenaga, mudah-mudahan cepat ada kemajuan ya!" ungkap Dokter.


"Dokter, kalau seperti ini terus, lebih baik istriku di operasi saja, aku takut dia kenapa-napa Dokter, lihat saja dia sudah lemah begini, suaranya juga sudah hampir habis!" keluh Jonathan sambil terus memegangi istrinya yang kini dalam pelukannya itu.


Dokter Adam kemudian kembali mendekati Kezia.


"Bu Kezia, apakah masih tetap akan berjuang untuk melahirkan normal? Ini sudah setengah jalan lho!" kata Dokter.


"Masih Dokter!" jawab Kezia.


"Tapi suami anda sepertinya lebih cemas dari pada anda, yakinkan dia kalau kau pasti bisa melewati ini!" kata Dokter.


Kezia kemudian menoleh ke arah Jonathan yang masih duduk di sampingnya dan memeluk tubuhnya.


"Bang Jo, temani aku untuk melahirkan anak kita, aku tidak apa-apa, asal Bang Jo ada bersama denganku, itu sudah cukup, Bang Jo jangan takut dan cemas, aku tidak apa-apa!" ucap Kezia dengan suara bergetar.


"Iya sayang, Bang Jo tidak akan sedetikpun pergi dari sini, Kezia peluk Bang Jo supaya rasa sakitnya hilang, Kezia pasti bisa!" bisik Jonathan.


Akhirnya sekali lagi Kezia berjuang untuk melampaui rasa sakitnya bersama dengan Jonathan.


"Dokter! Pembukaannya sudah naik, kepala bayinya sudah hampir terlihat!" seru seorang suster.


"Nah, bagus, Ayo Bu Kezia sedikit lagi, dengarkan aba-aba saya ya!" ucap Dokter.


"Kezia, Anak kita Zia, ayo Kezia yang kuat, kau adalah wanita hebat Zia, paling Abang cintai di dunia ini, berjuanglah sayang, berjuanglah melahirkan buah cinta kita!" bisik Jonathan sambil menangis.


"Aaaarrrghh!!! Sakit Bang ....!!" jerit Kezia tertahan.


Jonathan terus menciumi dan memeluk Kezia sambil menangis.


Bersambung ...


****