
Jonathan duduk di kursi kebesarannya sambil menatap ke layar komputernya.
Dia mempelajari sistem kerja yang akan dia jalani, juga memperluas jaringan komunikasi melalui media sosial, mempelajari target pemasaran untuk properti sesuai dengan tipe dan daerah.
Tok ... Tok ... Tok ...
Tiba-tiba pintu ruangan Jonathan di ketuk dari luar.
"Masuk!" seru Jonathan.
Seorang gadis cantik berpakaian formal masuk dan tersenyum ke arah Jonathan.
"Selamat Pagi Pak Jo, saya Dita sekertaris anda yang baru!" kata wanita yang bernama Dita itu memperkenalkan diri.
"Sekertaris? Maaf, saya tidak membutuhkan sekertaris, saya terbiasa bekerja sendiri!" sergah Jonathan.
"Tapi Pak, saya di utus ke sini untuk menjadi sekertaris Bapak!" ujar Dita.
"Siapa yang mengutusmu?" tanya Jonathan.
"Pak Arif, asisten pribadinya Pak Ricky!" jawab Dita.
Tak lama kemudian, Pak Arif muncul dari arah pintu ruangan Jonathan.
"Pak Jo, sekarang kan jabatan anda itu direktur marketing, Direktur itu sering mengadakan meeting dengan dewan direksi, jadwal meeting lumayan padat, apalagi saat menghadapi klien dan meninjau lapangan, jadi anda memang perlu sekertaris!" jelas Pak Arif.
"Oh, begitu ya Pak! Bisakah saya minta sekertaris laki-laki? Kalau dia terus yang berhubungan dengan saya, bisa-bisa pacar saya cemburu Pak!" ujar Jonathan.
Pak Arif tertawa mendengar ucapan Jonathan.
"Pak Jo ini ada-ada saja, Non Kezia juga sangat paham dengan jabatan Pak Jo sekarang, dia tidak mungkin cemburu dengan seorang sekertaris Pak!" kata Pak Arif tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, saya terima dia jadi sekertaris saya!" jawab Jonathan akhirnya.
"Nah, begitu dong Pak Jo, kalau begitu saya kembali ke ruangan saya dulu!" Pak Arif segera beranjak keluar dari ruangan Jonathan.
Setelah Pak Arif pergi, Jonathan menatap tajam ke arah Dita, sekertaris barunya.
"Kenapa kau masih berdiri di situ? Kalau tidak ada keperluan lagi kau boleh keluar dari ruangan ku!" ujar Jonathan.
"Baik Pak Jo, sekedar mengingatkan, nanti siang akan ada pertemuan dengan pemborong hunian cluster, Pak Jo di minta Pak Ricky untuk mendampingi beliau siang ini di jam makan siang!" kata Dita.
"Baik, nanti siang saya langsung menemui Pak Ricky!" sahut Jonathan.
"Kalau begitu saya pamit keluar Pak!" ujar Dita.
"Silahkan!"
Dita segera keluar dari ruangan Jonathan.
Baru beberapa menit, sebuah ketukan pintu di ruang Jonathan kembali terdengar.
"Masuk!" seru Jonathan.
Rita, manager marketing masuk ke dalam ruangan Jonathan.
"Pak Jo, ini saya mau minta tanda tangan untuk pameran di mall Minggu ini!" ujar Rita menunduk, tangannya menyodorkan sebuah berkas.
"Mbak Rita, jangan panggil saya seperti itu dong, walau bagaimana Mbak Rita itu kan atasan saya dulu!" sergah Jonathan.
"Tapi, kan sekarang saya bawahan Pak Jo!" kata Rita.
"Jangan sungkan begitu Mbak Rita, saya tetap menghormati Mbak Rita sebagai leader saya, sebagai atasan saya, saya banyak belajar dari Mbak Rita lho! Panggil saya Jo saja!" ucap Jonathan.
Kemudian Jonathan mulai tanda tangan di berkas tersebut, namanya sudah tercetak dalam kertas itu, Jonathan, Direktur Marketing.
Rita tetap menundukkan wajahnya, seolah menyembunyikan perasaannya.
"Maaf, saya permisi keluar, terimakasih tanda tangannya!" ujar Rita yang langsung beranjak meninggalkan tempat itu.
Rita terus berjalan cepat menuju ke lantai dua, di koridor secara tak sengaja dia bertemu dengan Beni.
"Mbak Rita, dari mana?" tanya Beni.
"Dari ruang Direktur!" jawab Rita singkat.
