Heart's Owner

Heart's Owner
Syarat Jadi Menantu



Pagi itu mendung masih sedikit bergelayut di langit, suasana begitu dingin, matahari seperti enggan untuk menampakan wajahnya.


Seperti rutinitas biasanya, Mbok Narti dan Lika sibuk menyiapkan sarapan di sebuah meja makan besar.


Hari ini tanggal merah, hari libur nasional, jadi kantor dan kampus juga libur.


Jonathan masih berada di kamar tamu, tidak berani untuk keluar kamar.


"Bu, Masih ada stok baju dan pakaian dalam tidak buat Bang Jo?" tanya Kezia yang baru keluar dari kamarnya.


"Pinjam saja punya Nando!" sahut Lika.


"Nando pelit Bu, kemarin saja, Bang Jo cuma di pinjemin kaos, tanpa celana apalagi pakaian dalam!" ujar Kezia.


"Ya sudah, Ibu coba lihat punya Papamu, sepertinya dia masih punya pakaian baru yang belum sempat di pakai!" kata Lika sambil beranjak menuju ke kamarnya.


Tak berapa lama kemudian, Lika sudah muncul kembali sambil membawa pakaian yang masih nampak baru, berikut pakaian dalam juga, Kezia tersenyum senang.


"Nih, sana berikan pada Jo, kasihan dia kalau kelamaan, habis itu langsung mandi ya, lalu kita sarapan sama-sama!" kata Lika sambil menyodorkan pakaian itu ke tangan Kezia.


"Trima kasih Bu! Tapi kalau nanti Papa marah bagaimana?" tanya Kezia.


"Papamu tidak akan marah hanya karena kehilangan pakaiannya!" sahut Lika yang langsung beranjak kembali ke dapur.


Kezia langsung berjalan menuju kamar tamu. Jonathan nampak duduk di sisi tempat tidur sambil melamun.


"Hai bang, Ayo mandi, lalu pakailah baju dan pakaian dalam ini, ini masih baru kok!" kata Kezia sambil menaruh pakaian itu di tempat tidur.


"Itu punya adikmu?" tanya Jonathan.


"Sudah kau pakai saja!" sergah Kezia. Jonathan langsung beranjak ke kamar mandi.


Kezia duduk menunggunya di tepi tempat tidur itu.


Tak lama kemudian Jonathan sudah muncul dengan sudah berpakaian dan wangi.


"Nah, begitu dong, yuk kita sarapan! Tadi ibu menyuruh Bang Jo untuk sarapan sama-sama di meja makan!" kata Kezia sambil menarik tangan Jonathan.


Jonathan nampak ragu-ragu lalu menghentikan langkahnya.


"Kezia, kalau Papa Kezia mengusir Abang lagi bagaimana?" tanya Jonathan.


"Bang Jo takut?" Kezia balik bertanya.


"Bukannya takut, Bang Jo cuma malu di depan keluarga Kezia yang lain, biar bagaimana Bang Jo kan punya harga diri!" ujar Jonathan.


"Sudah deh Bang, selama Bang Jo tidak berbuat salah, kenapa harus takut!" kata Kezia yang kembali menarik tangan Jonathan menuju ke sebuah ruang makan yang cukup luas dengan sebuah meja makan besar.


Semua anggota keluarga Kezia sudah berkumpul di sana, Pak Ricky juga sudah duduk di sebelah Nando, dia menatap tajam ke arah Jonathan yang datang menghampirinya.


"Hei Jo, ayo duduk, kita sarapan sama-sama ya!" sapa Lika ramah sambil menunjuk dua buah kursi kosong tepat di hadapan Ricky.


"Trima kasih Tante!" ucap Jonathan sopan, lalu dia dan Kezia mulai duduk bergabung dengan mereka.


"Silahkan makan Bang, ambil yang banyak makanannya, jangan sungkan!" tawar Nando.


Mereka mulai makan bersama. Kezia mengambilkan makanan ke piring Jonathan.


"Hmm, kau pantang menyerah juga rupanya!" ujar Ricky sambil menatap ke arah Jonathan.


"Papa jangan mulai lagi deh, sudah habiskan makanannya!" sergah Lika.


"Sepertinya aku mengenal baju yang kau pakai itu marketing!" cetus Ricky.


"Oh, baju ini di pinjamkan oleh ..."


"Sudahlah Pa, kenapa harus bahas baju segala sih!" potong Lika cepat.


