Heart's Owner

Heart's Owner
Acara Tujuh Bulanan



Tanpa terasa, kandungan Kezia kini telah berusia tujuh Bulan, perutnya sekarang sudah terlihat semakin membuncit, gerakan yang di dalam juga semakin aktif.


Siang itu Kezia dan Jonathan kembali memeriksa kandungannya di Dokter. Memeriksa kehamilan setiap bulan adalah momen yang paling membahagiakan bagi Kezia dan Jonathan, dimana mereka bisa melihat pertumbuhan bayi mereka melalui alat USG tiga dimensi.


"Menurut hasil USG dan pemgamatan saya, 99 persen bayi kalian berjenis kelamin laki-laki!" ujar Dokter Adam.


Kezia dan Jonathan saling berpandangan dengan mengulas senyum kegembiraan.


"Bayi kita laki-laki Bang!"seru Kezia berbinar.


"Wah, jagoan Papi ini!" timpal Jonathan sambil mengelus lembut perut Kezia.


"Pantas saja gerakannya lincah Dok, seharian ini dia tidak berhenti bergerak dan menendang saya, aktif sekali dia!" kata Kezia.


"Bagus dong Bu, itu adalah tanda bahwa bayi kalian sehat, tetap rutin di minum vitaminnya, juga susu untuk pembentukan tulang dan kalsiumnya!" ujar Dokter sambil membantu Kezia bangun dari posisi berbaring nya.


"Dokter, apakah usia kehamilan ini kami masih bisa melakukan hubungan suami istri?" tanya Jonathan.


"Tentu saja Pak Jo, melalui hubungan intim akan mempererat rasa kasih sayang yang dapat di rasakan bayi juga, tentunya pertumbuhan bayi secara psikologis akan bagus, karena orang tuanya saling melimpahkan kasih sayang!" jawab Dokter Adam.


"Wah, untung saja setiap malam saya selalu menengok bayi saya, pantas saja dia senang dan semakin lincah bergerak!" ujar Jonathan senang.


"Tapi ingat Pak Jo, seperti yang pernah saya bilang di awal, lakukan dengan perlahan dan jangan terlalu dalam jika ingin menengok Dedek!" lanjut Dokter.


"Bagaimana tidak dalam Dok, junior saya sekitar 15 centi, itu belum on!" sahut Jonathan jujur.


Kembali Kezia mencubit paha jonathan dengan keras, hingga Jonathan meringis kesakitan.


"Bang Jo di jaga omongannya!" hardik Kezia. Dokter Adam tertawa.


"Tidak apa-apa Bu Kezia, lebih baik terbuka diantara kita, wajar saja ukuran milik Pak Jo di atas rata-rata, karena gen nya ada unsur bulenya, itu bagus untuk kepuasan batin Ibu Kezia!" ujar Dokter, wajah Kezia merah menahan malu.


Ini Dokter dan Jonathan sama-sama jujurnya.


"Kezia, apa salah Abang tanya begitu? Dari pada nanti malah kebablasan!" cetus Jonathan.


"Yah tapi jangan jujur-jujur juga kali Bang, segala ukuran panjang di sebut juga!" sungut Kezia.


Setelah mereka selesai memeriksakan kandungan Kezia, mereka langsung pulang ke rumah Ricky, sore ini akan ada acara tujuh bulanan kandungan Kezia.


Ricky dan Lika mengundang saudara dan kerabat dekat mereka, Mr. Michael juga sudah menunggu kedatangan Kezia dan Jonathan sedari tadi.


Tak lama kemudian, mobil Jonathan sudah terparkir di depan rumah Ricky. Tanpa menunggu mereka langsung masuk ke dalam rumah itu yang terlihat ramai dan meriah.


"Jo, bagaimana cucu Daddy? Dia laki-laki atau perempuan?" tanya Mr. Michael dengan antusias.


"Dia laki-laki Daddy!" jawab Jonathan sambil merangkul Kezia.


"Iya Daddy, cucu Daddy laki-laki, pasti dia akan tampan seperti Papinya, juga Grandpa nya!" tambah Kezia.


"Juga Opanya!" celetuk Ricky yang tiba-tiba muncul dan mendekati mereka.


"Wah, Papa Ricky sudah siap di panggil Opa?" goda Kezia.


"Siap dong, sebentar lagi Papa akan punya cucu laki-laki, dan Papa akan buat perayaan besar-besaran saat dia lahir nanti!" ujar Ricky bangga.


"Yah, dia cucumu Pak Ricky, tapi kau jangan lupa, dia juga cucuku!" cetus Mr. Michael.


"Siapa sangka, kita sudah menjadi besan Mr. Michael, pokoknya selain Jo, cucuku kelak akan mewarisi semua Bisnisku!" kata Ricky.


