
Pagi itu, saat Jonathan baru keluar dari kamar kosnya hendak berangkat ke kantor, Jonathan di kejutkan oleh kedatangan Andri yang tiba-tiba sudah muncul di depan kos nya.
"Eh, Andri, tumben main kesini? Wah, yang sudah nikah lain, aura nya beda!" ujar Jonathan terkesiap.
Mereka pun duduk di bangku depan kos Jonathan.
Andri mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah amplop berwarna coklat.
"Tadi aku baru dari ATM, uang komisi dan gaji mu sudah cair Jo!" kata Andri sambi menyodorkan amplop itu.
"Wah, trimakasih Ndri, aku jadi tidak enak merepotkanmu, apalagi sekarang kan kau sudah tidak tinggal di kos an ini lagi!" ujar Jonathan.
"Tapi kan istriku masih di cafe depan!" sergah Andri.
"Nanti aku coba buka rekening sendiri deh Ndri, coba aku tanya si Kezia bagaimana prosedurnya!" kata Jonathan.
"Kamu dah jadian sama si Kezia Jo?" tanya Andri antusias.
"Anggap saja begitu!" sahut Jonathan.
"Nah, gitu dong! Jadi laki-laki tuh harus tegas sama perasaan, ngomong-ngmong suaramu bagus juga Jo waktu nyanyi di panggung! Istriku sampai baper tau nggak!" ujar Andri.
"Kau bisa saja! Itu juga spontanitas karna di suruh atasan, kalau ingat itu aku kan jadi malu Ndri!" kata Jonathan.
"Oke deh Jo, aku langsung jalan nih ke kantor!" Andri berdiri dan mulai memakai helmnya.
"Trimakasih lho ini!" kata Jonathan sambil mengacungkan amplopnya.
Andri kemudian langsung melajukan motornya meninggalkan kos Jonathan.
Setelah Andri pergi, Jonathan segera merogoh ponselnya dan mulai menekan nomor telepon Ratna.
"Halo Bang Jo!" terdengar suara Ratna dari sebrang telepon.
"Halo Ratna, Abang cuma mau minta nomor rekening Bapak Ratna, mau mulai mencicil Bayar hutang!" kata Jonathan.
"Bapak tidak punya nomor rekening Bang, biasanya kalau ada transaksi selalu pakai nomor rekening aku!" jawab Ratna.
"Kalau begitu, Abang titip Ratna saja ya uang cicilannya buat Bapak Ratna?" tanya Jonathan.
"Boleh Bang, nanti aku akan sampaikan ke Bapak!" sahut Ratna.
"Kirim momor rekeningnya di pesan singkat ya Ratna, Bang Jo gampang lupa soalnya!" kata Jonathan.
"Iya Bang, nanti Ratna kirim, sekali lagi maafin bapak ya Bang!" ujar Ratna.
"Iya Ratna, kau tenang saja!" sahut Jonathan.
Kemudian Jonathan mematikan sambungan teleponnya.
Kemudian Jonathan segera mengeluarkan motornya dari garasi kosnya, lalu mulai melajukan motornya itu menuju ke kantornya yang hanya berjarak lima menit dari tempat kosnya.
Setelah memarkirkan motornya, Jonathan langsung masuk ke dalam lobby, suasana belum begitu ramai pagi itu.
"Bang Jo! Sini deh!" panggil Lusi, sang resepsionis.
Jonathan lalu berjalan menghampiri Lusi.
"Ada apa Mbak?" tanya Jonathan.
"Kamu keren lho Bang, nih lihat! Waktu kamu nyanyi kemarin itu, lagumu itu jadi viral! Lihat tuh!" Lusi menyodorkan ponselnya ke arah Jonathan.
Jonathan melotot melihat video dirinya yang sedang nyanyi, menjadi viral di banyak media sosial, banyak komentar dari berbagai netizen.
"Alamak!! Kenapa jadi begini?? Gawat ini!!" seru Jonathan.
"Lho! Gawat kenapa Bang? Harusnya kan Bang Jo bangga dong, gara-gara Abang, banyak orang yang mau ambil rumah di sini, lihat tuh ... dalam sehari saja sudah jutaan viewer!!" ujar Lusi.
"Wah, berarti bener kata Kezia, lagu yang kemarin itu jadi viral!" seru Jonathan.
"Kezia? Jangan-jangan yang di maksud Abang kemarin itu, Kezia ya?" tanya Lusi.
