
Sore itu Jonathan bersiap akan berangkat ke rumah sakit bersalin untuk memeriksa kandungan Kezia.
Mereka nampak sudah siap dan berpakaian rapi, hati keduanya berdebar karena pertama kali hendak ke dokter kandungan.
Jonathan sudah mencatat rentetan pertanyaan yang akan dia tanyakan ke dokter nanti.
"Ayo Bang kita berangkat!" ajak Kezia.
Jonathan langsung berjongkok di depan Kezia.
"Ayo sayang Bang Jo gendong turun ke bawah!" ucap Jonathan.
"Bang Jo apaan sih! Jangan lebay ah!" sergah Kezia.
"Ini bukan lebay sayang, pokoknya Kezia jangan jalan terlalu jauh, jangan capek, jaga baik-baik calon anak Abang!" kata Jonathan.
Akhirnya Kezia menuruti Jonathan untuk di gendong turun sampai ke parkiran.
Sebenarnya Kezia malu karena hampir setiap hari Jonathan menggendongnya, karena Jonathan tidak bisa melihat Kezia sakit sedikit, capek sedikit, dia akan langsung dengan sigap menggendong Kezia, Kezia tau betul sifat suaminya itu, kalau tidak di turuti akan terjadi perdebatan yang panjang.
Jonathan berjalan turun ke bawah dengan menggunakan lift, dia terus berjalan sampai ke parkiran mobilnya.
"Terimakasih ya Bang, Bang Jo pasti capek ini!" ucap Kezia.
"Iya sayang, jangan sungkan sama suami sendiri!" sahut Jonathan yang langsung mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit bersalin.
"Bang Jo!" panggil Kezia.
"Ya sayang!"
"Bagaimana kalau kita pindah rumah? Apartemen terlalu tinggi dan kurang efektif untuk kita Bang, aku juga tidak rela kalau Bang Jo tiap hari gendong aku naik turun!" jelas Kezia.
"Pindah rumah? Tapi uang Bang Jo belum mencukupi untuk beli rumah baru Zia, apalagi Bang Binsar baru pinjam uang Abang untuk melamar Erin, sabar sedikit lagi ya sayang!" ujar Jonathan.
"Bang Jo lupa? Papaku itu developer yang punya banyak rumah di mana-mana! Dia juga menawarkan rumah untuk kita, gratis Bang!" kata Kezia.
"Maafin Bang Jo sayang, Bang Jo bukan bermaksud menolak pemberian Papa, tapi Bang Jo sangat ingin memberi Kezia apapun dengan jerih lelah Abang sendiri, dengan hasil kerja Abang!" jelas Jonathan.
"Bang Jo terlalu idealis! Aku kurang nyaman tinggal di apartemen Bang, apalagi sekarang aku sedang hamil anak Bang Jo, aku ingin punya halaman, punya taman, punya kolam ikan, rumah Bang, bukan Apartemen!" sergah Kezia.
"Iya sayang, Bang Jo akan pikirkan mengenai ini, sabar ya, Bang Jo janji tidak akan lama lagi kita akan pindah di rumah baru, rumah impian Kezia!" ucap Jonathan sambil mengecup jemari Kezia.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit bersalin.
Jonathan langsung menggandeng Kezia masuk, mereka mulai mendaftar dan mengantri di bangku depan ruang praktek Dokter kandungan.
"Bang, kalau aku hamil dan melahirkan nanti, akan sangat repot dan tidak nyaman kalau kita masih tinggal di apartemen!" lanjut Kezia yang masih kepikiran soal pindah rumah.
"Iya sayang, kasih kesempatan Bang Jo untuk memikirkan ini dulu, atau Bang Jo juga bisa beli rumah KPR yang bayarnya bisa cicil, kalau untuk DP Bang Jo masih punya tabungan!" kata Jonathan sambil mengelus lembut rambut Kezia yang bersandar di bahunya.
"Ya elah Bang, ngapain susah-susah, rumah Papaku seabrek-abrek, tinggal pilih mau besar atau kecil, tipe apa, lokasi di mana, Bang Jo mah gengsian, aku jadi sebel!" sungut Kezia.
"Jangan sebel dong sayang, Kezia coba bayangkan, betapa tidak bergunanya Bang Jo sebagai laki-laki, kalau rumah saja masih pemberian orang tua, walaupun orang tua Kezia kaya raya dan banyak rumah, tetap Bang Jo harus bayar harga untuk itu!" ungkap Jonathan.