"Iya Ben, kau benar, Jo memang tidak sombong, itulah yang membuat aku ..." tiba-tiba Rita menghentikan ucapannya.
"Mbak Rita kenapa?" tanya Beni.
"Tidak, lupakan! Aku duluan ya Ben!" Rita langsung pergi meninggalkan Beni yang masih terlihat heran menatapnya.
****
Sore ini adalah sore terakhir Jonathan di kos nya, setelah pulang dari kantor dan menyelesaikan tugas kuliah onlinenya, Jonathan mengemasi baju-baju dan barangnya, malam ini dia akan pindak ke apartemen barunya.
"Kau jadi pindah sekarang Jo?" tanya Bu Yani, ibu kosnya.
"Ya jadi lah Bu, ini juga baru sempat beres-beres!" jawab Jonathan sambil memasukan beberapa pakaiannya ke dalam tas besar.
"Yah Jo, padahal sejak kau ngekos disini, omset kos-kosanku naik, kosan wanita depan pada berebut mau kos di sana karena melihat ada cowok ganteng yang ngekos di sini!" ujar Bu Yani.
"Bu Yani, nanti juga dapat rejeki, kan banyak di sini yang kos ganteng-ganteng selain saya!" kata Jonathan.
"Tapi kan kamu yang paling ganteng Jo, yah bakal sepi deh nih kosan ku!" ucap Bu Yani sedih.
Jonathan segera keluar dari dalam kamar kosnya setelah semua barangnya selesai di kemas.
"Saya pamit ya Bu, trimakasih selama ini memberikan tempat buat saya tinggal!" ucap Jonathan.
"Iya Jo, kasih ibu kek Jo, alamat apartemen kamu, siapa tau kalo ibu kangen, bisa main ke tempat kamu!" kata Bu Yani.
Jonathan langsung menulis alamat apartemennya di sebuah kertas, lalu menyodorkannya ke arah Bu Yani.
"Ini Bu, kapan-kapan main ya Bu ke tempat saya, Oya, kalau ketemu Andri dan Mbak Rosi tolong kasih alamat saya ini Bu!" ujar Jonathan yang langsung melangkah pergi meninggalkan kos-kosannya.
Jonathan langsung menaruh barang-barangnya di bagasi mobilnya yang terparkir di depan cafe Rosi yang kini sudah hangus terbakar.
Setelah itu dia langsung melajukan mobilnya menuju ke tempat tinggalnya yang baru, sebuah apartemen modern, salah satu produk dari properti Ricky juga.
Jarak dari tempat kos Jonathan yang lama ke apartemennya tidak terlalu jauh, hanya berkisar 15 menit perjalanan.
Apartemen dengan tinggi 20 lantai itu nampak berdiri dengan megah.
Setelah memarkir mobilnya, Jonathan langsung membawa barangnya naik ke lantai 7 apartemennya.
Saat membuka pintu, Jonathan terperangah melihat desain dalam apartemennya tersebut.
Ada ruang tamu dengan sofa yang elegan dengan sebuah tv 50 inch di depannya, ruangan itu langsung bersambung ke kitchen set yang modern dan minimalis, lengkap dengan semua fasilitas untuk masak, ada kulkas, dispenser dan kompor, ada sebuah meja makan kaca di sudut ruangan itu.
Di sebelahnya ada kamar dengan tempat tidur ukuran besar dengan sebuah lemari dan meja rias, di sudut kamar itu terdapat toilet yang sangat bersih dan estetik dengan sebuah shower. Ada sebuah meja kerja yang sudah di lengkapi dengan sebuah laptop, di dekat tempat tidur itu.
Kring ... Kring ...
Jonathan terkejut dan hampir melompat saat mendengar suara telepon dari sudut meja ruang tamunya.
Dia langsung mengangkat telepon di apartemennya itu.
"Halo ..."
"Halo, calon menantuku, bagaimana apartemennya? Kau suka?" tanya Ricky yang ternyata si penelepon itu.
"Suka sekali Pak! Saya malah merasa tidak pantas mendapat fasilitas seperti itu, bahkan di kamar kos saya dulu tidak ada AC nya, di sini semua sudah terpasang, tinggal di nikmati!" jawab Jonathan.
"Itu belum seberapa Jo, itu baru fasilitas dari perusahaan, belum fasilitas dari calon mertua!" ucap Ricky.
Jonathan membuka mulutnya lebar mendengar ucapan dari Ricky.
****
Yuk ... Yuk ... Yuk ...
Yang suka cerita ini boleh di bagikan dan di beritahu pada teman yang lain ..
Jangan lupa dukungannya selalu ...
Trima kasih ...