Heart's Owner

Heart's Owner
Menahan Rindu



Sudah satu Minggu, Jonathan tidak bertemu dengan Kezia, dia sengaja mengindari Kezia, tidak pernah membalas setiap telepon dan pesan dari Kezia.


Kezia yang merasa bersalah akhirnya juga tidak lagi mengirim pesan atau apapun. Kini dia mulai fokus menyusun skripsinya.


Beberapa kali Jonathan menengok ponselnya, tidak ada satu pun pesan dari Kezia, namun karena gengsinya, Jonathan juga tidak mau memulai menghubungi Kezia, hatinya masih kesal karena merasa di bohongi.


Sore itu sepulang kuliah, Jonathan langsung menaiki motornya yang terparkir di parkiran kampus.


Di sebelahnya juga terparkir sebuah mobil mewah, saat Jonathan mulai menyalakan mesin motornya, jendela kaca mobil itu tiba-tiba terbuka lebar.


Jonathan terkejut saat melihat siapa yang ada di dalam mobil yang masih menyala itu.


"Hei Marketing! Baru pulang kuliah?" sapa orang yang ada di dalam mobil itu yang tak lain adalah Pak Ricky, pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


"Eh, Pak Ricky! Iya Pak saya baru pulang, Bapak sendiri ngapain disini? Mau kuliah lagi pak?" tanya Jonathan.


"Sembarangan kau! Aku kesini karena mau menjemput anakku, sebentar lagi dia pulang, habis konsultasi dengan dosen pembimbing!" sahut Ricky dengan wajah masam.


"Oooo, begitu pak, ngomong-ngomong anak bapak yang mana sih? Dari dulu bapak bilang anak bapak kuliah di sini, tapi saya tidak pernah tau orangnya yang mana!" ujar Jonathan.


"Ngapain aku kenalin sama kamu! Nanti kamu naksir lagi!" cetus Ricky.


"Yeee Bapak pede amat sih, gini-gini hati saya sudah ada yang punya tau, ngapain juga saya naksir sama anak Bapak! Saya ini tipe cowok setia, sekali saja mencintai wanita!" ungkap Jonathan.


Tiba-tiba wajah Jonathan berubah mendung saat teringat Kezia yang telah membohonginya.


"Baguslah kalau begitu, jadi anakku aman!" cetus Ricky.


"Tapi saya lagi jauhan Pak sama dia, pujaan hati saya, gara-gara dia bohongin saya, ngaku-ngaku orang sederhana, tidak taunya anak konglomerat! Saya kan jadi minder!" ucap Jonathan.


Ricky tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan dari Jonathan.


"Kau ini lucu Jo! Dasar marketing kelas teri! Kalau kau cinta dia harusnya kau kerja lebih giat, tunjukan padanya kalau kau bisa sukses! Bahkan melebihi bapaknya!" seru Ricky.


"Tapi dia kaya banget Pak, rumahnya saja seperti istana, tapi sejujurnya saya tidak bisa melupakan dia, saya kangen banget Pak, mau telepon duluan gengsi, ah ... saya jadi pusing!" Sungut Jonathan.


"Sudah sana kau pulang kalau pusing! Besok pagi masuk kerja jangan telat, closing rumah sebanyak-banyaknya, biar cepat kaya kamu!" hardik Ricky.


"Iya Pak, saya duluan ya Pak!!" Jonathan langsung melajukan motornya meninggalkan parkiran kampus dan langsung menuju ke tempat kosnya.


Kurang lebih 5 menit kemudian Kezia muncul dari arah kantin menuju ke parkiran, dan langsung naik ke dalam mobil Papanya itu.


"Kau lama sekali sih?! Papa sudah kayak supir pribadi saja menunggumu!" sungut Ricky.


"Maaf Pa, lagian Papa ngapain pake jemput segala sih, aku kan bisa pulang sendiri, atau bareng Erin!" sergah Kezia.


"Ya kan Papa tau tadi pagi kamu tidak bawa mobil, jadi pulang kantor ya Papa jemput saja kan biar aman, gimana skripsinya, sudah siap?" tanya Ricky.


