Heart's Owner

Heart's Owner
Pengakuan Jonathan



Mr. Michael Rowett terdiam saat Jonathan menanyakan hubungannya dengan Farida Rahayu, Mamanya.


Sementara Jonathan menatap tajam pada Mr. Michael sambil menunggu jawabannya.


Kemudian Jonathan menyodorkan Foto Ayahnya di hadapan Mr. Michael.


"Apakah ini benar Foto anda?" tanya Jonathan.


"Itu fotoku! Ya itu fotoku saat muda dulu, aku memberikan beberapa fotoku pada Farida, jaman dulu tidak ada ponsel untuk menyimpan foto!" jawab Mr. Michael.


Jonathan terkejut bukan main, laki-laki yang kini ada di hadapannya kemungkinan besar adalah Ayahnya.


"Ayo Mr, katakan pada saya, apa hubungan Mr dengan wanita itu?" tanya Jonathan lagi.


"Dulu kami pernah menikah di bawah tangan di Jakarta, namun orang tuanya tidak merestui kami karena kami berbeda kebangsaan, dua bulan setelah menikah, tiba-tiba Farida menghilang, mungkin saja dia di paksa oleh orang tuanya, setelah itu aku tidak tau lagi apa yang terjadi, aku sudah cari kemana-mana, tapi tidak ketemu, jaman dulu tidak ada ponsel dan media sosial, akhirnya karena frustasi aku pulang ke negaraku, karena Bisnisku juga kurang bagus di sini, di tambah saat itu sedang ada krisis ekonomi di Indonesia!" jelas Mr. Michael.


Wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam, karena dia teringat masa lalunya.


Perasaan Jonathan juga jadi tidak menentu, Laki-laki di hadapannya jelas pernah menikahi Mamanya, Mama kandungnya, apakah mungkin laki-laki di hadapan Jonathan itu adalah ayah kandungnya.


"Sebelum Farida menghilang, dia sempat mengatakan kalau dia hamil anakku, aku sangat menyesal tidak bisa menjaga dan mempertahankannya!" Mr. Michael tiba-tiba menangis, seperti ada luka lama yang kembali terkoyak.


Jonathan yang melihatnya hanya diam tanpa tau harus berkata apa, seluruh jiwa dan raganya terasa hilang, tidak percaya atas apa yang baru saja di dengarnya.


"Jonathan, kalau kau tau di mana keberadaan wanita itu, aku mohon tolong beritahu aku!" ucap Mr. Michael sambil mengusap wajahnya yang basah.


"Wanita itu sudah meninggal!" jawab Jonathan singkat.


Mr. Michael yang mendengar itu langsung kembali menangis, dalam hatinya penuh penyesalan yang amat sangat. Lalu dia menatap Jonathan dengan tatapan yang dalam.


"Dari mana kau tau semua tentang Farida?" tanya Mr. Michael.


"Karena, dia adalah Mamaku!" sahut Jonathan lirih.


"Apa? Kau anak Farida? Benarkah? Apa Farida mempunyai anak lain selain dirimu?" tanya Mr. Michael terkesiap.


"Tidak, Aku adalah anak satu-satunya Mamaku!" jawab Jonathan.


Mr. Michael berdiri dan menatap Jonathan dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Jonathan, apakah kau anakku? Ya, wajahmu bukan seperti Indonesia asli, kau pasti anakku!" seru Mr. Michael dengan wajah sedikit berbinar penuh pengharapan.


Jonathan lalu juga berdiri tapi dia mundur dari Mr. Michel yang mencoba untuk mendekat.


"Sejak aku kecil Mamaku sudah menderita, aku selalu di bully karena tidak punya Ayah, di tambah tekanan hidup dan ekonomi yang sangat berat, Mamaku bekerja di sawah milik saudaraku, dia kumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk menyekolahkan aku, bahkan sampai dia berhutang dengan keluarga Purba, dari lahir aku tidak pernah tau rasanya punya Ayah, sampai aku menikah baru aku tau, karena Papa Ricky sudah ku anggap Papaku sendiri! Sekarang Anda datang mengakui kalau aku adalah anakmu! Apakah itu adil??" ungkap Jonathan.


