
Kezia baru saja mengeluarkan mobilnya, namun tubuh Jonathan gemetaran karena suhu tubuhnya terlalu tinggi.
Akhirnya Jonathan terduduk di pelataran rumah Ricky.
Lika langsung menghampiri Jonathan yang terlihat lemah dan pucat itu.
"Ya ampun Nak, kau pasti kurang istirahat selama ini! Lagian mau saja di kerjain Papa Ricky!" ujar Lika sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Jonathan.
"Huh! Kau ini baru saja jadi calon menantu sudah merepotkan begini, ayo berbaring dulu di sofa, biar aku telepon Dokter saja!" kata Ricky sambil memapah Jonathan ke sofa ruang tamu rumahnya itu.
Kezia langsung berjalan cepat menuju ke sofa ruang tamu itu, tempat di mana Jonathan berbaring.
"Bang Jo, apanya yang sakit Bang?" tanya Kezia panik.
"Kepala Abang pusing Zia, tidak bisa banyak ngomong lagi nih!" sahut Jonathan lirih sambil memejamkan matanya.
Lika langsung membuatkan susu jahe hangat untuk Jonathan, namun karena Jonathan lemas, dia kesulitan bangun dan minum minumannya, akhirnya Kezia lah yang menyuapinya dengan sendok.
"Minum Bang, habiskan, Bang Jo lagian sih, jaga kesehatan juga kali Bang!" gerutu Kezia sambil mengusap rambut Jonathan yang sebagian menutupi dahinya.
"Hmm..." gumam Jonathan yang masih memejamkan matanya menahan pusing di kepalanya.
Tak lama kemudian, seorang Dokter yang sebaya dengan Ricky datang dan memeriksa kondisi Jonathan.
"Gimana kondisi calon menantu masa depan saya Dok?" tanya Ricky yang terlihat cemas.
"Tekanan darahnya drop, trombositnya juga turun, sepertinya dia terkena tipus, suhu tubuhnya bahkan sangat tinggi, dia harus di rawat di rumah sakit!" jelas Dokter.
"Harus di rawat Dok? Memang separah apa kondisinya?" tanya Kezia khawatir.
"Lihat saja kulit dan bola matanya mulai berwarna kuning, ada indikasi dia terkena liver, mungkin karena tenaga yang terlalu banyak di keluarkan tidak berimbang dengan asupan gizi yang masuk ke dalam tubuhnya!" tambah Dokter.
"Kalau begitu, kita bawa sekarang juga dia ke rumah sakit! Kezia, mobil sudah siap kan? Biar Papa yang bawa mobilnya, kau temani saja dia!" Seru Ricky yang kini terlihat panik.
Akhirnya Jonathan malam itu juga di bawa ke rumah sakit terdekat.
Setelah di tangani di ruang UGD, Jonathan mulai dipindahkan keruang perawatan.
Ricky memberikan fasilitas ruang rawat VIP untuk Jonathan, calon menantu masa depannya.
Dua orang perawat nampak sedang memasang infus di tangan Jonathan.
"Papa sih pakai kasih syarat yang berat segala buat Bang Jo! Dia jadi drop begini kan!" sungut Kezia.
"Maafin Papa Kezia, kalau tidak begitu kan, mana tau dia sungguh-sungguh terhadapmu atau tidak!" kilah Ricky.
"Sudahlah Kezia, yang penting kan sekarang Papamu sudah merestui kalian, jadi kau tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi berhubungan dengan Jo!" tambah Lika.
"Iya Bu!" sahut Kezia sambil mengelus-elus rambut Jonathan.
"Kezia, nanti Papa suruh Nando menemanimu di rumah sakit ya, kalau kau hanya berdua dengan marketing itu, nanti kalian berbuat aneh-aneh lagi!" ujar Ricky.
"Papa apaan sih? Orang sakit saja masih di curigai, asal Papa tau ya, Bang Jo itu tidak pernah sedikitpun menyentuhku, walaupun ada kesempatan, bahkan untuk berciuman saja, dia selalu minta ijin padaku, dia sangat menghormatiku!" cetus Kezia.
"Apa? Jadi kau sudah pernah berciuman dengan dia?" tanya Ricky melotot.
"Tidak juga, aku yang lebih sering mencium dia!" kilah Kezia.
