
Rita, manager Marketing membantu Ricky untuk membentuk beberapa tim, untuk pameran properti di beberapa mall besar di Jakarta.
"Mbak Rita, aku di jadikan satu tim sama Jonathan ya!" bisik Kezia pada Rita, hingga Rita mengerutkan keningnya heran.
"Non Kezia mau ikutan pameran juga? Capek lho Non, berdiri sepanjang hari dan prospekin orang-orang!" ujar Rita.
"Papa sudah tau kok Mbak! Jangan bilang kalau aku anak Papa! Aku mau belajar kerja dari bawah juga!" cetus Kezia.
"Tapi kenapa Non Kezia ingin satu tim dengan Jo?" tanya Rita menyelidik.
"Aku pengen ngerjain dia Mbak, waktu itu dia pernah bikin malu aku depan umum!" sahut Kezia.
Rita Menganggukan kepalanya walaupun dia tak paham apa maksud Kezia.
"Hmm, baiklah, nanti setelah aku tulis nama timnya, Pak Ricky sendiri yang akan mengumumkannya!" ujar Rita akhirnya.
Setelah para marketing membuat market plan dan program kerja dan promosi. Tibalah saat mengumumkan tim yang akan berangkat pameran ke mall.
"Ada 5 tim yang akan berangkat, satu tim terdiri dari dua orang, sisanya membuat iklan di media sosial, nanti Minggu depan akan ada rolling lagi, untuk nama-nama timnya nanti Pak Ricky yang akan membacakannya!" kata Rita menjelaskan.
Tak lama kemudian Pak Ricky masuk sambil membawa selembar kertas. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi.
"Salam semangat semuanya, waktu saya tidak banyak, sebentar lagi saya akan ada meeting developer seluruh Indonesia, untuk mencapai target perusahaan, saya berharap kalian semua bekerja dengan sungguh-sungguh, keluarkan ilmu marketing kalian semua!" ujar Pak Ricky.
Kemudian dia mulai membacakan nama-nama tim yang akan berangkat pameran. Hingga giliran terakhir adalah tim Kezia dan Jonathan.
Tiba-tiba Jonathan mengangkat tangannya.
"Maaf Pak, kalau bisa saya jangan satu tim dengan wanita ini, sebab saya akan stress karena dia selalu menyusahkan saya!" seru Jonathan lantang.
Pak Ricky menggaruk kepalanya, Jonathan tidak tau kalau wanita yang dia maksud adalah putrinya Ricky, Owner di perusahaan tempatnya bekerja.
"Jonathan! Kau harus belajar menghargai partner kerjamu, siapapun orangnya!!" Ujar Ricky tegas.
"Baik Pak!" sahut Jonathan, sekilas dia melirik ke arah Kezia dengan pandangan sinis. Kezia semakin geram melihat sikap Jonathan yang cuek dan dingin terhadapnya.
Setelah briefing selesai, tim yang ikut pameran ke mall segera mempersiapkan diri, mereka menuju ke mall-mall yang di maksud dengan memakai kendaraan fasilitas dari perusahaan.
Mereka langsung berangkat ke tempat tujuan masing-masing, di mall tersebut sudah di sediakan fasilitas booth dan banner dari perusahaan. Rita selaku manager mengontrol setiap marketing yang melakukan pameran hari ini.
"Seharusnya tadi kau jangan menolakku di depan umum begitu Bang Jo! Kesannya aku ini buruk sekali!" sungut Kezia sambil menyusun banner dan brosur.
"Setiap aku bertemu denganmu, aku memang selalu bernasib buruk!" sahut Jonathan cuek.
"Kau ini menyebalkan sekali!! Kau pikir kau lebih baik dari aku??!" seru Kezia tak mau kalah.
"Bagaimana aku dapat kejar target marketing kalau kau selalu jadi bayanganku??" sungut Jonathan.
Suasana mall mulai ramai siang itu, mereka mulai bergerilya membagikan brosur, ada beberapa orang yang datang untuk sekedar tanya-tanya, dengan berusaha seramah mungkin, Jonathan melayani para calon customer.
Semakin lama banyak orang yang berkerumun di booth Jonathan dan Kezia, ternyata mereka bukan tertarik untuk membeli rumah, namun hanya ingin dekat dan mengobrol dengan Jonathan yang terlihat begitu tampan dan menawan itu.
"Bang, boleh minta nomor ponselnya tidak" tanya seorang wanita yang sejak tadi sudah banyak bertanya mengenai rumah itu.
