Heart's Owner

Heart's Owner
Duka Cita



Acara tujuh bulanan Kezia mendadak berubah jadi suasana duka. Martin, Ayah kandung Nando sudah meninggal dengan tenang akibat sakit keras yang di deritanya selama ini.


Martin pergi meninggalkan Nando, anak satu-satunya yang akan mewarisi aset dan perusahaan Ayahnya yang besar di Malaysia, padahal Nando masih sangat muda dan belum lulus kuliah.


Ricky langsung memesan tiket online penerbangan yang tercepat, walau bagaimana Nando adalah juga putranya walaupun bukan secara biologis, namun ada ikatan dan kasih sayang diantara mereka sejak Nando masih kecil.


"Maafkan Ibu Kezia, Ibu harus menemani Papa ke Malaysia, kasihan Nando, dia tidak punya siapa-siapa lagi selain kita!" ucap Lika sambil membelai rambut Kezia.


"Iya Bu, aku sangat mengerti, ajak Nando tinggal di sini lagi Bu, supaya dia terhibur dan tidak kesepian!" kata Kezia.


"Iya Zia, nanti Ibu dan Papa akan bujuk Nando supaya mau tinggal bersama kami lagi di sini, maafkan Ibu sekali lagi ya, tidak bisa menemani Kezia di usia tujuh bulan kehamilan Kezia!" ucap Lika sekali lagi.


Mereka pun kemudian saling berpelukan.


Akhirnya sore itu juga, Ricky dan Lika berangkat ke Malaysia.


Kezia dan Jonathan kembali menginap di rumah Ricky, untuk menemani adik-adik Kezia yang masih kecil.


"Daddy Michael menginap saja di sini biar ramai, Papa Ricky juga sudah menyiapkan kamar untuk Daddy!" ujar Kezia. Mereka masih nampak duduk di ruang tamu itu sambil menikmati rujak buah tujuh rupa buatan Lika.


"Iya Daddy, dari pada sendirian tinggal di apartemen!" timpal Jonathan.


"Terimakasih Nak, tapi jadwal Daddy besok sudah harus pulang ke Australia, karena istri Daddy, Diana sudah menunggu Daddy!" ucap Mr. Michael dengan wajah sendunya, karena dia batu saja menemukan putra kandungnya yang selama ini dia cari-cari.


"Baru juga beberapa hari kita bersama, Daddy malah mau pergi lagi!" gumam Jonathan sedih, karena dia baru bertemu dengan Ayah kandungnya.


"Maafkan Daddy Jo, Daddy harus mengurus perusahaan di Australia, juga menjemput Diana ke sini, Daddy akan memperkenalkan dia padamu, walau bagaimana dia itu adalah ibu tiri mu!" ucap Mr. Michael.


"Tidak apa-apa Bang Jo, lagipula Daddy Michael kan cuma sebentar perginya, hanya mengecek perusahaan dan menjemput Mommy Diana kan, aku juga mau kenal dengan Ibu Mertuaku itu!" sergah Kezia sambil mengelus dada Jonathan.


"Baiklah Daddy, tapi berjanjilah kau tidak akan pergi lama, jangan menghilang dariku untuk yang kedua kalinya!" sahut Jonathan.


Mr. Michael langsung memeluk Jonathan dengan erat.


"Cukup sekali aku kehilanganmu Jo, Dady tidak mau lagi, sebenarnya Daddy sangat ingin mengajakmu ke Australia, kampung halaman Daddy, tapi istrimu sedang hamil besar, nantilah setelah bayi kalian kuat!" ujar Mr. Michael sambil menepuk bahu Jonathan.


"Baiklah Daddy, aku akan menunggumu kembali!" ucap Jonathan.


****


Hari sudah malam saat Ricky dan Lika sampai di Malaysia.


Tanpa menunggu lagi, Mereka langsung ke rumah sakit di mana Almarhum Martin di Rawat.


Terlihat di meja resepsionis dan administrasi, Nando sedang mengurus dan menyelesaikan masalah administrasi rumah sakit.


"Nando!" panggil Ricky.


Nando menoleh, wajahnya nampak lelah dan sembab, matanya terlihat merah.


Ricky langsung memeluk putranya itu.


"Kuatkan hatimu Nak, kau tidak sendiri, ada Papa dan Ibu yang selalu mendukungmu!" ucap Ricky.