"Sudah! Sudah! kenapa kalian jadi ribut sendiri? Pa, Ayo kita pulang, biarkan Kezia yang menjaga Jo di sini!" sergah Lika sambil menarik tangan suaminya keluar dari ruangan itu.
Setelah Papa dan Ibunya pulang, Kezia menyandarkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang rawat Jonathan. Dia memandangi tubuh kekasihnya itu yang kini terkulai lemah.
Perlahan Kezia mendekati ranjang Jonathan, lalu duduk di bangku yang ada di sisi ranjang itu, sambil mengelus pipi Jonathan yang kini terlihat pucat.
"Bang Jo, kasihan amat sih kamu Bang, gara-gara ulah Papa kamu sampai menderita begini, untung Papa sudah merestui kita ya Bang, kalau tidak ... Aku ajak kamu kawin lari deh!" gumam Kezia sambil memandangi wajah Jonathan.
"Zia, haus Zia ... mau minum Abang Zia!" lirih Jonathan.
Jonathan minum sedikit demi sedikit di bantu Kezia, tiba-tiba Jonathan tersedak, hingga air minum yang di sodorkan Kezia tumpah ke bajunya.
"Yah Bang, basah deh bajunya!" ujar Kezia sambil mengelap bibir Jonathan dengan tissue.
Kezia langsung membantu Jonathan membuka bajunya, namun dia lupa membawa baju ganti Jonathan karena tadi langsung ke rumah sakit.
"Sebentar ya Bang, aku mau minta baju ganti dulu sama suster jaga!" kata Kezia.
Pada saat Kezia akan berdiri dari tempatnya, Jonathan menarik tangannya.
"Jangan tinggalin Abang Zia, di sini saja!" kata Jonathan.
"Tapi Bang, nanti Abang malah tambah masuk angin kalau tidak pakai baju!" sergah Kezia.
"Kezia bobo saja di dada Abang, pasti hangat, nanti Bang Jo telepon Andri, minta tolong bawakan baju ganti Abang!" ucap Jonathan yang masih memejamkan matanya.
Kezia menatap dada bidang Jonathan yang di tumbuhi bulu-bulu halus itu, jantungnya berdegup sangat cepat, bulu kuduknya meremang seketika.
Perlahan, Kezia merebahkan kepalanya di dada jonathan, tangan Jonathan langsung memeluk kepala Kezia. Ada debaran jantung yang tak beraturan yang Kezia dengar dan rasakan di dada Jonathan.
"Badannya masih panas Bang!" ujar Kezia.
"Iya, tapi sebentar lagi pasti turun panasnya karena di peluk Kezia!" sahut Jonathan lirih.
"Maafin Papa ya Bang, gara-gara Papa Bang Jo jadi sakit begini!" ucap Kezia.
"Tidak apa-apa Zia, yang penting sekarang Bang Jo tenang, sudah dapat restu dari calon mertua masa depan, Bang Jo bahagia banget!" bisik Jonathan.
Drrrt ... Drrt ... Drrrt
Ada suara ponsel bergetar. Kezia hendak mengangkat kepalanya, tapi tangan Jonathan menahannya.
"Jangan beranjak Zia, Bang Jo butuh Kezia, itu ponsel Abang yang bunyi!" kata Jonathan.
"Ponselnya di mana Bang?" tanya Kezia.
"Ada di saku celana Abang!" jawab Jonathan.
"Angkat lah Bang, siapa tau penting!" ujar Kezia.
"Bang Jo lemes banget, Kezia mau ambil di saku celana Abang?" tanya Jonathan lagi.
"Ya elah Bang, segala ponsel di taro di saku celana, nanti kalau aku yang ambil, kesentuh yang lain deh!" sungut Kezia.
"Tidak apa-apa sentuh sedikit, lagian Abang lemes juga, kepala masih pusing!" kata Jonathan.
Akhirnya Kezia perlahan mengambil ponsel Jonathan di dalam saku celananya.
Ponsel itu masih bergetar.
"Bang, Mbak Ratna yang telepon Abang!" ujar Kezia.
"Kezia angkat saja!" kata Jonathan.
"Tapi Bang ..."
"Angkat saja Zia, kan Kezia calon istri masa depan Abang!" ucap Jonathan.
Perlahan Kezia pun mengusap layar ponsel Jonathan.
****
Jangan lupa Author minta vote dan like nya ya ...
Trimakasih ...