
Kezia tertidur karena kelelahan, dia baru saja menangis menumpahkan isi hatinya pada ibunya.
Baru saja Kezia bermimpi indah, tiba-tiba adik terkecilnya, Tasya mengguncang bahunya, membuat Kezia mengerjapkan matanya.
"Kak! Bangun, ada teman kakak tuh!" seru Tasya.
"Siapa sih Sya, udah suruh masuk aja deh!" sungut Kezia tetap dalam posisi berbaring.
"Udah kok, tuh orangnya!" sahut Tasya sambil menunjuk ke arah pintu.
Kezia langsung bangun dari tidurnya, di lihatnya Erin, teman kuliahnya sudah berdiri di depan pintu.
"Hei, Erin, sini!" panggil Kezia sambil menepuk di samping tempat tidurnya.
Erin masuk dan langsung duduk di tempat tidur Kezia.
"Tasya, minta tolong Mbok Narti dong, buatin minuman dingin sama cemilan ya, nanti tolong di antar ke kamar kakak!" titah Kezia pada adiknya.
Tasya mengangguk dan langsung turun dari tempat tidur lalu beranjak keluar kamar.
"Duh, gemes banget si Tasya, enak ya yang punya adik masih TK!" ujar Erin.
"Ya gitulah, Adek ku masih kecil-kecil Rin, kecuali si Nando yang sekarang baru mau masuk kuliah di Malaysia!" sahut Kezia.
"Oya Kezia, kamu di tanyain pak dosen tuh, udah berapa lama absen terus, alamat tidak lulus nanti lho!" ujar Erin.
"Lama-lama aku males kuliah deh Rin, pengen langsung kerja aja!" sahut Kezia.
"Yah Kezia, kamu sih enak orang kaya, tidak usah pakai kuliah hidup sudah terjamin, lah aku, bisa di gantung bapakku kalau tahun ini aku tidak selesai skripsi! ujar Erin.
Kezia tertawa mendengar celotehan Erin, Sejak pindah ke Jakarta, hanya Erin teman terdekat Kezia, yang lain tidak terlalu akrab.
"Oke Oke, besok aku mulai masuk kuliah deh, biar seneng tuh muka si dosen, lagian Papaku juga suruh aku kuliah lagi, padahal aku baru enak-enak kerja jadi marketing!" ujar Kezia.
"Hah? Marketing? Masa anak pengusaha properti kerja jadi marketing sih??" ledek Erin.
Kezia tersenyum mendengar pertanyaan Erin, pertanyaan yang sama juga pernah dia dengar dari mulut Lusi, resepsionis di kantor Papanya.
Seandainya Kezia tidak pernah bertemu Jonathan, sebenarnya dia juga enggan bekerja jadi marketing, niat awal hanya untuk mengerjainya, malah Kezia yang mulai merasa nyaman.
"Eh, kok malah bengong dan senyum sendiri?? Kamu belum jadi gila kan?" tanya Erin sambil menempelkan tangannya di dahi Kezia. Kezia langsung menepisnya.
"Apaan sih, siapa juga yang gila!" sergah Kezia.
"Nah tuh mukanya, persis kayak orang yang lagi jatuh cinta, mgomong-ngomong gimana kabar si Robby pacarmu? Katanya kamu mau kenalin aku kalau dia ke Jakarta!" ucap Erin.
Tiba-tiba raut wajah Kezia berubah.
"Jangan sebut-sebut lagi si pengkhianat itu, aku benci!!" seru Kezia. Erin nampak keheranan, baru waktu itu Kezia cerita tentang hubungannya dengan Robby, sekarang malah berubah 180 derajat.
"Robby kenapa?" tanya Erin lirih.
"Aku sudah putus sama Robby, dia selingkuh dengan si Nita temanku dulu waktu di Jogja, kurang ajar kan!! Sekarang aku sudah benar-benar move on dari dia, dasar cowok kaki lima!" sungut Kezia.
"Apaan tuh cowok kaki lima?" tanya Erin heran.
"Cowok kaki lima itu murahan, bisa di tawar lagi! Aku mau cari cowok bintang lima saja!" sahut Kezia.
"Hah! Ini lagi ada istilah baru cowok bintang lima!" Erin makin heran.
Tak lama kemudian Mbok Narti masuk kedalam membawa nampan berisi minuman dingin dan aneka cemilan.