"Pikir saja sendiri Mbak!" sahut Jonathan.
"Jangan bilang Bang Jo dah jadian sama Kezia!" kata Lusi.
"Bang Jo sudah tau belum siapa Kezia?" tanya Lusi.
"Ya tau lah! Kezia itu, anak orang kaya, aku pernah kok kerumahnya, rumahnya besar kayak istana!" kata Jonathan.
"A .. Abang tau siapa papanya Kezia?" tanya Lusi lagi.
"Tidak tau! Waktu itu mereka pas pergi ke Singapura, jadi aku tidak ketemu deh, memang kenapa sih Mbak?! Kepo aja!" sungut Jonathan.
"Tidak Bang, nanya aja!" ujar Lusi.
Pak Ricky masuk dari arah pintu lobby, dia mengenakan jas dan berpenampilan sangat rapi.
Melihat Jonathan yang ada di meja resepsionis, dia langsung mendekat ke arahnya.
"Hei Marketing!! Ikut aku ke ruanganku!" titah Ricky.
"Baik pak!" sahut Jonathan.
Merekapun berjalan ke arah lift dan naik ke lantai atas. Saat tiba di lantai 3 gedung itu, mereka lalu masuk ke dalam ruangan Ricky.
"Duduk!" titah Ricky yang langsung duduk menghadap meja kerjanya. Jonathan pun duduk di hadapan Ricky.
"Ada apa Bapak memanggil saya? Apa saya punya kesalahan?" tanya Jonathan.
"Begini Jo, melalui pameran kemarin, ternyata penjualan rumah yang kita Launching lumayan bagus, aku juga sudah study banding ke Singapura, di sana aku juga punya proyek perumahan, kebetulan yang jadi kepala marketingnya itu adalah Mario, masih muda seperti kamu!" kata Ricky.
"Jadi maksud Bapak apa?" tanya Jonathan tak mengerti.
"Aku bermaksud mengirim mu ke Singapura, kau belajar dari Mario tentang teknik-teknik penjualan, kalau kau berhasil jadi marketing handal, aku akan mengangkat mu jadi direktur marketing!" jelas Ricky.
"Apa Pak? Beneran Pak??" tanya Jonathan tak percaya.
"Ya beneran lah! Kapan aku pernah bercanda denganmu?? Ini karena kemarin penjualanmu bagus saja, makanya aku memilihmu!" tambah Ricky.
"Wah trima kasih Pak!! Trimakasih atas kesempatan yang Bapak tawarkan, saya sangat terharu!!" ucap Jonathan sambil menyalami dan mencium tangan Ricky.
"Jangan pakai cium tangan! Aku bukan mertuamu!" sergah Ricky.
"Eh, maaf Pak, Bapak memang bukan mertua saya, calon mertua saya itu ya Papanya pacar saya!" ujar Jonathan.
"Ya sudah, sekarang kau kembali bekerja, biar Rita yang akan mengurus keberangkatan mu nanti, semua biaya termasuk uang saku akan di tanggung dari perusahaan, jadi kau tinggal bawa diri saja, dan otak buat belajar!" tambah Ricky.
"Siap Pak! Sekali lagi terimakasih ya Pak!" ucap Jonathan lagi.
"Oke, tapi jangan nyanyi di sana ya, kamu mau jadi marketing handal atau penyanyi??" cetus Ricky.
"Beres Pak, saya sudah ketemu dengan pujaan hati saya, jadi sudah nggak kangen lagi!" sahut Jonathan.
"Baguslah, aku doakan kau cepat berhasil, supaya pacarmu dan calon mertuamu nanti bangga padamu!" ujar Ricky sambil berdiri dan menepuk bahu Jonathan.
Tak lama kemudian, Jonathan sudah keluar dari ruangan Ricky.
Sebelum masuk ke ruang marketing, Jonathan langsung merogoh ponselnya dan menelepon Kezia.
"Halo Bang!" suara Kezia terdengar dari seberang.
"Halo Zia, nanti sore ketemuan yuk di kampus, bang Jo ada kabar gembira buat Kezia!" kata Jonathan bersemangat.
"Kabar gembira apa sih Bang?" tanya Kezia.
"Pokoknya kabar gembira, ini menyangkut masa depan kita!" sahut Jonathan.
"Hah? Masa depan??"
Bersambung ...
****
Halo guys...
jangan lupa selalu like dan vote kisah sederhana ini ya ...
Trimakasih .... 🤗❤️🙏😘