
Kezia langsung lahap menghabiskan makanannya yang di pesan Jonathan dari kantin kantornya.
Sementara Jonathan mulai merasa mual karena harus menghabiskan porsi yang lumayan banyak dari makanan yang Kezia bawa tadi.
"Bang Jo kenapa?" tanya Kezia saat melihat mimik wajah Jonathan sudah tak karuan.
"Tidak apa-apa sayang, Bang Jo cuma agak kenyang saja, makannya sudah banyak!" sahut Jonathan.
"Ya sudah jangan di habiskan, nanti malah ngantuk kekenyangan, biar aku saja yang habiskan nanti!" kata Kezia.
"Jangan!" sergah Jonathan.
"Kenapa sih Bang?? Aneh banget deh!" ujar Kezia heran.
"Bang Jo masih mau makan, tapi nanti ya, Bang Jo taruh dulu di meja, Kezia jangan makan makanan Bang Jo!" kata Jonathan.
"Iya deh Bang, aku mau istirahat di sofa saja ya, nanti pulangnya sama Bang Jo!" ujar Kezia sambil merebahkan tubuhnya di sofa itu.
"Iya dong, Kezia tunggu Abang kerja sebentar lagi, nanti bareng Abang pulangnya, gimana istri Abang hari ini? Masih suka mual tidak?" tanya Jonathan sambil mengelus perut Kezia.
"Mual nya sudah berkurang Bang, sekarang bawaannya malah laper melulu, terus pengennya deket-deket sama Bang Jo terus, kayaknya dedeknya lagi manja tuh sama Papanya!" kata Kezia.
"Masa sih? Mau di manjain apa anak Papa, nanti malam deh papa tengokin ya dek!" ucap Jonathan sambil mengelus dan mencium perut Kezia yang masih rata itu.
"Ingat kata Dokter Bang!" sergah Kezia.
"Ingat kok, Bang Jo pelan-pelan saja tengokin dedeknya!" sahut Jonathan.
Tok ... Tok ... Tok ...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan.
"Masuk!" seru Jonathan dari dalam.
Pintu ruangan terbuka, Dita masuk ke dalam ruangan itu.
"Sudah di baca dan di tanda tangani belum Pak berkas yang tadi?" tanya Dita.
"Waduh, belum sempat Dit, nanti jam dua an kamu datang lagi deh, ambil berkasnya!" sahut Jonathan.
"Pak Jo kalau ketemu istri jadi kurang Pro deh, kerja jadi lama!" cetus Dita.
"Eh Dita, jangan ngomong sembarangan ya, dia itu boss mu, atasanmu! Belum pernah ngerasain di pecat?? Kayak Mbak Rita!!" sengit Kezia.
"Maaf deh Nyonya Jonathan, tapi itu kan fakta, Pak Jo kalau ada Nyonya pasti kurang fokus kerjanya!" sahut Dita.
"Tidak kok, siapa bilang, aku memang belum sempat memeriksa berkas itu, kan aku sudah bilang, jam dua an kamu balik lagi ke sini!" timpal Jonathan.
"Itu kenapa juga makanan dari istri tidak di habiskan? Pasti rasanya tidak enak, cuma Pak Jo tutupin saja, cobain Nyonya kalau tidak percaya!" ujar Dita sambil melangkah keluar dari ruangan itu.
"Bener-bener ya si Dita, awas saja dia, aku adukan sama Papa kelakuannya!" dengus Kezia kesal.
"Jangan di ambil hati lah Zia, sudah Kezia istirahat saja, jangan dengerin omongannya si Dita!" sergah Jonathan.
"Tapi aku penasaran Bang, jangan-jangan yang di bilang Dita benar, masakanku tidak enak, aku cobain ya Bang!" Kezia langsung mencoba makanan sisa Jonathan yang masih ada di atas meja.
"Jangan Zia!" cegah Jonathan.
Tapi Kezia sudah terlanjur mencobanya, dia langsung memuntahkan makanan itu.
"Bang Jo kenapa tidak bilang kalau masakanku tidak enak??" tanya Kezia dengan mata merah dan berkaca-kaca.
Jonathan langsung memeluk Kezia dengan erat.
"Masakan Kezia enak, hanya sedikit saja kurangnya kok!" ucap Jonathan.
Jonathan terus memeluk dan membelai rambut Kezia.