"Trima kasih Mbok!" ucap Kezia sopan.
"Iya, ayo di minum, nanti kalau kurang panggil Mbok saja ya!" ujar Mbok Narti sopan. Lalu dia segera beranjak keluar dari kamar Kezia.
"Gila lu! Hormat bener sama pembantu!" cetus Erin.
"Hebat Papamu, beruntung yang jadi anaknya!" sahut Erin.
"Erin, sepertinya aku sudah menemukan cowok bintang lima itu!" kata Kezia tiba-tiba. Erin membulatkan matanya.
"Siapa Zia?" tanya Erin kepo.
"Dia salah satu marketing di perusahaan Papaku, mulanya dia itu menyebalkan, sok cuek dan dingin, tapi kok aku nyaman ya ada di dekat dia!" gumam Kezia.
"Waduh, kok seleramu marketing sih, minimal selevel lah sama Papamu!" sahut Erin.
Kezia meraih ponselnya, kemudian membuka galeri yang ada di ponselnya itu lalu menunjukannya pada Erin.
"Nih lihat orangnya, aku curi fotonya diam-diam lho! Habis dia orangnya jutek banget, tapi gemesin hehe!" Erin melotot saat melihat banyak foto cowok di ponsel Kezia.
"Ya ampun! Ini orang ganteng amat, mukanya itu lho, indo banget! Pantesan kamu betah Zia! Bibirnya juga, seksi banget!" seru Erin.
"Aku cuti fotonya pas dia lagi diem, lagi sebarin brosur, lagi ngobrol hehehe kalau ketahuan habis aku!" ujar Kezia.
"Jadi kamu suka sama dia Kezia?" tanya Erin.
"Hmm, mungkin! Tapi sayang Rin, dia sudah punya pacar!" ucap Kezia dengan wajah yang tiba-tiba berubah mendung.
*****
Ricky tetap tidak memperbolehkan lagi Kezia untuk bekerja jadi marketing di perusahaannya, dengan terpaksa Kezia menurutinya.
Apalagi kini Kezia sudah mendekati semester akhir, dia juga harus fokus menyelesaikan kuliahnya.
Pagi itu Kezia kembali mengendarai mobilnya, dia mulai kembali lagi masuk kuliah.
Sementara di kantor Ricky, para marketing seperti biasa mengadakan briefing sebelum pekerjaan di mulai, mereka mulai berganti tim dan rolling untuk pameran.
"Jo, hari ini aku dan tim ku yang akan pameran di mall, kasih tau dong, enak atau tidak pameran di mall? Mana lebih mudah, membuat market plan di media sosial atau pameran manual?" tanya Beni.
"Sama saja Ben, cuma kalau di mall enak, bisa sambil lihat pemandangan!" sahut Jonathan.
"Nah, itu dia, sekalian cuci mata!" tambah Beni.
"Kok sudah beberapa hari ini aku tidak lihat Kezia ya?" tanya Jonathan.
"Kenapa Jo? Kangen?" Beni balik bertanya.
"Bukan, dia kan tim ku, masa aku kerja sendiri sih!" sahut Jonathan.
"Hmm, ada yang mulai kehilangan nih!" goda Beni.
Rita berjalan mendekati mereka.
"Beni, kau gabung dengan tim mu untuk bersiap berangkat ke mall sekarang, dan kau Jo, kau tetap di kantor membuat market plan dan promosi melalui media sosial!" titah Rita.
"Iya Mbak!" jawab Beni yang langsung pergi bergabung dengan timnya yang lain.
"Mbak Rita, aku satu tim dengan Kezia, tapi dia tidak masuk-masuk, jadi aku sendiri membuat market plan?" tanya Jonathan.
"Tidak Jo, aku akan menemanimu!" sahut Rita sambil tersenyum.
"Tapi kan Mbak Rita itu managerku? Masa jadi satu tim denganku? Kezia kemana sih Mbak? Biasanya kalau ada marketing telat atau absen pasti di hukum, kenapa Kezia bebas-bebas saja?!" tanya Jonathan lagi.
Lagi-lagi Rita hanya tersenyum menanggapinya.
*****
Jangan lupa dukung author dengan like dan vote ya...
untuk visual Jonathan, Kezia dan Ratna ada di cover hehehe....😁🤗😉