Heart's Owner

Heart's Owner
Tetangga Baru



Pagi ini Jonathan sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk Kezia dan dirinya. Tak lupa dia juga sudah menyiapkan susu untuk Kezia. Karena Kezia sering lupa meminum susunya. Sudah dua hari mereka menempati rumah baru mereka itu.


Baru saja Jonathan menaruh sarapannya di meja makan, ada seseorang yang memeluknya dari belakang.


"Selamat Pagi Bang Jo sayang!" ucap Kezia sambil mengecup punggung Jonathan.


"Eh, istri Abang sudah bangun, kita langsung sarapan yuk!" ajak Jonathan sambil membalikan tubuhnya dan mencium mesra kening Kezia.


"Bang Jo rajin sekali buat sarapan, nanti siang gantian aku yang masak ya, Bang Jo mau di masakin apa?" tanya Kezia sambil duduk di kursi makannya.


"Masak yang menurut Kezia gampang saja, apapun yang Kezia masak Abang suka!" jawab Jonathan sambil mulai menyantap sarapannya.


"Berarti nanti siang Bang Jo pulang kan? Jadi aku tunggu di rumah saja ya!" ujar Kezia.


"Iya Zia, masaknya agak banyakan ya Zia, siapa tau Abang mau ajak Beni, itu juga kalau dia mau!" kata Jonathan.


"Iya Bang, tapi kalau masakan ku tidak enak kan malu-maluin Bang, atau sebagian aku pesan online saja ya Bang!" usul Kezia.


"Boleh Zia, jadi Kezia juga tidak capek kebanyakan masak, ya sudah Bang Jo berangkat dulu ya sayang!" Jonathan segera meneguk air putihnya di atas meja, lalu dia mulai berdiri dari duduknya.


"Hati-hati ya Bang!" ucap Kezia sambil berjinjit untuk mengecup bibir Jonathan.


Jonathan mengelus kepala Kezia. Lalu beralih ke perut Kezia yang kini terlihat sedikit membukit.


"Jaga dedek baik-baik, susunya jangan lupa di minum ya!" pesan Jonathan yang melangkah menuju garasi mobilnya.


"Bang Jo!" panggil Kezia saat Jonathan mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Iya sayang!" sahut Jonathan dari balik jendela mobilnya yang terbuka.


"I Love you!" seru Kezia.


"I Love you too!" balas Jonathan sambil melambaikan tangannya.


Mobil yang di kendarai Jonathan akhirnya berlaku dari hadapan Kezia.


Tak jauh dari depan rumah Kezia, ada tukang sayur keliling yang sedang berhenti dan di kerumuni oleh beberapa ibu-ibu.


Kezia langsung masuk ke dalam untuk mengambil uang, kebetulan dia bisa belanja tanpa harus ke pasar.


Kezia kemudian bergegas menuju ke tukang sayur itu. Dia mulai memilih-milih sayur dan daging.


"Bang Ayam satu ekor berapa?" tanya Kezia


"Lima puluh ribu Mbak!" sahut si tukang sayur.


Kezia berniat membuat ayam goreng dan sayur kangkung.


"Bumbu ayam goreng apa ya!" gumam Kezia.


"Ini mbaknya warga baru di sini ya, baru pindah ya Mbak, jarang lihat!" kata seorang Ibu.


"Eh, iya Bu, saya baru pindah kemarin!" sahut Kezia.


"Oh, kenalan deh, saya Bu Meli, rumahnya yang paling ujung itu!" kata Bu Meli sambil menunjuk ke arah rumahnya.


"Saya Bu Sari, orang-orang panggil saya Bu RT!" timpal Bu RT yang sejak tadi berdiri di situ.


"Oh, saya Kezia, istrinya Pak Jonathan!" sahut Kezia.


"Mbak Kezia mau masak apa nih?" tanya Bu Meli sambil melongok ke belanjaan yang di beli Kezia.


"Mau masak tumis kangkung dan ayam goreng, cuma bumbu ayam goreng apa ya Bu!" jawab Kezia tersipu.


"Wah Gampang Mbak Kezia, nanti ku ajari deh, tapi harus beli dulu bahan-bahannya, kunyit, bawang merah bawang putih, lada, ketumbar, kemiri, jangan lupa sereh dan daun jeruknya!" kata Bu Meli.


Kezia lalu membeli bahan-bahan yang di sebut oleh Bu Meli tadi.