"Kau juga jangan lupa, cucuku ini akan mewarisi semua aset ku dan perusahaanku, yang akan di kelola Papinya kelak!" timpal Mr. Michael.


"Sudah-sudah, cucunya belum lahir, sudah di perebutkan saja, sekarang lebih baik kita makan, ada rujak tujuh buah tuh, Kezia, ayo makan Nak, kau yang butuh makanan dan nutrisi untuk bayimu!" Lika yang tiba-tiba muncul, langsung menggandeng tangan Kezia menuju ke ruang makan.


Setelah mereka selesai makan siang, Jonathan mulai mengobrol dengan Ricky dan Mr. Michael, dia bahagia akhirnya kini memiliki dua Ayah sekaligus yang sangat menyayanginya.


"Jo, kalau Papa sudah pensiun, nanti kau yang akan memimpin menggantikan Papa di perusahaan Properti Papa, karena cuma kau yang Papa andalkan, Given dan Gavin masih terlalu kecil!" kata Ricky.


"Jo, nanti Daddy juga akan pensiun, siapa yang akan meneruskan perusahaan Daddy kalau bukan kau? Kaulah putraku satu-satunya, aku juga berharap padamu!" timpal Mr. Michael.


"Hei Mr. Michael, aku duluan yang minta menantuku ini untuk membantuku di perusahaan ku, siapa cepat dia dapat!" ujar Ricky.


"Pak Ricky, kau jangan lupa kalau Jo itu anak kandungku, hubungan kami lebih dekat sebagai Ayah dan anak, kau kan cuma mertuanya!" tukas Mr. Michael tak mau kalah.


Jo yang mendengarkan perdebatan mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tak lama Lika dan Kezia datang sambil membawa aneka minuman dan cemilan, lalu duduk bergabung dengan mereka.


"Lihat lah Bang, belum juga anak kita lahir, berbagai kasih sayang yang melimpah sudah menantinya!" bisik Kezia.


"Iya sayang, bagi Bang Jo ini adalah sebuah keajaiban yang Tuhan berikan buat Abang, Abang yang dulu miskin dan kurang percaya diri, karena kemiskinan Abang, juga penderitaan sejak lahir, semua sudah tergantikan!" ucap Jonathan sambil menggenggam tangan Kezia.


Ricky dan Mr. Michael teheran-heran melihat Jonathan dan Kezia yang saling berangkulan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ada apa dengan kalian? Apakah berdebatan kami menyakiti hati kalian?" tanya Mr. Michael.


"Tidak Daddy, kami hanya terharu melihat momen ini, calon anak kami kelak akan berkelimpahan kasih sayang dari orang-orang seperti kalian!" jawab Jonathan.


Tak lama kemudian Mbok Narti datang dengan tergopoh-gopoh.


"Pak Ricky, ada telepon dari Malaysia!" ujar Mbok Narti.


"Dari siapa Mbok? Nando?" tanya Ricky.


"Iya Pak, dari suaranya beda, dia seperti menangis!" tambah Mbok Narti.


Dengan cepat Ricky langsung berlari ke arah meja telepon yang ada di sudut ruangan itu.


"Halo! Nando!" kata Ricky cemas.


"Papa, Ayah Martin, Ayah Martin Pa!" seru Nando sambil terisak.


"Apa yang terjadi dengan Ayahmu Nak?" tanya Ricky cepat.


"Ayah Martin sudah meninggal, dia sudah pergi barusan, aku sedih Pa!" tangis Nando semakin pilu.


Ricky terdiam, tangannya terlihat gemetar, wajahnya berubah pucat, dadanya bergemuruh hebat.


"Martin, dia sudah pergi?" gumam Ricky.


Lika yang melihat ekspresi suaminya itu langsung mendekat ke arah Ricky.


"Ada apa Pa?" tanya Lika.


"Nando, putra kesayangan kita, hari ini telah kehilangan Ayah kandungnya, Martin meninggal!" jawab Ricky.


"Apa? Ayah Nando meninggal??" Lika langsung mengambil telepon yang masih di genggam Ricky.


"Nando, kau tenang sayang, ingatlah bahwa kau masih punya Papa, Ibu dan saudara! Kau tidak sendiri Nando!" ucap Lika.


"Ibu, aku ingin pulang, di sini aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi!" isak Nando.


"Pulanglah sayang, Papa dan Ibu akan menjemputmu pulang, ini rumahmu, keluargamu!" ucap Lika sambil ikut meneteskan air matanya.


*****


Hai guys, Dari sekian banyak Novel yang author tulis, jujur novel ini yang paling author suka dan menulisnya dengan sepenuh hati dan perasaan.


Bagi yang belum membaca kisah Kezia dan Nando saat kecil, baca novel author yang berjudul "Pelabuhan Terakhir".


Di sanalah awal mula kisah ini.


Uhuuuy, jangan lupa dukungannya guys ...😉😁😘❤️