
Suara mobil Jonathan terdengar di depan rumah Kezia. Dengan tergopoh-gopoh Kezia membuka pintu dan keluar dari rumahnya.
"Kalian sudah sampai? Cepat sekali!" seru Kezia.
Jonathan, Beni dan Ricky lalu turun dari dalam mobil.
"Sudah siap Zia makanannya?" tanya Jonathan.
"Siap Bang! Mas Beni, ayo masuk!" ajak Kezia.
Jonathan dan Beni lalu masuk ke dalam rumah, sementara Ricky masih melihat-lihat proyek perumahannya yang kini sudah mulai padat penghuni itu.
"Ayo masuk Pa! Jangan di luar, cuacanya panas, Papa, ayo masuk! Ngapain juga nengok-nengok keluar!" ujar Kezia.
"Ternyata proyek yang Papa buat ini sekarang mulai ramai, tidak sia-sia Papa promosi waktu itu!" sahut Ricky.
"Iiih Papa, bukannya masuk, ayo makan dulu, tuh Bang Jo dan Mas Beni sudah menunggu!" Kezia lalu menarik tangan Ricky untuk masuk ke dalam rumahnya.
Mereka kemudian duduk menghadap di sebuah meja makan, dengan makanan yang siap tersaji.
"Bagaimana Jo, Zia? Kalian betah tinggal di sini?" tanya Ricky sambil mulai menyantap makanannya.
"Betah Pa, di sini kita lebih bisa bersosialisasi, pak RT nya juga ramah!" sahut Jonathan.
"Syukurlah kalau kalian betah, Ben, kapan kau menyusul mereka, nanti aku siapkan satu unit rumah buatmu, tenang saja, cicilan suka-suka!" tawar Ricky.
"Kebetulan nih Pak, beberapa hati ke depan saya mau ambil cuti, saya dan keluarga berencana akan melamar Ratna!" kata Beni.
"Serius Ben? Akhirnya jadi juga kau melamar Ratna!" ujar Jonathan antusias.
"Iya Jo, orang tua Ratna juga sudah menurunkan syarat, rencana setelah menikah, dia akan ku boyong ke Jakarta, karena aku kan kerja di Jakarta!" jelas Beni.
"Aku senang mendengarnya, semoga kalian bahagia, seperti aku dan Bang Jo!" sahut Kezia.
"Silahkan kau ambil cuti sesuai kebutuhanmu Ben, aku mengijinkanmu!" ujar Ricky.
"Terimakasih Pak Ricky! Terimakasih!" ucap Beni senang.
"Zia, kau beli makanan ini di mana? Enak!" ujar Jonathan.
"Iya Zia, enak ini!" lanjut Ricky.
"Itu aku yang masak tau, kecuali rendang aku baru pesan lewat online!" sahut Kezia.
"Jadi, ayam goreng dan tumis kangkung ini buatan Kezia? Sambalnya juga?" tanya Jonathan nyaris tak percaya.
"Iya, kenapa? Tidak percaya ya kalau aku bisa masak?!" cetus Kezia cemberut.
"Bukan begitu sayang, tapi cepat sekali kau belajar!" ucap Jonathan.
"Biasanya apa yang kau buat selalu tidak enak!" ujar Ricky.
"Dih Papa, tapi sekarang suka kan? Makanya jangan suka mencela orang!" sungut Kezia.
"Hmm, kalau begini terus bisa tambah gemuk si Jo!" goda Beni.
"Tidak apa-apa gemuk juga, asal di sayang istri tiap hari!" sahut Jonathan.
Setelah mereka selesai menyantap makan siang, Jonathan masih terlibat obrolan dengan Beni, sementara Ricky keluar dari rumah untuk meninjau proyek perumahannya yang kini hampir semua terpenuhi.
"Papa mau kemana?" tanya Kezia ketar ketir karena takut Ricky akan bertemu dengan ibu-ibu komplek.
"Keluar sebentar Zia, mau lihat-lihat prospek komplek ini, Papa ingin membuat fasum dan arena bermain anak-anak di tanah yang masih kosong!" jelas Ricky.
"Sudah deh Pa jangan macam-macam, buang-buang waktu tau tidak, bukannya Papa harus kembali ke kantor ya?!" sergah Kezia.