"Bahkan Mamaku tidak pernah menikah lagi karena karena katanya dia hanya mencintai satu pria dalam hidupnya, dan waktu itu aku sangat membenci ayahku, kakek dan nenekku sebelum meninggal juga bilang, kalau Ayahku pergi meninggalkan aku sejak dalam kandungan! Aku tidak tau mana yang benar!!" lanjut Jonathan.


"Jonathan, aku tidak pernah meninggalkan kalian, saat itu aku sudah mencari kalian tapi tidak ketemu, please Jonathan aku sangat merindukanmu, selama ini aku selalu tersiksa karena kehilangan kalian!" ucap Mr. Michael.


"Tidak! Mamaku sudah meninggal, tidak ada untungnya lagi kau datang atau tidak dalam hidupku, lagi pula aku sudah punya keluarga sendiri yang jelas-jelas menyayangiku!" cetus Jonathan.


Kemudian Jonathan bergegas keluar dari dalam ruangannya, meninggalkan Mr. Michael sendirian.


Jonathan berjalan cepat turun ke arah bawah, dia terus berjalan hingga keluar dari lobby kemudian menuju ke parkiran.


Saat ini hati dan perasaannya sangat sulit di gambarkan dengan kata-kata. Entah dia harus senang atau sedih, semua berbaur menjadi satu.


setelah sampai di parkiran, Jonathan langsung naik ke dalam mobilnya, dia melajukan mobilnya kencang menuju ke rumahnya.


Kezia yang baru selesai memasak itu heran melihat kedatangan suaminya yang lebih cepat dari biasanya itu.


"Eh, Bang Jo sudah pulang? Tumben cepat Bang, untung aku sudah selesai masaknya, hari ini aku masak semur daging lho sama pecel, kalau ini asli buatanku sendiri, aku lihat langsung di tutorial Internet!" celoteh Kezia.


Jonathan diam tidak merespon apapun, dia hanya duduk membuka sepatunya lalu segera masuk ke dalam kamarnya, menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Kezia yang berjalan mengikutinya sangat heran melihat sikap Jonathan hari ini.


"Bang Jo kenapa? Sedang ada masalah di kantor?" tanya Kezia yang kini duduk di sisi tempat tidurnya sambil membelai rambut Jonathan.


"Zia, bisa layani Abang sebentar?" tanya Jonathan.


Tanpa menunggu jawaban Kezia, Jonathan langsung membaringkan Kezia, kemudian menciumi seluruh wajah Kezia, Kezia yang masih heran membiarkan saja suaminya melampiaskan hasratnya.


Hingga Jonathan mulai mengarahkan miliknya masuk ke dalam tubuh Kezia, Kezia meringis menahan nyeri, biasanya Jonathan membuat Kezia terbuai dulu, namun hari ini Jonathan bersikap lain dari biasanya.


"Pelan-pelan Bang! Kasihan Dedeknya!" ucap Kezia memperingatkan.


Barulah Jonathan melambatkan temponya.


Setelah Jonathan berhasil menumpahkan hasratnya, dia kemudian berguling ke sisi Kezia, kemudian Jonathan menangis membelakangi Kezia, punggungnya berguncang meluapkan semua perasaannya.


Kezia lalu memeluk Jonathan dari belakang, di belainya rambut lurus suaminya itu dengan penuh perasaan.


"Bang Jo menangis saja kalau ingin menangis, tidak apa-apa kok laki-laki menangis sesekali!" ucap Kezia yang masih terus memeluk tubuh suaminya itu.


Jonathan lalu membalikan tubuhnya, menatap wajah istrinya yang selalu membuat hatinya teduh dan tenang.


****