
Binsar sudah kembali ke Medan, sementara Jonathan kembali melanjutkan aktifitas sehari-harinya.
Pagi ini seperti biasanya, Jonathan datang ke kantor dengan penuh semangat.
"Cie cie ... yang baru tunangan kelihatannya ada yang beda nih!" ledek Lusi saat Jonathan melewati meja resepsionis.
"Ah Mbak Lusi bisa saja!" sahut Jonathan tersipu.
"Sudah ada tamu spesial yang menunggu di ruangan tuh Bang!" kata Lusi.
"Oya? Siapa?" tanya Jonathan.
"Ada deh! Lihat saja sendiri!" sahut Lusi.
Jonathan langsung bergegas naik ke atas menuju ke ruangannya.
Saat dia membuka pintu ruangannya, Kezia sudah duduk menunggunya di sofa.
"Selamat pagi Pak Direktur!" sapa Kezia sambil tersenyum.
"Pagi sayang, cepat sekali kau sampai di ruangan Bang Jo!" Jonathan meletakan tas kerjanya di atas meja, kemudian menghampiri Kezia yang duduk di sofa.
Jonathan langsung duduk di samping Kezia, kemudian mengecup pipi gadis itu.
"Hmm, wangi Kezia, buat Bang Jo kecanduan saja!" cetus Jonathan.
"Sekarang Bang Jo mulai berani ya!" sahut Kezia.
"Latihan Zia, jadi suami, nanti kalau Kezia sudah jadi istri bang Jo sungguhan, Bang Jo kan tidak kaku lagi!" kata Jonathan.
"Ah Bang Jo bisa saja, bilang saja modus Bang!" ujar Kezia.
"Kezia mau nungguin Abang kerja nih?" tanya Jonathan yang mulai kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Aku sudah lulus sidang skripsi Bang! Aku tinggal tunggu wisuda saja! Makanya dari pada tidak ada kerjaan, aku bantu-bantu Abang di sini, sekalian pantau Abang!" jelas Kezia.
"Pantau?"
"Iya pantau, mana tau Abang selingkuh di belakangku!" cetus Kezia.
"Mana mungkin lah Zia! Kayak Kezia tidak kenal hati Abang saja!" sungut Jonathan.
Kezia lalu berdiri dan menghampiri Jonathan di meja kerjanya, lalu Kezia duduk di meja depan Jonathan itu, tangannya mulai mencubit pipi Jonathan.
"Aku bercanda Bang! Serius amat!" ujar Kezia cekikikan.
"Huh! Bang Jo pikir Kezia mulai tidak percaya Abang!" kata Jonathan.
"Mana mungkin lah Bang, aku sih percaya sama Abang, tapi aku tidak rela Bang Jo ini selalu menjadi pusat perhatian para wanita, makanya punya wajah jangan ganteng-ganteng amat!" cetus Kezia.
Jonathan tertawa mendengar perkataan Kezia.
"Sabar ya sayang, dua bulan lagi tidak lama kok, kalau Bang Jo sudah jadi suami Kezia, tidak akan ada lagi wanita yang berani mendekati Abang!" Ucap Jonathan.
Matanya mulai menatap dalam ke arah Kezia, perlahan Jonathan mengusap bibir Kezia yang kemerahan dengan jemarinya, kemudian dia mengecup lembut bibir Kezia.
Kezia memejamkan matanya dengan perasaan bahagia, dulu Jonathan tidak pernah punya keberanian untuk menyentuh Kezia, apalagi mengecup bibirnya.
Sekarang bahkan Jonathan lebih bisa berinisiatif dari Kezia, mulai berani dan percaya diri.
"Bang Jo cinta sama Kezia!" bisik Jonathan.
"Sama Bang, aku juga!" balas Kezia.
Mereka kembali larut dalam perasaan masing-masing, ciuman itu mulai panas dan dalam.
Tiba-tiba Jonathan menarik wajahnya dari Kezia, sehingga Kezia menjadi bingung di buatnya.
"Ada apa Bang?" tanya Kezia bingung.
"Kezia duduk di sana saja deh, jangan terlalu dekat dengan Bang Jo!" sahut Jonathan.
"Kenapa Bang?"
"Bang Jo takut khilaf Zia!" ujar Jonathan.
"Khilaf kenapa?" Kezia semakin bingung.
"Itu ... anu ... " Jonathan menggaruk kepalanya.
