Heart's Owner

Heart's Owner
Kemarahan Pak Ricky



Kezia terbangun dari tidurnya saat di rasakan hawa dingin yang berhembus dari jendela kamar kos Jonathan yang tidak tertutup rapat dari semalam.


Kompresan di dahinya sudah mengering, dia mengerjapkan matanya dan langsung duduk dari posisi tidurnya.


Dia menoleh ke arah Jonathan yang nampak tertidur di atas kursi dengan kepala yang bersandar tembok.


Sekilas Kezia melirik ke jam tangannya, waktu sudah menunjukan pukul setengah enam pagi.


Kezia buru-buru turun dari tempat tidur Jonathan, setelah di bereskan tempat tidur itu, Kezia segera meraih tasnya, dia hendak pulang kerumahnya.


Sebelum Kezia membuka pintu kamar kos Jonathan, dia menyelimuti tubuh Jonathan dengan selimut yang di pakainya tadi, sejenak dia mengamati wajah polos yang terlihat lelah itu.


"Hmm, kamu ganteng juga bang Jo, bahkan jauh lebih ganteng dari pada si Robby pengkhianat itu, walau kau galak seperti singa, tapi hatimu ternyata baik dan lembut, tapi sayang, kau sudah punya pacar bang Jo!" gumam Kezia.


Lalu dia membuka pintu kamar kosnya, dan langsung memesan taksi online dari ponselnya, lalu berjalan kaki dari gang tempat kos Jonathan menuju ke jalan raya sambil menunggu taksinya datang.


****


"Jo! Bangun Jo!" Andri mengguncang tubuh Jonathan yang masih tertidur di kursi.


Saat Andri mau bersiap berangkat ke kantornya, dia melihat pintu kamar Jonathan terbuka setengah.


Saat Andri membuka pintu, alangkah kagetnya dia saat melihat Jonathan tertidur di kursi sementara tempat tidurnya kosong.


Jonathan membuka matanya perlahan, dia amat terkejut saat melihat Andri sudah berdiri di depannya.


"Andri? Kok kau bisa di sini?" tanya Jonathan panik.


"Ya iya lah, kamar ku kan di sebelah, lagian ngapain tidur di kursi Jo? kamu tidak sedang kemalingan kan? Ku lihat pintu kamarmu terbuka setengah!" sahut Andri.


Jonathan langsung meloncat dari kursinya.


"Hah? Kezia mana?" pekik Jonathan. Andri mengerutkan keningnya heran.


"Kezia? Kezia siapa? Jangan bilang semalam kau baru tidur dengan cewek! Kalau benar, moral mu bobrok sekali Jo!" seru Andri.


"Semalam Kezia memang tidur di sana, tapi sekarang, kemana dia?" ujar Jonathan celingukan.


"Berarti semalam kau beneran berduaan sama cewek Jo?! Kau kebangetan juga, ku pikir kau cowok kampung yang lugu! Ternyata ...!" sengit Andri.


"Semalam aku terjebak Hujan dan banjir, Kezia sudah kelelahan tertidur di dalam taksi, jadi apa salahnya dia tidur di sini? toh kami tidak melakukan apapun, apalagi dia sedang demam!" sahut jonathan.


"Jadi betul kalian tidak berbuat mesum dalam kamar ini?" tanya Andri meyakinkan.


"Ya tidak lah, aku bahkan tidur di kursi ini sambil menahan pegal! Huh, mungkin sekarang dia sudah pulang kerumahnya!" ujar Jonathan yang langsung menghempaskan tubuhnya di kasur empuknya.


"Sorry Jo, aku salah paham!" ucap Andri.


"Santai lah! Hari ini aku libur, jadi aku mau istirahat saja!" kata Jonathan.


"Ngomong-ngomong Kezia itu siapa? Teman kerjamu?" tanya Andri.


"Iya, aku satu tim sama dia, dia itu orang yang waktu itu aku bilang mau bunuh diri, yang menemukan dompetku, dan kini kerja satu bagian denganku, bahkan jadi satu tim!" jelas Jonathan.


Andri terperangah mendengarnya.


"Hah? Kayaknya kau berjodoh dengan dia Jo!" seru Andri.


"Berjodoh dari Hongkong! Mau di kemanakan si Ratna pacarku?? Sudah sana kau berangkat kerja saja, aku mau melanjutkan tidurku!!" ujar Jonathan sambil kembali memejamkan matanya dan memeluk gulingnya.


Andri hanya menggelengkan kepalanya, lalu keluar dari kamar Jonathan sambil menutup rapat pintu kamar itu.