"Di mana jenasah Ayahmu Nando?" tanya Lika.


Nando kemudian mengajak Ricky dan Lika bermalam di rumahnya.


"Do, kau pulang saja ke Indonesia, lanjutkan kuliahmu di sana, kembangkan usaha Ayahmu juga di sana, pindahkan saja perusahan yang di sini ke Indonesia!" saran Ricky.


"Iya Do, di sana banyak orang yang menyayangimu, sementara di sini kau tak punya siapa-siapa lagi!" timpal Lika.


"Aku memang berencana akan pulang ke Indonesia, tapi aku harus selesaikan urusanku dulu di sini! Terutama masalah perusahaan Ayah Martin!" ucap Nando.


"Baiklah sayang, kalau begitu besok Ibu dan Papa pulang duluan ya ke Indonesia, setelah urusanmu selesai, cepatlah pulang, rumah itu menunggumu, kita akan berkumpul dan bersama lagi seperti dulu!" kata Ricky.


"Terimakasih Pa!" ucap Nando.


"Hari ini di rumah ada acara tujuh bulan kandungan Kakakmu Do, mereka sedang menginap di rumah, Kezia begitu cemas ketika mendengar Atau Martin meninggal, dia mengkhawatirkan mu Do!" ujar Lika.


"Nando, Papa tau kesusahan mu mengelola perusahaan Ayahmu, kau masih sangat muda, untuk membantumu, kita bisa mengkolaborasikan perusahan ini menjadi perusahaan besar, kebetulan Jonathan kakak iparmu juga akan diwariskan aset dan perusahaan dari Daddy kandungnya, dengan kita bersatu, maka kita akan kuat, keluarga kita akan tetap kokoh!" jelas Ricky.


"Ide Papa bagus, aku sangat setuju, dengan begitu bebanku menjadi ringan karena kalian pasti akan membantuku!" sahut Nando.


"Sekarang kau istirahatlah Do, kau pasti lelah selama ini mengurusi Ayahmu!" ucap Ricky. Nando kemudian Menganggukan kepalanya.


****


Sementara itu di rumah Ricky, Kezia nampak gelisah dalam tidurnya.


Perutnya kini semakin besar dan sesak. Biasanya Jonathan selalu mengelus perut Kezia dan membuat istrinya itu nyaman.


Namun malam ini Jonathan nampak sudah pulas tertidur, mungkin karena dia kelelahan seharian ini.


Kezia terduduk di dipan tempat tidurnya, dia lalu meraih ponselnya.


Banyak pesan dan notifikasi di ponsel Kezia.


Saat Kezia membuka akun media sosialnya, di situ Kezia melihat postingan dari Beni, Beni yang sudah menikah dengan Ratna.


Kemudian Kezia membuka foto-foto yang di posting oleh Beni. Foto-foto pernikahan mereka. Kezia tersenyum ikut merasakan kebahagiaan mereka.


Kemudian Kezia mulai mengetik di kolom komentar, 'Selamat menempuh hidup baru ya Mas Beni dan Mbak Ratna, semoga bahagia selalu dan di limpahkan rejekinya!'


Saat Kezia melihat kumpulan foto yang terakhir, nampak wajah Ratna yang sendu, tidak mencerminkan kebahagiaan, ada apa dengan Ratna.


Tak lama kemudian terdengar ponsel Jonathan yang bergetar, ternyata Beni yang meneleponnya, karena Jonathan masih tertidur pulas, Kezia mengangkat telepon dari Beni.


"Halo Mas Beni, ada apa telepon malam-malam? Bang Jo sudah tidur!" kata Kezia.


"Maaf Zia, aku mau sedikit curhat sama Jo, kalau dia sudah tidur, besok saja deh aku telepon lagi!" ujar Beni.


"Lho, kalian baik-baik saja kan di Medan? Tadi aku lihat postingan Mas Beni lho, kalian pasangan yang cocok, Mbak Ratna juga kelihatan cantik sekali!" puji Kezia.


"Terimakasih Zia, Minggu depan aku dan Ratna akan ke Jakarta, tapi ada hal yang ingin aku tanyakan pada Jo mengenai Ratna ..." ucap Beni.


Untuk beberapa saat lamanya Kezia terdiam. Tidak berani bertanya lagi.


****