
Jonathan dengan cepat melajukan mobilnya menuju ke rumah Ricky. Wajah Kezia terlihat cemas sedari tadi.
Jalanan sore itu terlihat begitu macet, beberapa kali orang rumah menghubungi Kezia supaya cepat datang, namun kepadatan jalan raya sore itu tidak bisa di hindarkan lagi.
"Gara-gara Bang Jo pakai melampiaskan hawa nafsu segala, kita jadi telat kan pulang ke rumah!" sungut Kezia.
"Maafin Abang sayang, maafin, Bang Jo kalau sudah nafsu suka lupa daratan, maafin ya Zia!" ucap Jonathan menyesal.
"Sudah telat Bang Jo minta maaf juga, sekarang semua orang rumah menungggu kita!" kata Kezia.
"Iya Zia, Bang Jo menyesal, Bang Jo janji todak akan seperti ini lagi!" ujar Jonathan.
"Bang Jo tidak tau sih, betapa berartinya Nenek buyut buat ibu, Nenek Buyut itu sudah seperti orang tua ibu sendiri Bang!" tambah Kezia.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan padat, akhirnya mereka sampai di rumah Ricky, namun betapa terkejutnya Jonathan dan Kezia saat melihat rumah Ricky begitu ramai, bahkan sudah ada bendera kuning yang berkibar di sekitar rumah itu.
Setelah Jonathan memarkir mobilnya, mereka langsung berhambur masuk ke dalam rumah.
Di ruang itu, Nenek buyut sudah terbujur kaku, Bu Lika terlihat shock sambil menangis di pelukan Ricky, di situ juga sudah ada Lia dan Burhan yang kebetulan masih ada di Jakarta.
Nando juga terlihat duduk di samping Ricky, wajahnya menyiratkan kesedihan. Kezia langsung menghambur memeluk Lika yang masih menangis.
"Ibu! Maafkan aku Bu, Nenek ... kenapa Nenek buyut bisa pergi secepat ini? Padahal waktu aku menikah, dia kelihatan sehat-sehat saja!" ucap Kezia.
"Nenek pergi karena memang sudah waktunya pergi Kezia, Nenek buyut kan sudah tua, mungkin dengan begitu, Nenek tidak akan merasakan sakit lagi!" kata Ricky.
Para pelayat semakin banyak yang berdatangan, mobil ambulance untuk mengangkut jenazah juga sudah datang, rencana sore ini juga nenek buyut akan di makamkan.
Lika terlihat masih shock atas kematian neneknya, walau bagaimana selama ini mereka sudah hidup bersama sekian lama, Lika merasa begitu kehilangan sosok neneknya itu, seharian ini dia selalu ada dalam dekapan Ricky, hanya suaminya itu yang dapat menenangkannya.
Iring iringan keberangkatan menuju ke pemakaman nenek buyut memadati sepanjang jalan raya itu.
Wajah Kezia terlihat sedih karena hampir seluruh keluarganya merasa kehilangan sosok sang nenek.
Jonathan yang sedari tadi merasa bersalah mencoba untuk menghiburnya.
"Sudahlah Zia, kalau Kezia sedih nanti siapa yang akan menghibur ibu?" tanya Jonathan.
"Ya Papa lah yang menghibur ibu!" sahut Kezia.
"Iya tapi Abangnya jangan di cemberutin terus dong, Bang Jo kan jadi makin merasa bersalah nih!" ucap Jonathan.
"Ya sudah, untuk membayar rasa bersalah Abang, selama satu Minggu aku tidak akan kasih jatah Bang Jo ya, Bang Jo jangan minta! Inget itu!" cetus Kezia.
"Iya deh Bang Jo janji, puasa seminggu, itu juga kalau kuat!" gumam Jonathan.
Tangis Lika pecah tak terbendung lagi, dia begitu histeris, Ricky berusaha untuk menenangkannya.
"Nenek! Kenapa Nenek tinggalkan aku Nek??" seru Lika.
"Sayang, sudahlah, Nenek sudah tenang di sana, dia sudah tidak sakit lagi, lagi pula Nenek sudah mengamanatkan aku untuk selalu menjaga dan melindungimu selamanya!" ucap Ricky.
"Tapi Pa, kau tau selama ini hanya nenek yang aku miliki?" tanya Lika.
"Iya sayang, aku tau, tapi ini sudah takdir sayang, semua mahluk yang menua, pada akhirnya akan pergi menghadap sang pencipta, begitu juga aku kelak!" kata Ricky. Lika menatap wajah suaminya itu.
"Tidak! Papa Ricky jangan bilang begitu! Kau akan berumur panjang! Kita akan menua bersama-sama!" sergah Lika.
Ricky memganggukan kepalanya kemudian memeluk erat istri yang sangat di cintainya itu.
"Ibu, ibu jangan takut, walaupun nenek buyut sudah tidak ada, tapi aku akan selalu menyayangi ibu, karena hanya ibu ibuku saat ini!" ucap Nando tiba-tiba.
Pandangan Lika beralih kepada Nando, lalu dia mulai memeluk Nando.
"Nando, trimakasih ya Nak, Nando memang anak baik dari dulu, Ibu sayang sama Nando!" isak Loka sambil membelai rambut Nando.
Melihat hal itu, Kezia juga maju dan langsung memeluk ibunya.
"Ibu juga jangan takut, ada aku di sini, walaupun aku sudah tinggal bersama Bang Jo, tapi aku akan sering-sering menginap di tempat ibu dan Papa, aku juga sayang ibu!" ucap Kezia.
"Iya Nak, kalian anak-anak yang baik, ibu sayang sama kalian!" ucap Lika.
Setelah upacara prosesi pemakaman selesai, satu persatu pelayat mulai pulang kembali ke tempatnya masing-masing.
Waktu sudah sangat sore, keluarga Ricky juga bersiap-siap akan pulang kembali ke rumah mereka. Suasana duka masih menyelimuti keluarga Ricky.
"Bang Jo, malam ini kita menginap di rumah Papa ya!" kata Kezia.
"Iya sayang, kita menginap di rumah Papa, berapa hari pun Kezia mau menginap Bang Jo akan temani!" sahut Jonathan.
"Trimakasih ya Bang!" ucap Kezia.
"Iya Zia, keluarga Kezia juga adalah keluarga Bang Jo, Kezia jangan sungkan, sudah senang kita akan tanggung sama-sama!" ucap Jonathan sambil membelai rambut Kezia.
Merekapun akhirnya meninggalkan makam yang telah sepi itu.
Malam ini banyak orang yang menginap di rumah keluarga Ricky, ada Lia dan Burhan, Nando, Jonathan dan Kezia, di tambah dengan anggota keluarga yang lain, rumah itu berubah menjadi sangat ramai.
****