
Jonathan merasa risih karena Ratna selalu ingin menyuapinya dan bermanja-manja di depan Kezia dan Erin.
"Bang Jo, gantian dong suapin aku!" kata Ratna. Jonathan langsung melotot.
"Jangan, makan saja sendiri, lihat tuh, yang lain juga makan sendiri!" kilah Jonathan.
"Iiih Bang Jo, kan kita itu pacaran, wajar dong kalo saling menyuapi, Bang Jo mah kurang romantis!" sungut Ratna.
Erin sedari tadi berusaha menahan tawanya.
"Mbak Ratna, kalau mau romantisan pas berduaan dong, jadi tidak ada yang bakal iri atau cemburu!" cetus Erin.
Spontan Kezia menendang kaki Erin, hingga gadis itu meringis.
"Memangnya siapa yang iri? Bukannya mereka juga tau kalau aku pacarnya Bang Jo?" tanya Ratna.
"Sudah! Sudah! Terserah mereka mau apa! Aku mau ke toilet!" cetus Kezia yang tiba-tiba berdiri dan langsung berjalan ke arah toilet yang agak jauh dari restoran itu.
"Itu kenapa si Kezia? Kok mukanya berubah jutek gitu? Jangan-jangan dia beper karena masih jomblo!" ujar Ratna.
"Sudahlah, lanjutkan makan mu, setelah itu kita pulang!" sahut Jonathan.
Mereka lalu melanjutkan makan mereka, tiba-tiba Jonathan berdiri dari duduknya.
"Mau kemana Bang?" tanya Ratna.
"Ke toilet!" sahut Jonathan yang langsung berjalan cepat ke arah toilet.
"Aneh ya di Jakarta, toilet saja jadi tempat favorit!" gumam Ratna. Erin hanya tersenyum menanggapi.
Sementara itu di toilet, Kezia membasuh wajahnya dengan air, mendinginkan otaknya yang sedang panas malam itu.
Jonathan berdiri di depan toilet, dia ternyata menunggu Kezia keluar dari toilet.
Saat melihat Kezia keluar dari toilet, Jonathan langsung menghampirinya.
"Kezia!" panggil Jonathan.
"Lho, Bang Jo ngapain di sini?" tanya Kezia.
"Zia, aku minta maaf ya, Zia, aku tak bermaksud membuatmu panas dengan ulah Ratna!" ucap Jonathan.
Kezia mengerutkan keningnya, mencoba mencerna perkataan Jonathan.
"Kenapa Bang Jo harus minta maaf? Aku tidak menyalahkan Bang Jo!" kata Kezia.
"Tapi, kau kelihatan cemburu Kezia!" ucap Jonathan. Kezia langsung tertawa mendengarnya.
"Dih, Bang Jo pe de amat sih! Siapa juga yang cemburu, kalian kan pacaran, wajar saja kalau mesra-mesraan, sudah deh! Kita balik sekarang, nanti pacar mu mencarimu!" cetus Kezia.
Kezia langsung berjalan melewati Jonathan, namun tangan Jonathan menarik tangan Kezia.
"Kezia, trimakasih ya hadiahnya, aku suka, besok aku langsung pakai ke kantor!" bisik Jonathan.
Kezia tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
"Iya Bang, maaf ya aku belikan Bang Jo pakaian dalam juga, soalnya waktu aku pernah ke kamar kos Bang Jo, pakaian dalam Bang Jo banyak yang bolong!" ujar Kezia jujur.
"Ah Kezia, aku jadi malu, ternyata kau sangat perhatian bahkan dalam hal yang terkecil, aku makin ..."
"Sudah deh Bang, kamu pipis dulu sana, supaya kita tidak bareng, nanti Ratna curiga lagi!" potong Kezia cepat sambil menepiskan tangannya dari genggaman Jonathan.
Kezia lalu berjalan ke arah restoran tempat mereka makan. Jonathan memandang Kezia sambil tersenyum.
Erin dan Ratna sudah selesai menghabiskan makanannya, Kezia langsung mengajak Erin pulang.
"Ratna, kita pulang duluan ya, takut kemaleman sampai rumah!" pamit Kezia sambil mengambil tasnya.
"Lho, kok aku di tinggal sendirian!" kata Ratna.
"Sebentar lagi juga Bang Jo balik!" sahut Kezia.
"Kita duluan ya!" pamit Erin.
Kezia dan Erin langsung meninggalkan tempat itu, Ratna hanya tertegun memandang mereka.
Tak lama Jonathan datang, dia heran melihat Ratna yang menunggu sendirian.
