Heart's Owner

Heart's Owner
Main Ke Rumah Kezia



Setelah selesai berkumpul di cafe Rosi, Kezia dan Jonathan berniat akan pulang ke rumah, karena nanti malam akan ada perayaan ulang tahun Tasya.


Ulang tahun Tasya tidak mengundang banyak orang, hanya keluarga dan kerabat dekat saja, karena Tasya ingin berbagi dengan anak-anak panti esok harinya.


"Mbak Ratna, ikut yuk ke rumahku! Adikku ulang tahun!" ajak Kezia.


"Maaf Kezia, bukannya aku menolak ajakan mu, tapi ..." Ratna menghentikan ucapannya.


"Tidak usah pikirkan kado, adikku itu sudah dapat banyak dari papa dan Ibuku, yang penting kan kita kumpul dia juga senang!" potong Kezia cepat.


"Ikut saja Ratna, apa perlu aku temani?" kata Beni menawarkan diri.


"Nah, dari tadi kek Ben!" ujar Jonathan.


"Ya kau tidak mengajakku!" sungut Beni.


"Iya di ajak, kan Kezia yang punya rumah!" sergah Jonathan.


"Sudah! Sudah! Kau titip motormu di cafe Mbak Rosi saja, jadi kita pakai satu mobil, pulangnya tenang saja, nanti bareng Bang Jo!" usul Kezia.


"Ya sudah tunggu apa lagi, ayo jalan!" ajak Jonathan yang langsung beranjak dari tempat itu.


Kezia dan yang lainnya mengikuti di belakangnya.


Akhirnya mereka naik ke mobil Jonathan, Beni duduk di depan, sementara Kezia dan Ratna duduk di jok belakang.


"Sekarang kau sudah berubah Jo, kemana-mana naik mobil, aku ingat dulu saat pertama kali bertemu denganmu, bahkan motor saja kau tak punya!" kenang Beni.


"Ah, kau ingat saja masa laluku!"sahut Jonathan tersipu.


"Kau tenang saja Ben, sebentar lagi juga kau akan dapat fasilitas mobil dari perusahaan!" cetus Kezia.


"Benarkah?" tanya Beni terkesiap.


"Tentu saja benar! Kau lupa aku ini anak pemilik gedung tempatmu bekerja? Bukannya sombong lho!" sahut Kezia.


"Ooo, jadi Kezia ini anak pemilik perusahaan properti itu?" tanya Ratna heran, sedari tadi dia hanya menyimak saja.


"Ya iyalah, Ratna baru tau ya, makanya Jo ini beruntung bisa meruntuhkan hati Kezia, dia menang banyak!" sahut Beni.


"Pantas saja!" gumam Ratna.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di tempat kediaman Kezia.


Ini pertama kalinya Beni dan Ratna pergi ke rumah Kezia. Mereka nampak terkesiap melihat rumah besar dan megah itu.


"Gila Jo, ini rumah calon mertuamu itu? Luar biasa!" puji Beni sambil berdecak kagum.


Ratna sedari tadi hanya diam saja, ada yang bergejolak di dalam dadanya, tiba-tiba dia merasa sangat tidak percaya diri.


Kezia sudah masuk terlebih dahulu, ada beberapa orang yang keluar pulang, rupanya acaranya sudah selesai. Mereka datang agak terlambat.


Kezia lalu mengajak Beni dan Ratna masuk dan duduk di ruang tamu.


Mbok Narti datang membawa nampan besar berisi beberapa gelas minuman dingin dan cemilan.


Kezia masuk ke ruang keluarga menemui adiknya Tasya yang sedari tadi cemberut menatapnya.


"Selamat ulang tahun Tasya sayang, nih kakak bawakan kado untuk Tasya, dari kakak dan Bang Jo!" Kezia menyodorkan bungkusan kado yang sangat besar.


Tasya tersenyum senang, dia langsung membuka bungkusan besar itu.


"Wah! Boneka panda yang sangat besar!" seru Tasya senang.


"Itu buat teman Tasya, kalau Papa dan Ibu pergi keluar negri Tasya bisa peluk boneka itu, jangan peluk kakak lagi!" ujar Kezia.


"Lho, kok begitu bicara sama adiknya, mentang-mentang sebentar lagi ada yang memeluk!" cetus Ricky.