"Bang Jo! Katanya mau bawakan kami mainan kelereng!" cetus Given tiba-tiba.


"Oh, iya, nanti akan bang Jo bawakan kelereng buat kalian ya!" sahut Jonathan.


"Kata Bang Jo, di kampungnya dulu, anak laki-laki itu mainannya kelereng, bukan game online!" tambah Gavin.


"Hei marketing! Bukan cuma Kezia yang kau racuni pikirannya, anak-anakku yang lain kenapa jadi mendengarkan ide gilamu??" tanya Ricky.


"Tapi memang benar kok Pak, dulu di kampung saya, anak-anak banyak yang main kelereng atau bola kaki, atau main benteng! Tidak seperti anak jaman now! Yang taunya cuma gadget!" jawab Jonathan.


Lika menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Kau benar Jo, pasti dulunya kau adalah anak pintar dan cerdas!" ujar Lika.


"Tante bisa saja, tapi dari dulu aku memang juara kelas Tante, pernah juara satu lomba nyanyi tingkat propinsi, juara olimpiade matematika juga tingkat nasional!" kata Jonathan.


"Wah! Abang hebat! Aku jadi kagum sama Abang, aku dukung deh sama Kak Kezia!" cetus Nando tiba-tiba.


"Hei ... Kenapa sekarang di rumah ini semua orang pada memuji si marketing ini??" tanya Ricky.


"Ya kita kan harus mengakui prestasi seseorang dong Pa, Papa sendiri, kenapa hanya Jo yang dikirim ke Singapore? Bukan yang lain?" tanya Lika.


"Yah, karena cuma dia marketing yang bisa di andalkan dan potensial!" jawab Ricky sambil menggaruk kepalanya.


"Nah, tuh Papa sendiri ngakuin kan, kita jangan gengsi untuk mengakui prestasi seseorang!" ucap Lika bijak.


"Oke Oke! Dari pada kalian berisik sendiri, Aku punya syarat untukmu marketing! Kalau kau mau jadi calon menantuku!" kata Ricky menyerah.


Semua yang ada di situ terkesiap mendengar ucapan Ricky.


"Asyyik!! Ada lampu hijau tuh!" goda Nando.


"Apa syaratnya Pa?" tanya Kezia antusias.


"Kau harus bisa menjual 100 unit rumah dalam satu bulan, jika gagal, kau gagal juga jadi calon menantuku!" seru Ricky.


"100 unit rumah?? Tidak salah Pa?? Orang jual satu rumah dalam sebulan saja sudah bagus, masa 100 rumah?!" kata Lika sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya namanya juga syarat! Terserah mau di lakukan atau tidak!" ujar Ricky cuek.


"Papa kalau kasih syarat tidak kira-kira nih! Jangan yang mustahil dong Pa!" cetus Nando.


"Baik Pak! Saya terima tantangannya, saya akan menjual 100 unit rumah dalam sebulan, setelah itu saya akan melamar anak bapak!" ujar Jonathan tiba-tiba.


Semua mata mengarah kepadanya.


"Bang Jo jangan begitu, Bang Jo kan bisa nego syaratnya di turunin!" sergah Kezia.


"Tidak Zia! Bang Jo bukan tipe orang yang mundur dalam pertandingan, kita lihat saja nanti, kalau aku tidak berhasil menjual 100 unit rumah dalam sebulan, aku akan mundur mengejar Kezia!" tegas Jonathan.


Pak Ricky tertegun mendengar ucapan Jonathan.


"Bagus!! Itu baru namanya pria sejati!" ucap Ricky sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Trimakasih Pak!" jawab Jonathan.


"Tunggu! Jangan senang dulu, selama kau belum bisa memenuhi syarat, di kantor kau jangan ngaku-ngaku sebagai calon mantuku! Setiap pagi kau harus membuatkan aku susu hangat, lalu memijiti punggung ku!" tambah Ricky.


"Papa keterlaluan!!" sungut Kezia.


"Tenang Zia, Bang Jo akan lakukan apapun asal calon mertua senang, kau jangan khawatir, cuma buat susu tiap pagi dan pijitin punggung, itu mah kecil!" ujar Jonathan sambil kembali menyantap makanannya.


****


Hai readers ...


Kira-kira Bang Jo bisa tidak ya memenuhi syarat Pak Ricky?


Yuk dukung si Bang Jo dengan Like, Vote dan Komen deh ... biar semangat ...


Trimakasih ..