Heart's Owner

Heart's Owner
Tetap Semangat



Jonathan masuk kesebuah lobby hotel bintang lima di Singapore, sebuah fasilitas penginapan yang di sediakan oleh perusahaan.


Setelah melakukan administrasi, Jonathan langsung naik menuju ke kamarnya.


Dia menghempaskan tubuh letihnya setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.


Hawa sejuk dari pendingin ruangan membuat Jonathan mengantuk, tak lama kemudian dia pun memejamkan matanya.


Kring ... kring ... kring ...


Suara jam Beker mengagetkan Jonathan, dia sengaja membawa jam Beker nya untuk membangunkannya.


Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Jonathan buru-buru bangun dari tidurnya dan beranjak mandi, karena dia ada janjian dengan seseorang di lobby hotel.


Setelah selesai, Jonathan bergegas pergi keluar kamar dan langsung menuju lobby hotel yang nampak eksklusif tersebut.


"Hai, kamu Jonathan bukan? Utusan dari perusahaan propertinya Pak Ricky!" sapa seorang pria yang bertubuh tinggi dan tampan, dengan kulit putih khas Asia timur, bermata agak sedikit sipit.


"Ya, aku Jonathan dari Jakarta, ini dengan Pak Mario?" tanya Jonathan sambil menjabat tangan pria di hadapannya.


"Ya aku Mario, tapi kau jangan memanggilku Pak, usia kita mungkin tidak berbeda jauh!" sahut Mario.


Mereka lalu duduk di sofa lobby itu.


"Malam ini aku akan mentraktirmu, untuk menyambut kedatangan mu, tapi mulai besok, kau harus full ikut training dan belajar banyak, kata Pak Ricky, kau marketing potensial yang dia punya!" tutur Mario.


"Ah, Pak Ricky terlalu berlebihan, bahkan aku belum lama kerja di tempatnya!" jawab Jonathan.


Mereka lalu berjalan menuju ke sebuah restoran mewah yang terletak tidak jauh dari hotel, restoran bintang lima yang menyayikan masakan khas oriental.


"Kau suka masakannya Jo?" tanya Mario.


"Enak, aku jarang makan seenak ini!" jawab Jonathan.


"Menurut data yang di kirim dari kantormu yang di Jakarta, kau ini belum menikah ya Jo, dan kau sedang melanjutkan kuliah saat ini, benar begitu?" tanya Mario lagi.


"Benar sekali, aku ambil kuliah S2 jurusan management Bisnis, aku mau sukses kelak, untuk membanggakan kekasihku!" jawab Jonathan.


Mario tertawa mendengar pernyataan Jonathan yang begitu polos dan lugas.


"Hahaha, pasti kekasihmu akan bangga padamu, kapan-kapan kau harus mengenalkannya padaku!" ujar Mario.


"Tidak akan, nanti kau akan naksir lagi!" sahut Jonathan.


Mario kembali tertawa sambil menepuk bahu Jonathan.


"Kau ini lucu juga Jo, jarang aku mendapat teman sepertimu! Apa kau tau, Pak Ricky, owner di perusahaan mu itu mempunyai seorang anak gadis yang cantik?" tanya Mario.


"Ya aku tau, bahkan dia satu kampus denganku, tapi aku tidak pernah bertemu dengannya!" jawab Jonathan.


"Kau tau, pak Ricky mau menjodohkan aku dengan anak gadisnya itu, karena Ayahku adalah rekan bisnis beliau, tentu saja aku merasa senang!" kata Mario.


"Oya? Kau pernah bertemu dengannya?" tanya Jonathan.


"Tidak, aku hanya di berikan fotonya oleh Papanya, dan aku rasa, aku telah jatuh cinta padanya, makanya aku sangat ingin ke Indonesia untuk menemuinya dan berkenalan dengannya!" jelas Mario.


Jonathan hanya menganggukan kepalanya sambil menikmati santap malamnya.


****


Setelah pertemuannya dengan Mario, Jonathan kembali lagi ke hotel di mana tempat dia bermalam, besok dia akan menghadapi hari-hari belajar dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas profesinya sebagai marketing eksekutif.


Sambil merebahkan tubuhnya, Jonathan mulai menekan tombol ponselnya, dia ingin menelepon Kezia, sang pujaan hatinya.


"Halo Bang Jo! Kau sudah sampai!? Menginap dimana??" suara merdu mulai terdengar di telinga Jonathan.