"Iiih Papa! Tuh di depan ada Beni sama Ratna Pa, aku ajak main ke sini, Bang Jo yang temenin!" kata Kezia.


"Ratna? Yang waktu itu menginap di apartemen Jo?" tanya Lika.


"Iya Bu, sekarang dia sudah kos kok di tempat kos bang Jo yang dulu!" sahut Kezia.


Melihat kedatangan Ricky dan istrinya, Beni dan Ratna langsung berdiri dan menyalami mereka.


"Lho Jo, kok tidak di suruh makan teman-temannya, banyak lho makanan di dalam, acara Tasya kan baru selesai!" kata Ricky sambil menoleh ke arah Jonathan.


"Iya Pa, tapi kami baru makan di cafe, nanti sebentar lagi!" sahut Jonathan.


"Kau keringatan Jo, ganti baju dulu sana, ada bajumu di lemari di kamar tamu, nanti masuk angin!" kata Lika sambil mengusap wajah Jonathan yang memang sedang berkeringat.


"Iya Bu!" sahut Jonathan.


"Kalau perlu mandi dulu sekalian, menantu Papa harus selalu segar, ingat, hari Sabtu besok Kezia akan wisuda, Papa sudah belikan kau baju batik, supaya kita seragam!" ujar Ricky.


"Iya Pa!" sahut Jonathan lagi.


"Kalian jangan sungkan ya di rumah ini, kalau mau atau butuh apa-apa bilang saja Jo!" kata Lika.


Kemudian mereka segera kembali masuk ke dalam ruang keluarga.


"Gila kau Jo, di rumah ini kau menjadi raja!" seru Beni.


"Ah, kau bisa saja Ben!" sahut Jonathan.


"Mereka semua kelihatan sangat sayang padamu Jo, kau beruntung sekali!" lanjut Beni sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sementara Ratna hanya dapat menggigit bibirnya dan menelan ludahnya, menahan rasa sakit yang sejak tadi bercokol di hatinya.


Tak lama kemudian Kezia datang sambil membawa beberapa batang coklat.


"Ini untuk kalian!" Kezia menyodorkan coklat itu ke arah Beni dan Ratna.


"Abang kok tidak di kasih Zia?" tanya Jonathan.


"Bang Jo tidak boleh makan coklat, nanti tenggorokannya sakit, katanya mau nyanyi di acara wisuda aku!" cetus Kezia.


"Oh iya ya ... Lupa Bang Jo!" sahut Jonathan.


Jonathan masuk ke dalam untuk mengganti baju, gantian Kezia yang menemani Beni dan Ratna.


"Aku kagum padamu Kezia, kau anak orang kaya raya tapi tidak sombong, mau bergaul dengan orang kalangan bawah!" ucap Ratna tiba-tiba.


"Di hadapan Tuhan itu manusia sama derajatnya Mbak, kita sama-sama manusia kok, aku senang bisa berteman dengan kalian semua!" jawab Kezia.


Mereka mengobrol sambil makan-makan hingga tak sadar hari sudah jauh malam. Beni dan Ratna pamit pulang.


Jonathan juga hendak pulang ke apartemennya, Kezia mengantar mereka sampai di halaman depan rumah.


Beni dan Ratna sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.


"Bang Jo pulang ya sayang!" pamit Jonathan sambil mengecup kening Kezia.


"Iya Bang, hati-hati ya, dampingi aku saat wisuda ya Bang!" ujar Kezia.


"Tentu sayang, akhirnya Kezia bisa wisuda juga, bang Jo jadi deg-degan sebentar lagi jadi suami Kezia, pasti bawaannya on terus tiap hari!" ucap Jonathan.


"Ih Bang Jo apaan sih, sudah sana, kasihan Beni dan Mbak Ratna nungguin Abang!" Kezia mendorong lembut tubuh Jonathan lalu mencubit pipinya.


Ratna yang melihat dari jendela kaca mobil, kemesraan Jonathan dan Kezia, hanya bisa menggigit bibirnya menahan rasa cemburu.


Tiba-tiba ada tangan yang menggenggamnya dengan hangat di sebelahnya.


****


Halo guys ...


Siapa nih yang tidak sabar menunggu Bang Jo dan Kezia menikah?


Tetap dukung yuk ... biar Author tetap semangat ...


Terimakasih ...