Kalau ayam goreng enaknya pakai sambal, Mbak Kezia tidak beli cabai sekalian?" tanya Bu Meli lagi.


"Wah, Mbak Kezia ini batu menikah ya?" tanya Bu RT.


"Iya Bu, saya belum lama nikah, ini juga lagi hamil 3 bulan!" sahut Kezia.


"Oala, mau di masak kapan Mbak masakannya?" tanya Bu RT lagi.


"Sekarang Bu, nanti siang suami saya pulang makan siang!" jawab Kezia.


"Suaminya dekat ya Bu kerjanya, enaknya yang sering di kunjungi suami, suamiku malah pulang seminggu sekali!" cetus Bu Meli.


"Bu Meli, kita bantu Mbak Kezia masak yuk, sekalian belajar, boleh tidak nih Mbak kita bantu di rumahnya?" tanya Bu RT.


"Wah, dengan senang hati Bu, supaya saya juga belajar, dari pada lihat dari internet!" sahut Kezia antusias.


Akhirnya setelah selesai belanja, Bu RT dan Bu Meli ke rumah Kezia untuk membantu Kezia memasak makan siang, Kezia sangat senang mendapat tetangga baru yang perhatian padanya, mereka mulai berkutat di dapur untuk memasak.


"Mbak Kezia, suaminya kerja di mana?" tanya Bu Meli kepo.


"Di kantor properti yang di depan jalan raya itu Bu!" jawab Kezia.


"Wah, enak ya bisa kerja di kantor sebesar itu, perumahan ini kan juga developernya dari kantor itu, dengar-dengar pemiliknya itu dermawan dan murah hati, memberikan dp rumah minim dan angsuran yang terjangkau!" puji Bu Meli.


"Benar tuh kata Bu Meli, dulu uang kami juga tidak cukup untuk beli rumah, tapi pemilik kantor itu, memberikan keluasan buat kami, dp bisa di cicil kapanpun!" timpal Bu RT.


"Oh, begitu ya Bu!" ujar Kezia.


Iya Mbak, mana orangnya ganteng lagi walau sudah berumur, pokoknya nih kalau aku ketemu sama beliau, aku mau minta peluk sebentar saja!" tambah Bu RT.


"Aku juga Bu, waktu itu aku belum sempat salaman sama beliau, hanya melihatnya dari jauh, entah kapan bisa melihat beliau lagi!" lanjut Bu Meli.


'Pemilik kantor itu Papaku ibu-ibu!' batin Kezia.


Mereka terus mengajarkan Kezia membuat ayam goreng dan sambal, juga bumbu untuk tumis kangkung.


"Nanti minta resepnya ya Bu!" kata Kezia berbinar, saat masakannya hampir matang.


"Tenang saja Mbak, kalau mau resep apapun, tanya saja kami dan ibu-ibu yang lain!" sahut Bu RT.


"Kita makan bareng yuk Bu, sekalian!" tawar Kezia.


"Oh tidak usah Mbak, terimakasih, senang bisa saling membantu, kami makan di rumah saja sambil menunggu anak pulang sekolah!" tukas Bu RT.


Mereka lalu mulai berjalan ke arah luar, Kezia mengantarkannya sampai depan.


"Mbak Kezia, suaminya ganteng banget, mirip deh kayak artis!" cetus Bu Meli tiba-tiba saat dia melihat ada foto pernikahan yang terpajang di ruang tamu itu.


"Ah, Bu Meli bisa saja!" sahut Kezia tersipu.


Akhirnya Bu RT dan Bu Meli pulang ke rumah mereka masing-masing.


Kezia lalu mulai menghempaskan tubuh nya di sofa, rasanya lelah sekali, tapi hati senang.


Diablalu mulai menelepon Jonathan.


"Halo sayang!"


"Halo Bang, makanan sudah siap, jam berapa mau pulang?" tanya Kezia.


"Sebentar lagi Zia, ini ada Beni juga mau ikut, Papa Ricky juga!" jawab Jonathan.


"Papa Ricky?? Waduh gawat!" gumam Kezia.


"Memangnya kenapa Zia kalau ada Papa Ricky, dia kan mau coba masakan Kezia!" ujar Jonathan.


Kezia terdiam teringat pembicaraan ibu-ibu tadi mengenai pemilik kantor, kalau mereka tau pemilik kantor itu Papanya Kezia apa jadinya.


****