"Sayang, jangan putus asa, Bang Jo bahagia Kezia mau masak buat Abang, besok coba lagi ya sayang, lihat tutorialnya di internet, jangan sedih dong sayang!" ucap Jonathan sambil mengecup kening Kezia.
"Maafin aku ya Bang! Aku tidak becus jadi istri!" Kezia membenamkan wajahnya di dada Jonathan sambil terus menangis.
Jonathan jadi bingung menghadapi istrinya yang belakangan sering sensitif itu. Padahal hanya masalah sepele.
"Sudah sayang, jangan menangis lagi, Bang Jo sedih lihat Kezia menangis, Kezia istirahat dulu ya, Bang Jo ada urusan sebentar!" ucap Jonathan sambil menghapus air mata Kezia dan membaringkan Kezia di sofa.
Kemudian dia bergegas keluar dari ruangannya.
Jonathan berjalan menuju ruang staff tempat kerja sekertaris nya.
"Dita!!" panggil Jonathan.
Dita yang nampak sedang mengobrol dengan beberapa staf menoleh ke arah Jonathan, dia langsung berdiri dan menghampiri Jonathan.
"Ada apa Pak Jo?" tanya Dita.
"Aku peringatkan ya, kau jangan sekali-kali bertindak menyebalkan seperti tadi, atau aku akan memindahkanmu ke bagian lain!" sahut Jonathan.
"Maaf deh Pak, tapi jangan pindahkan saya, saya suka kerja sama Pak Jo!" mohon Dita sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Gara-gara perkataanmu, sekarang istriku jadi sedih, dia jadi merasa bersalah berlebihan, kau telah melukai hatinya, itu sama juga kau melukai hatiku!" cetus Jonathan.
"Maaf deh Pak, saya janji tidak lagi-lagi bicara seperti itu, tapi saya mohon masih di ijinkan jadi sekertaris Pak Jo!" ujar Dita.
"Kita lihat saja nanti!" cetus Jonathan yang langsung bergegas meninggalkan tempat itu.
Jonathan kembali masuk ke ruangannya, wajah Kezia nampak masih terlihat mendung.
"Sayang, nanti sore kita mau makan apa? Kezia lagi pengen apa?" tanya Jonathan.
"Tidak pengen apa-apa Bang, terserah Bang Jo saja!" sahut Kezia.
"Lho, istri Abang kenapa jadi pesimis begini, ayolah cantik, kesayangan Abang, senyumnya mana? Jangan sedih terus dong, Bang Jo kan tidak marah sama Kezia karena masakan Kezia!" ucap Jonathan lembut.
"Tapi aku kasihan sama Abang, sudah makan banyak masakan ku yang tidak enak itu, Bang Jo pasti tahan-tahan rasanya, Bang Juga kenapa tidak jujur saja dari awal!" ungkap Kezia.
"Maafin Bang Jo sayang, Bang Jo tidak mau memadamkan semangat Kezia yang sudah masak dan antar makanan buat Abang, Bang Jo belajar menghargai setiap pemberian istri, bagaimanapun rasanya!" ucap Jonathan.
"Terimakasih Bang, aku sayang banget sama Bang Jo!" Kezia kembali memeluk suaminya itu dengan erat.
Ceklek!
Pintu ruangan Jonathan terbuka, Ricky sudah masuk ke dalam ruangan itu.
"Lho, ada Kezia rupanya, kenapa kalian berpelukan disini? Kezia kenapa menangis? Ada drama apa lagi nih?" tanya Ricky beruntun.
"Begini Pa, Kezia masak dan mengantar makanan buatku, aku sudah memakannya banyak, Kezia sedih karena ternyata masakannya tidak enak, padahal aku sih tidak masalah!" jelas Jonathan.
"Kezia memang tidak bisa masak, dulu waktu buat mie instan saja telurnya belum matang, tapi Papa diam-diam saja, Papa malah memuji masakan Kezia, walaupun telurnya belum matang!" ujar Ricky.
"Papaaa!! Kenapa baru bilang sekarang?? Waktu itu Papa bilang enak banget, berarti Papa bohong dong!" berang Kezia yang kembali menangis.
Jonathan memeluk Kezia sambil menepuk-nepuk lembut punggung istrinya itu.
Sementara Ricky semakin bingung melihat sikap Kezia yang terlihat manja dan kekanak-kanakan.
****