Heart's Owner

Heart's Owner
Akhirnya Ketahuan



Hari ini hari Sabtu, semua libur, Given dan Gavin terlihat sedang bermain kelereng bersama Jonathan di halaman rumahnya yang luas itu.


"Bang Jo!" panggil Kezia yang muncul dari arah pintu depan.


Jonathan langsung bergegas menghampiri istrinya itu.


"Ada apa sayang, Abang lagi seru main sama mereka, jadi teringat masa kecil dulu!" ujar Jonathan.


"Perutku mual Bang!" sahut Kezia.


"Bang Jo buatkan susu hamil ya, Kezia duduk saja dulu di sofa!" Jonathan segera membimbing Kezia untuk duduk di sofa.


"Minum susu malah tambah mual Bang!" sergah Kezia.


"Tidak dong sayang, susu buat Kezia dan dedek bayinya sehat, sebentar Bang Jo buatkan susu dulu di dapur!" tanpa menunggu jawaban Kezia, Jonathan langsung bergegas pergi ke dapur.


Tak lama kemudian Jonathan sudah kembali sambil membawa segelas susu hangat.


Jonathan langsung membantu Kezia meminum susu itu. Given dan Gavin kemudian muncul di hadapan mereka.


"Bang Jo, permainan kita kan belum selesai!" kata Gavin.


"Iya nih Bang Jo, kenapa sih manjain Kak Kezia terus, dia kan sudah besar!" protes Given.


"Kak Kezia kan lagi lemes, kasihan dong kalau Bang Jo cuekin, lagian kita sudah lama mainnya dari pagi, sekarang panas sudah siang, nanti kulit kita jadi gosong kalau main panas-panas!" ucap Jonathan.


"Ya sudah, kita lanjutkan nanti sore ya Bang!" ujar Given.


"Siap boss kecil! Nanti jam 4 an kita main kelereng lagi di depan!" sahut Jonathan.


"Yessss!!" seru mereka bersamaan.


Kemudian terdengar suara pintu gerbang yang terbuka. Ternyata Ricky dan Lika sudah pulang dari Malaysia.


Saat mereka turun dari mobil yang di kemudikan oleh supir, Given dan Gavin, juga Tasya menyambut mereka pulang.


"Mana Pa oleh-olehnya??" tagih Given dan Gavin.


"Tuh ada di tas besar, sekalian kalian bantu bawa koper Papa!" titah Ricky.


Anak-anak itu dengan semangat menggotong koper dan membawa sebuah tas besar.


"Lho, Kezia? Wajahmu kelihatan pucat, kau sakit?" tanya Lika yang melihat Kezia duduk di sofa ruang tamu itu bersama dengan Jonathan di sebelahnya.


"Tidak Bu, cuma kecapean sedikit, semalam Bang Jo ajak anak-anak itu makan di luar, pulangnya langsung main di mall, sampai malam baru pulang!" jelas Kezia.


"Papa dan Ibu istirahat saja dulu, kan capek dari jauh!" ucap Jonathan.


"Ayo Bu, kita ke kamar istirahat dulu!" kata Ricky sambil menggandeng istrinya itu.


"Nanti makannya aku antar deh ke kamar, Mbok Narti sudah masak banyak hari ini!" tambah Jonathan.


Setelah Ricky masuk ke kamarnya, Jonathan lalu bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk mertuanya itu.


"Mbok Narti, aku pinjam nampan besar, Papa dan Ibu makan siang di kamar saja, kasihan mereka kelihatan lelah habis perjalanan jauh!" ujar Jonathan.


"Iya Bang Jonathan, biar Mbok yang siapkan!" sahut Mbok Narti yang dengan sigap langsung menyiapkan makanan untuk Ricky dan Lika.


"Sini biar aku saja yang antar Mbok!" Jonathan langsung mengambil nampan yang sudah di siapkan Mbok Narti itu.


Kemudian dia langsung ke kamar Ricky.


"Masuk!" terdengar suara Ricky dari dalam saat Jonathan mengetuk pintu.


"Duh ini mantu kita perhatian sekali Pa, sini Nak, taruh di meja saja, menantu kesayangan ibu!" puji Lika.


"Bukan kesayanganmu saja, kesayanganku juga!" protes Ricky.


"Iya iya, kau selalu menang lah Pa!" sahut Lika.


"Bahkan Kezia saja tidak pernah bersikap begini, trimakasih ya Jo!" ucap Ricky.


"Iya Pa, dulu waktu Mamaku masih hidup, aku juga sering mengambilkan makanan untuk beliau, melihat Papa dan Ibu aku jadi merasa punya orang tua!" ucap Jonathan.


Setelah memberikan makan siang ke kamar Ricky, Jonathan kemudian keluar dari kamar itu.