"Boleh kalau untuk menanyakan rumah, itu kan di brosur sudah ada nomor kontaknya!" sahut Jonathan.
"Mau nomor pribadi Abang saja!" ujar wanita itu.
Beberapa orang mengikuti untuk meminta nomor ponsel Jonathan.
"Hei! Kalau kalian serius tertarik membeli rumah atau mau lihat lokasi, nih lihat di brosur! semua sudah lengkap berikut nomor kontaknya! Dia bukan artis yang harus kalian wawancarai!" seru Kezia agak jutek.
Tak lama kerumunan itu mulai mereda, banyak orang bersungut-sungut karena Kezia menyuruh mereka bubar.
"Kau ini keterlaluan sekali! Bukan begitu cara marketing yang baik!!" sengit Jonathan.
"Kau dengar Bang! Kita ini di sini jual rumah, bukan jual tampang!" balas Kezia tak kalah sengit.
"Siapa yang jual tampang? Memangnya ada yang salah dari tampang ku??" tanya Jonathan.
"Nah itu, orang datang kesini bukan tanya rumah malah tanya nomor ponselmu!" sahut Kezia.
"Tuh kan benar, kalau ada kamu aku selalu ketiban sial, semua calon pembeli pada kabur satu-satu, karena melihat tampang mu yang jutek itu!" balas Jonathan.
Tiba-tiba ada dua orang laki-laki yang mendekati booth mereka. Jonathan dan Kezia langsung tersenyum ramah pada mereka.
"Selamat siang Pak, ini ada rumah modern dengan desain klasik yang mewah, harga masih promo lho Pak!" kata Jonathan.
"Hmm, ini perumahan yang pengembangnya perusahaan Pak Ricky bukan?" tanya laki-laki yang terlihat sangat tampan dan berwibawa itu.
"Iya Pak, kok Bapak tau?" tanya Kezia.
"Oh, saya Gio, yang bekerja sama dengan perusahaan Pak Ricky dalam hal teknik dan kontruksi bangunan!" kata Laki-laki yang ternyata juga adalah seorang pengusaha itu.
"Wah, beruntungnya saya bisa ketemu Bapak! Teman satu kos saya katanya bekerja di tempat Pak Gio, apakah Pak Gio ini yang di maksud?" tanya Jonathan antusias.
"Siapa nama teman kos mu itu?" tanya Gio.
"Namanya Andri Pak, dia sebentar lagi akan menikah dengan Rosi, pacarnya!" jawab Jonathan.
"Oh ya, betul sekali, Andrian Saputra kan, dan Rosi calon istrinya, saya kenal betul dengan mereka, dan saya juga berhutang Budi pada mereka, karena mereka sudah menemukan anak saya yang pernah hilang!" ungkap Gio.
"Waaah, ternyata dunia ini sempit ya Pak! Senang bisa bertemu dengan Bapak, kata Andri, Bapak itu orang nya baik dan Royal!" ujar Jonathan.
Gio hanya tersenyum menanggapi, kemudian dia menoleh pada laki-laki yang berdiri di sebelahnya.
"Pak Samsul, apakah kau menyukai desain rumahnya? Kau pilihlah satu untuk keluargamu, aku yang akan menghadiahkannya padamu!" ucap Gio.
"Trima kasih Mas Gio!" ucap Pak Samsul dengan wajah berbinar.
Kemudian Gio mengambil brosur di meja booth, dan mengeluarkan kartu namanya.
"Aku ambil satu rumah untuk supir setiaku ini, tolong kau urus prosesnya, aku akan bayar cash, kalau sudah selesai di proses langsung hubungi aku!" kata Gio sambil beranjak melangkah meninggalkan booth Jonathan dan Kezia.
"Kezia, kita closing lho! Dia mau bayar cash! Yeayy!! Hari pertama pameran kita sudah dapat closing an!!" seru Jonathan senang.
Kezia tetap berdiri sambil melipat kedua tangannya.
"Hmm, bukankah tadi barusan kau bilang, kalau bersamaku kau selalu ketiban sial?!" sahut Kezia cuek.
Jonathan tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
"Aku cabut kata-kataku, kau tidak bawa sial lagi! Maafkan aku!" ucap Jonathan sambil mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan.
Kezia membalas uluran tangan Jonathan, namun matanya menangkap sesuatu yang dilihatnya di belakang Jonathan yang membuat matanya terbelalak lebar.
*****