****


Kezia yang baru turun dari taksinya, berjalan mengendap-endap menuju ke gerbang rumahnya yang tinggi itu.


"Hah? Non Kezia dari mana? Kok pulang pagi?" tanya Jono heran.


"Bukan urusanmu!" Cetus Kezia sambil melangkah masuk kedalam rumahnya.


Dia terus masuk ke ruang tamu dan melewati ruang makan, Kezia menghentikan langkahnya saat tiba-tiba Papanya sudah berdiri di hadapannya dengan mata yang menyorot tajam kearahnya.


"Pa ... Papa!" ujar Kezia kaget.


"Dari mana saja kau!!" sengit Ricky dengan suara keras, hingga Lika dan anak-anaknya datang menghampirinya, mereka terlihat sedang sarapan dan bersiap berangkat sekolah.


"Semalam aku terjebak Hujan dan banjir, jadi aku ...!" Kezia menghentikan ucapannya. Dia bergidik saat melihat mata Papanya yang sudah terlihat merah menahan emosi.


"Kamu ini perempuan Kezia! Papa sudah memperingatkan agar kau jangan sampai pulang pagi, apa kau tau semalam Papa tidak bisa tidur memikirkanmu!!" sentak Ricky.


Lika istrinya nampak mengelus dada suaminya itu untuk menenangkannya.


"Sabar Pa, kita bicara baik-baik oke, Kezia baru datang, kau jangan langsung menghakiminya!" ucap Lika sedikit menenangkan suaminya itu.


"Maaf Pa, aku janji tidak akan mengulanginya lagi!" sahut Kezia sambil menunduk.


"Sekarang Papa tanya, tidur di mana kau semalam?" tanya Ricky.


"Aku, aku tidur di rumah teman Pa!" sahut Kezia.


"Siapa temanmu itu? Laki-laki atau perempuan??" tanya Ricky lagi.


"Papa sudahlah, mana mungkin Kezia tidur di tempat laki-laki? Paling juga di rumah teman perempuannya, jangan berburuk sangka sama anak sendiri!" cetus Lika.


"Mulai besok, kau tak usah bekerja lagi di perusahaan Papa!" ucap Ricky tegas. Kezia terperanjat mendengar keputusan Papanya itu.


"Papa, tapi kenapa? Aku kan mau belajar kerja Pa!" kilah Kezia.


"Tidak! Kau sudah membohongi Papa, katanya kau mau kerja setengah hari, tapi kau malah tidak masuk kuliah sama sekali karena pekerjaanmu itu, pokoknya Papa tidak ijinkan kau bekerja lagi!" tegas Ricky.


Kemudian Ricky segera mengambil tas kerjanya lalu melangkah keluar dari rumahnya, Lika menyusul di belakangnya, sementara Kezia langsung berlari menuju ke kamarnya.


Kezia menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya, dia menangis sambil menutup wajahnya dengan bantalnya.


"Huuu huuu ... Papa jahat!!" pekik Kezia sambil menangis.


Ceklek!


Pintu kamar Kezia terbuka, Lika masuk dan langsung duduk di tepi tempat tidur Kezia sambil membelai rambutnya.


"Sayang, ada hal yang kita tidak bisa ungkapkan dengan laki-laki, Papa Ricky itu laki-laki kan? Kezia bisa mengungkapkannya pada ibu, kita sama-sama perempuan!" ucap Lika.


Kezia mengangkat wajahnya, lalu memeluk Lika dengan erat.


"Maafkan aku Bu!" ujar Kezia.


"Ibu tau, semalam Kezia tidak tidur di rumah teman perempuan Kezia, karena ibu tau, semalam Kezia ikut pameran, pulang larut kena hujan dan banjir, Kezia pasti bersama dengan teman satu tim Kezia kan, dan ibu juga tau, teman satu tim Kezia itu laki-laki!" ucap Lika.


Kezia terperangah lalu memandang pada ibunya.


"Dari mana ibu tau?" tanya Kezia.


"Dari Rita, ibu sengaja menelepon Rita untuk menanyakan keadaanmu, ada hal yang sulit untuk di mengerti oleh laki-laki seperti papamu Kezia, tapi satu hal yang karus kau tau! Papamu itu sayang padamu, dia lebih mengkhawatirkanmu, sampai dia tidak tidur semalaman karena memikirkanmu!" jelas Lika.


"Maafkan aku Bu! Maafkan aku, tapi bisakah ibu meyakinkan Papa, supaya aku bisa kembali bekerja menjadi marketing?" tanya Kezia. Lika mengerutkan keningnya heran mendengar permintaan Kezia.


*****