Kezia mulai paham, pandangannya beralih ke bawah. Ternyata milik Jonathan sudah terlihat on maksimal, ada yang sudah membukit di sana.
"Maaf ya Zia, kalau ada Kezia di dekat Abang, Abang jadi tidak fokus kerja!" lanjut Jonathan.
"Iya Bang! Aku main ke tempat Erin saja ya, aku malah bangga sama Bang Jo, Abang bisa mengontrol nafsu Abang! Terimakasih ya Bang!" Kezia mengecup pipi Jonathan yang masih terlihat tegang.
Kezia dengan jail mencolek milik Jonathan yang sudah sangat tegang itu lalu berlari kearah pintu sambil tertawa cekikikan.
"Kezia!! Nakal!!" seru Jonathan yang wajahnya memerah seperti menahan sesuatu.
"Bang Jo yang buat aku nakal!!" cetus Kezia sebelum keluar dari ruangan Jonathan.
Pagi itu Jonathan benar-benar tidak fokus kerja, kepalanya jadi pusing.
Ceklek!
Suara pintu di buka dari luar, Dita sekertaris Jonathan masuk dengan membawa beberapa berkas dan map.
"Selamat pagi Pak Jo, ini ada proposal dari pemilik lahan yang harus Pak Jo pelajari!" kata Dita.
"Hmm, taruh saja di meja!" sahut Jonathan.
Dita segera mendekat dan meletakan semua berkas dan map-nya di atas meja kerja Jonathan.
"Pak Jo kenapa? Sakit? Kok kelihatan tegang begitu?" tanya Dita.
"Bukan urusanmu!" ketus Jonathan.
"Maaf Pak! Saya kan cuma tanya!" tukas Dita.
"Kalau tidak ada urusan lagi, keluar dari ruanganku!" titah Jonathan.
"Baik Pak!" Dita segera beranjak pergi meninggalkan ruangan Jonathan.
Jonathan mulai membuka-buka berkasnya, namun lagi-lagi dia tidak bisa fokus seratus persen.
"Alamak! Ini kenapa tubuhku terus menerus berdenyut seperti ini, kalau begini terus aku tidak bisa keluar ini, pasti semua orang akan gagal fokus!" gumam Jonathan yang galau karena tingkat ketegangannya tidak turun-turun.
Ceklek!
Tiba-tiba Pak Arif muncul, dan langsung masuk ke ruang Jonathan.
"Selamat pagi Pak Jo, Pak Ricky memanggil anda ke ruangannya, ada yang mau di bicarakan, penting!" kata Pak Arif.
"Sekarang Pak?" tanya Jonathan.
"Iya sekarang, Pak Jo tidak sedang sibuk kan?"
"Waduh Pak!" Jonathan kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Ada apa Pak Jo?" tanya Pak Arif bingung.
"Tidak Pak, Pak Arif duluan saja, nanti aku akan ke ruangan Pak Ricky!" sahut Jonathan.
Akhirnya Pak Arif berjalan meninggalkan ruangan itu.
Jonathan berusaha untuk meredam semua ketegangannya, namun kepalanya justru semakin pusing. Seperti ada sesuatu yang mau dia tumpahkan.
Akhirnya dengan cueknya Jonathan keluar dari ruangannya dan lalu bergegas pergi ke ruangan Ricky.
"Selamat pagi Papa Ricky, kata Pak Arif Papa memanggil saya?" tanya Jonathan yang langsung masuk keruangan itu.
Ricky tertegun menatap Jonathan yang kini sudah berdiri di hadapannya dengan sesuatu yang sangat menonjol di balik jasnya. Seketika matanya melotot.
"Di mana Kezia?" tanya Ricky.
"Lagi main ke rumah Erin Pa!" sahut Jonathan.
Ricky bangkit dan mendekat ke arah Jonathan yang masih berdiri.
"Apa yang terjadi denganmu Jo? Kau tau ini di kantor?" tanya Ricky.
"Tau Pa!"
"Aku memintamu untuk presentasi launching apartemen baru di depan para kolegaku, apa kau mau mereka semua gagal fokus karena melihat burung yang mau terbang dari sangkarnya??" seru Ricky.
"Tapi aku harus bagaimana Pa, ini sangat sulit! Gara-gara Kezia!" sungut Jonathan.
"Hah? Kezia? Apa hubungannya dengan Kezia??" Ricky makin melotot.
****