
Setelah berdansa ria, Jonathan dan Kezia akhirnya makan malam di cafe Rosi, mereka sangat menikmati makan malam itu.
"Bang Jo pandai juga berdansa, cuma sayang pemalu, jadi kurang maksimal deh!" cetus Kezia.
"Bang Jo tidak andai berdansa Zia, Bang Jo pandai memuaskan Kezia di tempat tidur!" goda Jonathan.
"Eeh dasar si Abang pikirannya sekarang makin pinter aja nih! Mentang-mentang di atas angin!" sungut Kezia.
"Sudah cepat habiskan makanannya, habis ini kita langsung pulang nih! Sudah malam sayang!" kata Jonathan.
"Iya Bang!" sahut Kezia.
Tak lama Kezia sudah berhasil menghabiskan makanannya.
Tiba-tiba dari arah pintu cafe, Beni datang dengan tergopoh-gopoh.
"Mbak Rosi!!" panggil Beni.
Rosi muncul dari arah belakang cafe.
"Lho, Mas Beni, ada apa?" tanya Rosi bingung.
"Itu Mbak, Ratna kecelakaan, di baru terserempet mobil, bisa minta tolong bawakan ke rumah sakit?" tanya Beni.
Dengan spontan Jonathan berdiri dari tempatnya dan mengajukan diri untuk membantu Ratna.
"Biar aku saja yang membawanya ke rumah sakit!" kata Jonathan.
"Oke, ayo!" balas Beni.
"Kezia, kau ikut kan?" tanya Jonathan.
"Ya ikut lah bang, masa aku di tinggal sendirian disini!" sungut Kezia.
Akhirnya mereka segera menuju ke tempat di mana Ratna tertabrak dan mulai membawanya ke rumah sakit terdekat.
Ratna lalu di bawa ke sebuah UGD untuk di tangani.
"Berarti sejak pesta pernikahan itu, Ratna belum pulang ke Medan, kenapa dia tidak pulang ke Medan saja ya!" gumam Jonathan.
"Entahlah!" sahut Kezia.
Tim dokter segera menangani Ratna. Kaki Ratna patah dan ada terdapat luka sobek di sekitar kakinya.
"Duh kasihan sekali Ratna, padahal kami belum lama ngobrol sebelum kecelakaan itu terjadi!" ungkap Beni.
"Semoga semua baik-baik saja deh, kasihan juga orang tuanya, pasti sangat mencemaskannya!" gumam Jonathan.
"Dia baru cerita katanya dia sangat ingin kerja di Jakarta!" kata Beni.
"Kenapa dia mau kerja di Jakarta ya?" tanya Kezia.
"Dia tidak mau kembali ke Medan!" ujar Beni.
"Tidak tau! Kau pikir aku nenek moyangnya yang tau segalanya!" cetus Beni kesal.
Seorang Dokter keluar dari ruang UGD itu.
"Bagaimana Dokter?" tanya Jonathan.
"Dia harus menjalani operasi ringan karena kakinya yang patah, dan ada luka jahitan yang cukup lebar!" jelas Dokter.
"Tapi, itu berarti dia akan lama berada di rumah sakit ini?"' tanya Jonathan.
"Ya, begitulah!" sahut Dokter.
"Siapa di antara kalian yang anggota keluarganya?" tanya Dokter lagi.
"Saya saudaranya Dokter!" sahut Jonathan.
"Baik, segera selesaikan administrasi dan tanda tangan untuk operasi!" kata Dokter.
"Baik Dokter!" jawab Jonathan.
Setelah itu Dokter pergi meninggalkan tempat itu.
"Bang, jadi malam ini kita bermalam di rumah sakit ini?" tanya Kezia.
"Ya kita harus bagaimana lagi Zia, di Jakarta cuma Abang yang Ratna kenal, kasihan dia kalau kita tinggal begitu saja!" jelas Jonathan.
"Tapi aku sudah ngantuk bang!" rajuk Kezia.
"Ya udah sini Kezia bobo di pangkuan Abang ya, Kezia bobo di sini ya Bang Jo jagain!" ucap Jonathan sambil memeluk Kezia dalam dekapannya.
Tak lama kemudian Kezia sudah tertidur dalam pangkuan Jonathan.
Malam semakin larut, Jonathan bermaksud untuk menggeser posisi Kezia supaya tidak pegal.
Namun Kezia malah semakin mempererat pelukannya.
"Ssst, sabar Kezia, tahan pegalnya ya, sebentar lagi, Kezia lurusin Bobonya ya, supaya tidak pegal!" kata Jonathan.
Kezia lalu mulai meluruskan kakinya, sementara kepala Kezia ada dalam pangkuan Jonathan.
Dengan lembut Jonathan kemudian membelai rambut istrinya itu. Lalu Kezia di selimutnya dengan jaket Jonathan.
Beni yang duduk tidak jauh dari tempat itu sejak tadi hanya diam saja.
"Ben, kau masih nungguin Ratna di sini kan? Aku bawa Kezia pulang dulu ya, kasihan dia kedinginan!" kata Jonathan.
"Iya Jo, nyantai saja! Aku juga tidak ada kegiatan lain kok, antarkan istrimu pulang, besok lagi kalian kan bisa datang kemari lagi!" kata Beni.
Akhirnya Jonathan mengangkat Kezia menuju ke mobilnya lalu dia segera melajukannya menuju ke apartemennya.
****