"Tau ah Bang! Terserah bang Jo saja, aku pusing!" cetus Kezia.
"Ibu Kezia!" panggil seorang perawat dari depan pintu ruang praktek Dokter.
Jonathan dan Kezia langsung berdiri dan masuk ke ruangan itu.
"Begini Dok, istri saya hamil, sudah tes dengan alat tes kehamilan dan hasilnya positif!" jelas Jonathan.
"Wow, liar biasa, sudah berapa lama kalian menikah?" tanya Dokter Adam.
"Ehm, baru bulan lalu Dok!" jawab Kezia dan Jonathan malu-malu.
"Oya? Kapan terakhir Ibu Kezia datang bulan?" tanya Dokter lagi.
"Terakhir sebelum kami menikah Dok, setelah itu saya tidak datang bulan lagi sampai sekarang!" jawab Kezia.
"Wah luar biasa tok cer ya Pak Jo, mari kita lihat dedek nya sama-sama, ayo!" Dokter segera berdiri dan mengajak Kezia untuk berbaring di ranjang pasien untuk di lakukan USG.
Dokter mulai memeriksa kondisi kandungan Kezia.
"Wah, kandungan Ibu Kezia sudah berjalan tujuh Minggu, ini sudah kelihatan janinnya, selamat ya, kalian akan menjadi calon orang tua!" ucap Dokter Adam.
Wajah Jonathan dan Kezia terlihat senang dan bahagia.
Setelah menjalani pemeriksaan, mereka kembali duduk di hadapan dokter Adam untuk berkonsultasi.
"Saya akan memberikan vitamin dan obat penguat kandungan!" kata Dokter Adam.
Jonathan mulai mengeluarkan kertas catatan pertanyaan yang akan dia ajukan ke Dokter.
"Itu kertas apa Pak Jo?" tanya Dokter Adam sambil mengerutkan keningnya melihat kertas yang di keluarkan Jonathan.
"Ooh, ini pertanyaan saya Dok, yang akan saya tanyakan ke Dokter!" jawab Jonathan polos.
Dokter Adam tertawa mendengar ucapan Jonathan.
"Pak Jo, saran saya, carilah jawaban dari pertanyaan itu lewat internet, sekarang banyak sekali Dokter online yang bisa memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dari Pak Jo, kalau tanya sama saya yang penting-penting saja, karena banyak pasien yang mengantri di luar sana!" jelas Dokter Adam.
"Lagian Bang Jo nih malu-maluin saja!" cetus Kezia sambil menyenggol Jonathan.
"Maaf Dok, baiklah saya akan cari jawabannya dari internet, tapi ada satu hal yang mau saya tanyakan langsung ke dokter!" kata Jonathan.
"Silahkan Pak Jo!" sahut Dokter Adam.
"Kalau istri saya dalam keadaan hamil, apakah kami masih bisa berhubungan suami istri?" tanya Jonathan. Sementara Kezia menunduk menahan malu.
"Oh, tentu saja bisa, tapi di trimester pertama, atau tiga bulan pertama, janin masih sangat rentan, sebaiknya Pak Jo melakukannya dengan lembut dan perlahan, jangan terlalu kuat guncangannya, itu bisa membahayakan janin!" jelas Dokter Adam.
"Oh begitu Dok, syukurlah saya masih bisa menyalurkan hasrat saya, maklum Dok, saya selalu tidak bisa tahan kalau menyangkut hal itu!" ucap Jonathan tersipu.
Dokter Adam nampak tertawa terkekeh, perawat yang sejak tadi berdiri mendampingi juga terlihat menahan tawa.
Kezia mencubit paha Jonathan yang di rasa terlalu jujur dan lugas bertanya pada Dokter.
"Ingat Pak Jo, lakukan dengan lembut dan perlahan ya, jangan terlalu kuat dan bersemangat!" ujar Dokter Adam memperingatkan.
"Siap Dokter, kalau begitu kami pamit, istri saya sudah mencubit saya dari tadi, mungkin dia juga tidak tahan ingin melakukan ..."
"Bukan itu Bang!!" seru Kezia yang langsung menarik tangan Jonathan keluar dari ruangan itu. Dokter Adam dan suster hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
****