"Hei, sayangku ini sudah kangen rupanya, aku sekarang lagi tidur si hotel bintang lima, nyaman sekali Zia, lebih nyaman dari kamar kos ku!" sahut Jonathan bersemangat.


"Oya? Wah, asyik dong bang! Bisa menikmati hidup hehehe!" Kezia terkekeh.


"Aku juga baru mendapat teman baru, dia yang akan memberikan aku pelatihan dan banyak ilmu, doakan aku bisa sesukses dia Zia!" lanjut Jonathan.


"Pasti sayang, nanti kalau Kezia lulus, Bang Jo langsung melamar Kezia deh, siapa tau pulang dari sini Abang jadi sukses!" kata Jonathan.


"Amin deh Bang, Oya Bang, aku boleh minta nomor Mbak Ratna tidak?" tanya Kezia. Jonathan tertegun.


"Buat apa?"


"Yah ngobrol-ngobrol saja, kan kita berteman, boleh ya Bang ...!" pinta Kezia.


"Oke deh Zia, nanti nomornya Bang Jo kirim ke ponsel Kezia saja ya!" kata Jonathan.


"Siiip, sudah dulu Bang, mau kerjain tugas nih!" ujar Kezia.


"Iya Zia sayang, belajar yang pinter ya, Bang Jo juga mau tidur cepet, besok pagi biar siap tempur!" sahut Jonathan.


"Tetap semangat Bang Jo ganteng!" ucap Kezia. Jonathan langsung tersenyum cerah.


"Iya sayang, demi Kezia Bang Jo tetap semangat, Kezia yang jadi semangat Abang!" ujar Jonathan.


Tak lama kemudian telepon pun di tutup.


Jonathan langsung mengirimkan nomor ponsel Ratna ke ponsel Kezia.


Kezia yang sedang berbaring di kamarnya tersenyum saat Jonathan mengirimkan nomor ponsel Ratna.


Perlahan Kezia mulai menghubungi Ratna. Dia ingin membantu Jonathan dengan caranya.


"Halo ..." terdengar suara dari seberang telepon.


"Halo, Mbak Ratna? Ini Kezia?" kata Kezia.


"Kezia? Kezia yang ... di Jakarta??" tanya Ratna.


"Iya Mbak, ini Kezia, teman Bang Jonathan!" sahut Kezia.


"Ada apa dengan Bang Jo?" tanya Ratna dengan nada cemas.


"Tidak apa-apa Mbak, boleh aku minta nomor rekening Mbak Ratna? Aku hanya ingin membantu Bang Jo supaya bisa cepat melunasi hutangnya pada keluarga Mbak Ratna!" kata Kezia.


"Kezia, kau perduli sekali dengan Bang Jo!" ujar Ratna.


"Iya, kasihan Bang Jo, dia dapat uang hanya untuk membayar hutangnya, ayolah Mbak, berikan nomor rekeningnya, aku akan transfer hutangnya bang Jo sebagian!" desak Kezia.


"Baiklah, sekarang berapa jumlah uang yang akan kau bayar?" tanya Ratna.


"Aku akan transfer 100 juta dulu, sisanya biar ku cicil sedikit-sedikit, supaya tidak ketahuan Bang Jo!" sahut Kezia.


"Baiklah, nanti segera ku kirimkan nomor rekeningku!" kata Ratna.


"Trima kasih Mbak!" ujar Kezia senang.


"Kezia, sebelumnya aku mau tanya padamu, mengapa kau begitu perduli pada Bang Jo? Bahkan mau menanggung hutangnya?" tanya Ratna.


"Karena ... Aku sayang sama Bang Jo Mbak, dan Bang Jo juga sayang sama aku, dan dia berniat untuk datang melamarku, tapi karena ada hutang yang harus di bayar, dia jadi terhambat untuk mengejar mimpinya, dan aku mohon, jangan beritahu dia aku telah membantunya!" jawab Kezia.


Di sebrang sana, Ratna meneteskan air matanya mendengar semua penjelasan Kezia.


Ternyata diam-diam, Ratna masih menyimpan rasa pada Jonathan.


****


Hai readers ...


Hargai hasil karya Author bukan dengan uang ...


Tapi dengan Like, Vote dan Komen ...


Trimakasih ... 🙏😉😘❤️🤗