"Ini lagi di kerjain Pa, sabar napa!" sahut Kezia.


Mobil Ricky melaju diantara padatnya lalu lintas di jalan raya itu.


Sambil menatap ke depan, Ricky senyum-senyum sendiri saat mengingat Jonathan yang tadi mengobrol dengannya.


"Papa kenapa senyum sendirian? Papa tidak lagi stress kan?" tanya Kezia.


"Hahahaha lucu sekali anak itu! Masa tadi papa ketemu karyawan Papa lho di kampusmu!" kata Ricky.


"Karyawan yang mana Pa?" tanya Kezia.


"Itu lho, si marketing yang dari Medan, dia itu kok lugu banget, sukses membuat perut Papa sakit karna tertawa!" sahut Ricky.


"Katanya dia lagi jauhan sama pujaan hatinya, gara-gara merasa di bohongin, ceweknya ternyata orang kaya dan dia jadi minder, hahahaha lucu sekali, padahal katanya dia kangen, tapi gengsi hahahaha!!" Ricky terus tertawa sampai memegangi perutnya karena sakit.


"Nggak lucu Pa!" seru Kezia.


Ricky menghentikan tawanya.


"Lho, kok nggak lucu!! Untung pujaan hatinya bukan kamu Zia, kalau kamu, habis dia Papa plonco!!" tambah Ricky.


Kezia semakin cemberut.


"Papa nyebelin!!" sungut Kezia.


"Lho, kok jadi kamu yang marah, awas ya kalau kamu berani pacaran di belakang Papa! Jangan ikutin si Marketing itu! Kalau Papa jadi dia, Papa akan maju terus pantang mundur, kalau perlu kerja banting tulang, lalu datang baik-baik melamar, pasti orang tua si cewek akan luluh!" kata Ricky.


"Dih Papa! Sok tau banget!" dengus Kezia.


*****


Malam itu Kezia tidak dapat tidur, dia terus teringat perkataan Papanya, benarkah Jonathan merindukannya?


Kezia meraih ponselnya hanya untuk membuka gelery, banyak foto Jonathan di sana, perlahan Kezia mengecup ponselnya.


Tiba-tiba ada rasa rindu yang melandanya. Kezia memeluk gulingnya, seolah-oleh guling itu adalah Jonathan.


Di tempat lain, di kamar kos Jonathan, pria itu juga belum dapat memejamkan matanya, sudah berhari-hari dia menahan gejolak rasa yang ada padanya, hanya karena sebuah gengsi.


Tiba-tiba ponsel Jonathan berbunyi, buru-buru dia mengambilnya, berharap Kezia yang meneleponnya, namun dia kecewa, ternyata Binsar yang meneleponnya.


"Halo Bang!" sapa Jonathan.


"Jo, sorry nih ya, Om Purba tanya aku, kapan kau bisa mencicil hutangmu??" tanya Binsar.


"Akhir bulan ini akan ku cicil Bang, aku lagi tunggu gajian!" jawab Jonathan.


"Baiklah, nanti akan ku sampaikan!" kata Binsar.


"Trima kasih Bang!" ucap Jonathan.


"Iya Jo, Oya, kau sudah dengar belum? Si Ratna mau di lamar sama anak juragan tambang!" ujar Binsar.


"Oya? Syukurlah kalau Ratna sudah menemukan jodohnya!" kata Jonathan.


"Tunggu dulu Jo, Ratna tidak suka sama orang itu, sekarang dia sering murung, karena orang tuanya maksa dia buat cepat nikah!" jelas Binsar.


"Kasihan Ratna, mudah-mudahan ada jalan buat dia ya Bang, tolong di bantu ya Bang, walau gimana, Ratna itu adalah adikku juga, aku harus pikirkan kebahagiaannya!" ucap Jonathan.


"Siap Jo!" sahut Binsar sebelum mengakhiri teleponnya.


****


Hi guys ...


Dukung Author yang sudah membuat cerita gratis buat kalian yang tersayang dengan like dan komen ya ...


Trima kasih ...


Berbagi itu indah ...