Ricky kemudian langsung berjalan keluar melihat-lihat tanpa memperdulikan lagi larangan Kezia.
Kezia masuk ke dalam dengan pasrah.
Kebetulan di jalan itu, Bu RT lewat naik motor sambil membonceng anaknya yang baru pulang sekolah, melihat Ricky ada di situ, Bu RT langsung menghentikan motornya.
"Pak Ricky? Waduh, suatu kehormatan Bapak berkunjung ke komplek ini, jadi kami bisa melihat dari dekat pemilik komplek ini!" ujar Bu RT antusias.
Bu RT lalu mengeluarkan ponselnya dan langsung menelepon seseorang.
"Halo Mbak Meli, di sini ada Pak Ricky lho!" ujar Bu RT semangat.
"Di mana Bu?" tanya Bu Meli.
"Ini di dekat rumah Mbak Kezia, tolong beritahu ibu-ibu yang lain ya, jarang-jarang lho ada momen seperti ini!" jawab Bu RT.
"Siap meluncur Bu!" sahut Bu Meli sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
Ricky hanya tertegun kebingungan.
"Pak Ricky jangan pergi dulu, kenalkan, saya Bu RT di sini, rencana saya mau minta foto bareng dengan Pak Ricky bersama para Ibu-ibu di komplek!" kata Bu RT.
"Tapi waktu saya tidak banyak Bu, saya harus segera kembali ke kantor saya!" tukas Ricky.
"Sebentar saja Pak, terus terang nih sudah lama kita mengharapkan Pak Ricky datang ke komplek ini, Pak Ricky yang dermawan dan murah hati, semua ibu-ibu mengagumi anda Pak!" jelas Bu RT.
Tak lama Bu Meli dan beberapa ibu-ibu komplek mulai berdatangan, Ricky bertambah bingung.
Apalagi mereka berebut bersalaman dengan Ricky.
"Wah, ternyata aslinya ganteng juga Pak Ricky, walaupun sudah tua ya Pak, masih kelihatan gagah!" puji Bu Meli.
"Ayo Pak kita mulai foto-fotonya!" ujar Bu RT.
Mereka lalu membentuk barisan dengan Ricky ada di tengah-tengah, kemudian di foto beberapa kali oleh anaknya Bu RT.
Dari dalam rumah Kezia, Jonathan dan Beni bingung mendengar suara keributan di luar, mereka lalu segera keluar dari rumah dan melihat pak Ricky yang sedang di kerumuni ibu-ibu.
"Tuh kan Papa keras kepala sih, di bilang jangan keluar!" sungut Kezia.
Sementara Ricky mulai di tanyain oleh para Ibu-ibu.
"Pak Ricky, dalam rangka apa Bapak datang ke komplek ini?" tanya Bu RT.
"Dalam rangka makan siang di rumah anak saya!" jawab Ricky.
"Wah, anaknya Pak Ricky ada di komplek ini juga lho!" seru Bu Meli. Ibu-ibu yang lain bersorak Sorai dan bertepuk tangan.
"Di mana rumah anaknya Pak, dan siapa nama anaknya?" tanya beberapa ibu-ibu.
"Itu rumahnya yang paling asri, anak saya Kezia namanya!" jawab Ricky sambil menunjuk ke arah Rumah Kezia.
"Hah? Jadi Mbak Kezia itu anaknya Pak Ricky? Oalaa, tadi kami habis dari sana Pak, membantu Mbak Kezia memasak, karena dia tidak tau bumbu ayam goreng dan belum bisa membuat sambal!" cetus Bu RT.
"Apa? Jadi masakan yang tadi itu atas bantuan ibu-ibu, bukan Kezia sendiri yang memasaknya?" tanya Ricky.
"Iya Pak, Kezia membantu memotong ayam dan menyiangi kangkung, lalu kami deh yang masak!" jelas Bu Meli.
Beni dan Jonathan yang kebetulan berdiri tak jauh dari situ menoleh ke arah Kezia, wajah Kezia merah padam menahan malu.
Kemudian dengan santainya Ricky berjalan ke rumah Kezia dan langsung masuk ke dalam rumah itu.
****