Perlahan Jonathan mengangkat istrinya itu ke dalam gendongannya. Dia berniat memindahkan Kezia ke atas, ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, dengan sangat hati-hati Jonathan membaringkan Kezia di tempat tidurnya.


Dia juga membaringkan dirinya di samping Kezia.


Sejuknya udara kamar yang terpasang AC membuat Jonathan agak mengantuk. Tak lama kemudian Jonathan sudah jatuh tertidur menyusul Kezia.


Tok ... Tok ... Tok ...


Terdengar suara ketukan pintu dari kamar Kezia. Jonathan yang entah sudah berapa lama tertidur nampak terkejut, Kezia juga langsung melompat dari tempat tidurnya.


"Masuk!" teriak Kezia dari dalam.


Ceklek!


Given masuk ke dalam kamar lalu menghampiri Kezia.


"Ada apa lagi kau kesini Ven? Mau ajak Bang Jo main lagi?!" tanya Kezia ketus.


"Bukan Kak, Aku main sama Bang Jo kan nanti jam 4, sekarang batu jam 3!" sahut Given.


"Terus kenapa kamu kesini?" tanya Kezia lagi.


"Kak Kezia sama Bang Jo di panggil Ibu tuh, di depan!" jawab Given yang kemudian langsung keluar dari kamar itu.


Jonathan yang sudah bangun langsung membasuh wajahnya di wastafel, Kezia juga membereskan pakaiannya yang kusut, setelah itu mereka segera keluar.


Ricky dan Lika nampak duduk di sofa ruang keluarga itu. Jonathan dan Kezia ikut duduk bergabung dengan mereka.


"Kata Given, Papa dan Ibu memanggil kami? Ada apa?" tanya Kezia.


"Tadi Ibu menemukan kemasan susu hamil di meja dapur, apakah itu milikmu Kezia? Kata Mbok Narti Jo yang selalu membuat susu di dapur!" ucap Lika.


Jonathan dan Kezia tersentak kaget mendengar ucapan Lika. Mereka saling berpandangan.


"Ayo jawab Ibu, benarkan itu milik Kezia?" tanya Lika.


Sementara Ricky sejak tadi hanya diam saja tanpa berkomentar apapun.


"Iya Bu, itu memang milik Kezia, saat ini Kezia sedang mengandung anak aku, usianya sudah sekitar dua bulanan!" jawab Jonathan jujur. Sementara Kezia menundukan wajahnya.


"Ada kabar sebesar ini kenapa kalian menyembunyikannya dari kami? Kenapa kalian tidak bilang sejak awal?" tanya Lika lagi.


"Maafkan kami Bu, rencananya kami akan bilang ke Ibu dan Papa, tapi tunggu saat yang tepat!" sahut Kezia.


"Saat yang tepat apa maksudmu?" cecar Lika.


"Aku takut Papa jadi sedih, karena dia akan jadi kakek, bukankah Papa selalu ingin orang lain menganggapnya muda?!" jawab Kezia.


Untuk beberapa saat lamanya mereka saling diam dengan pikiran masing-masing.


Tiba-tiba Ricky berdiri, lalu menghampiri Kezia dan Jonathan, dia memeluk Kezia juga Jonathan dengan erat.


"Selamat ya Nak, akhirnya kau akan merasakan jadi orang tua, jaga kandunganmu baik-baik, titip cucu Papa biar dia selalu sehat!" ucap Ricky dengan suara agak gemetar.


Lalu tanpa menoleh lagi dia menggandeng tangan Lika kembali menuju ke kamarnya.


Lika yang sangat memahami hati suaminya merengkuh bahu Ricky yang kini wajahnya nampak sendu.


"Walaupun kau akan jadi kakek yang akan memiliki cucu, tapi bagiku kau tetap suami yang gagah dan perkasa, sedikitpun rasa cintaku tidak berkurang untukmu!" bisik Lika mencoba menghibur Ricky.


"Iya sayang, kini aku harus mengakui kalau aku sudah benar-benar menjadi tua, aku akan memiliki cucu, rambutku akan seluruhnya beruban!" ucap Ricky.


"Kita akan menua bersama-sama!" balas Lika.


Kemudian Lika mulai mengecup bibir suaminya itu, semakin lama semakin dalam, hingga mereka larut dalam suasana, dan Lika perlahan mulai membuka kemeja yang dikenakan Ricky, semua pakaian suaminya itu dia lucuti dan mereka mulai bergumul dalam gelora cinta.


"Tuh kan benar, kau masih sangat perkasa dan luar biasa, membuat aku selalu kuwalahan menghadapi mu!" bisik Lika.


"Kau juga istri yang sangat luar biasa, I Love you today and forever!" ucap Ricky yang kini sangat bergairah.


****