"Ratna, kok sendirian?" tanya Jonathan.
"Mereka pulang duluan, katanya sudah malam!" jawab Kezia.
"Yah, masa langsung pulang? Aku masih mau keliling kota sama Bang Jo, mau lihat Monas!" ujar Ratna.
"Jangan sekarang Ratna, aku capek!" sahut Jonathan.
"Hmm, ya sudah deh, tapi besok-besok kita ke Monas ya Bang!" ajak Ratna.
"Iya!" singkat Jonathan yang langsung berjalan duluan untuk membayar makanan mereka.
Mereka langsung berjalan menuju ke parkiran.
Mereka langsung naik ke atas motor, dan melaju meninggalkan area mall itu.
"Aku senang deh, Bang Jo sudah mempersiapkan helm untuk aku, jadi kita bisa sering jalan-jalan ya Bang!" ujar Ratna.
Jonathan diam tidak menjawab perkataan Ratna. Ratna mulai memeluk pinggang Jonathan. Entah mengapa, Jonathan merasa begitu risih, berbeda saat Kezia yang memeluknya.
"Ratna, jangan terlalu menempel, panas!" ujar Jonathan yang merasa kurang nyaman.
"Eh, maaf Bang, habis enak kalau peluk Bang Jo, wangi dan hangat!" kata Ratna sambil mundur menjauh.
"Ratna kapan kembali ke Medan?" tanya Jonathan.
"Tadi sore Bapak telepon, katanya aku harus pulang lusa, padahal kan aku masih betah di sini, apalagi bisa terus dekat sama Bang Jo!" Jawab Ratna.
"Memang perempuan itu jangan pergi jauh meninggalkan keluarga!" ujar Jonathan.
"Tapi kan ada Bang Jo di sini, aku tidak sendirian dong, Bang Jo kan calon suami aku!"
Ciiiiit!
Tiba-tiba Jonathan reflek mengerem motornya. Ratna menepuk bahu Jonathan karena kaget.
"Bang Jo apaan sih! Bikin orang jantungan tau!" sungut Ratna.
"Maaf Ratna!" ucap Jonathan yang kembali melajukan motornya.
"Bang Jo akhir-akhir ini suka aneh deh, sikapnya jadi datar-datar sama aku, tidak ada geregetnya sama sekali, kenapa Bang?" tanya Ratna.
Jonathan diam tidak menjawab pertanyaan Ratna, sampai mereka sampai di tempat kosnya Rosi.
"Sudah sampai Ratna!" kata Jonathan yang langsung mematikan mesin motornya.
"Ya sudah deh, Bang Jo pulang sana, besok kerja kan?" tanya Ratna. Jonathan Menganggukan kepalanya.
Lalu Jonathan mulai menyalakan kembali mesin motornya.
"Bang, masa aku tidak di cium?" tanya Ratna saat Jonathan akan berjalan pulang.
"Nanti saja ya, Abang sakit perut Ratna, mau cepat-cepat pulang!" jawab Jonathan.
"Ya sudah deh, hati-hati ya bang!" kata Ratna sambil melambaikan tangannya ke arah Jonathan yang sudah melajukan motornya.
Tidak sampai 10 menit Jonathan sudah sampai di tempat kosnya, setelah dia memarkirkan motornya, dia langsung masuk kekamar dan menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya.
Matanya memandang hadiah pemberian Kezia yang masih tergeletak di tempat tidurnya itu. Jonathan mengambilnya sambil tersenyum. Dia langsung membuka pakaiannya termasuk pakaian dalamnya lalu mulai memakai pakaian pemberian Kezia.
Kemudian Jonathan mengambil ponselnya dan mulai menelepon Kezia.
Setelah 15 menit baru Kezia mengangkat telepon Jonathan.
"Halo Zia, kok baru di angkat, sudah di rumah belum?" tanya Jonathan.
"Sudah Bang, bagi sampe, ngapain telepon, kan tadi sudah ketemu!" jawab Kezia.
"Hadiah yang kamu berikan bagus Zia, itu kan barang mahal, untuk apa kau memberikan benda mahal itu untukku?" tanya Jonathan.
"Karena Bang Jo membutuhkan itu semua, Oya, ukurannya pas tidak? Kalau tidak pas bilang ya, boleh di tukar kok!" kata Kezia.
"Sangat pas Kezia, kamu tau saja ukuran ku, bahkan pakaian dalamnya juga sangat pas, dan nyaman!" ujar Jonathan senang.
"Syukur deh Bang! di pakai ya!"
"Pasti!"
"Good night Bang Jo!"
"Good night cantik!"
****