Heart's Owner

Heart's Owner
Ulah Para Adik



Malam itu setelah makan malam, Jonathan dan Kezia menuju ke rumah Ricky untuk bermalam di sana.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah besar itu, keluarga Ricky nampak sedang menikmati makan malam di sebuah meja makan besar.


"Eh, kalian sudah datang, ayo sini makan sama-sama!" ujar Ricky saat melihat Jonathan dan Kezia sudah muncul dari arah luar.


"Kami baru saja makan Pa, sebelum berangkat kesini!" tolak Kezia.


"Ya sudah, sekarang taruh barang-barang kalian di kamar!" kata Lika.


Kezia lalu menggandeng tangan Jonathan menuju ke kamar Kezia. Mereka mulai menaruh tas yang berisi pakaian selama mereka menginap di rumah ini.


Kezia sedikit heran melihat wajah Jonathan yang agak tegang.


"Bang Jo kenapa?" tanya Kezia.


"Bang Jo ingat waktu Nenek buyut meninggal, malam saat Bang Jo tidak bisa tidur, kalau ingat itu, merinding Abang Zia!" jawab Jonathan.


Kezia tertawa mendengar pengakuan Jonathan.


"Hahahaha Bang Jo bisa takut juga, tenang saja Bang, Nenek buyut itu baik kok semasa hidupnya, dia tidak akan ganggu Bang Jo!" ujar Kezia.


"Makanya Kezia nanti layanin Abang ya, biar Abang capek dan langsung bisa tidur!" kata Jonathan.


"Kalau itu sih bilang saja Bang Jo modus, pakai bawa-bawa nenek buyut segala lagi!" sahut Kezia.


"Memangnya Kezia tidak mau melayani suaminya sendiri?" tanya Jonathan sambil memeluk pinggang Kezia.


"Ya tergantung Bang, kita lihat saja nanti, sudah deh yuk kita keluar, masa di kamar terus!" sahut Kezia sambil melepaskan pelukan suaminya itu.


Mereka segera keluar dari kamarnya, di meja makan sudah terlihat kosong, Ricky dan Istrinya sibuk mempersiapkan untuk keberangkatan besok pagi ke Malaysia.


"Papa dan Ibu rencana berapa hari di Malaysia?" tanya Kezia.


"Cuma dua hari saja, sekalian Papa mau meninjau proyek yang di Malaysia!" jawab Lika.


"Kalian buat senyaman mungkin di sini ya, Jo, ini adalah rumahmu, kau jangan sungkan di sini!" timpal Ricky yang mulai menurunkan kopernya dan menaruhnya di bagasi mobil.


"Papa dan Ibu pamit tidur cepat ya, soalnya besok pagi-pagi sekali sudah harus berangkat, kami naik pesawat yang paling pagi!" kata Lika.


"Iya Bu, istirahat saja duluan, kita masih mau santai sambil nonton di sini!" sahut Kezia.


Lika dan Ricky kemudian masuk ke dalam kamar mereka. Jonathan dan Kezia duduk di sofa ruang keluarga itu sambil menonton televisi.


"Bang Jo, kita main kelereng yuk!" ajak Gavin tiba-tiba.


"Wah, ini kan sudah malam Vin, mainnya besok saja ya, kita main monopoli bagaimana?" tanya Jonathan.


"Monopoli? Apaan tuh? Seru tidak?" tanya Given.


"Seru pake banget! Kebetulan Bang Jo bawa tuh monopolinya, sengaja biar bisa main sama kalian!" sahut Jonathan yang langsung mengambil papan monopoli di kamar.


"Asyiiik!!" seru Given dan Gavin bersamaan.


Kemudian mereka bermain dengan penuh semangat.


Tasya yang belum tidur mulai mendekati Kezia yang masih menonton televisi.


"Kak Kezia, besok Papa sama Ibu kan ke Malaysia, aku bobo sama kakak ya?" pinta Tasya.


"Jangan Sya, Kakak kan sudah ada Bang Jo, masa kita tidur bertiga!" sergah Kezia.


"Yah Kakak, aku kan biasa di kelonin sama Ibu, aku tidak bisa tidur kalau tidak di kelonin dulu!" rajuk Tasya.


"Lagian Tasya sudah besar kenapa masih di kelonin sih! Waktu itu kakak kasih hadiah boneka itu untuk di peluk Tasya!" ujar Kezia.


"Hmm, kak Kezia payah!" sungut Tasya sambil berjalan masuk ke kamarnya.


"Mainnya di lanjut besok ya!" ujar Jonathan.


"Yah Jangan Bang, tanggung!" sahut Gavin.


"Kita main satu putaran lagi deh, habis itu pada tidur ya, besok kan kalian sekolah!" kata Jonathan.


"Iya deh Bang!" sahut Given. Mereka melanjutkan kembali permainan mereka satu putaran lagi.


Setelah selesai, Given dan Gavin beranjak masuk ke kamar mereka, Kezia mulai mematikan televisi, sementara Jonathan langsung masuk ke dalam kamar.


Kezia berjalan menuju dapur dan membuka kulkas, berharap dapat menekan buah-buahan karena malam itu dia sangat ingin makan buah.


"Cari apa Non Kezia?" tanya Mbok Narti mengagetkan.


"Eh Mbok Narti, di kulkas ada persediaan buah tidak?" tanya Kezia balik.


"Ada, ada anggur dan apel, nih Mbok keluarkan!" Mbok Narti langsung mengeluarkan buah-buah itu dari dalam kulkas.


"Ini aku bawa ke kamar ya Mbok!" kata Kezia.


"Bawa saja Non, ini juga jarang yang makan!" sahut Mbok Narti.


Kezia lalu membawa sepiring buah-buahan itu ke dalam kamarnya.


Jonathan nampak sudah berbaring di tempat tidurnya dengan menggunakan sarung.


"Hmm, kebiasaan deh Bang Jo, dimana-mana pakai sarung, mau pamer burung Bang!" cetus Kezia.


"Kan pamernya cuma sama Kezia saja, ini sudah nungguin dari tadi, butuh sentuhan Abang Zia!" ucap Jonathan dengan tatapan mata mendamba.


"Lagi pengen banget ya Bang?!" tanya Kezia.


"Iya nih Zia, Bang Jo janji deh malam ini tiga ronde saja!" sahut Jonathan.


"Tiga ronde itu banyak tau Bang!" ujar Kezia sambil makan beberapa butir anggur.


"Kan biasanya juga lima sampai tujuh ronde, nih sudah di kurangin karena Kezia lagi hamil anak Abang!" kata Jonathan.


"Iya deh Bang, yang penting jangan terlalu semangat, ayo keluarin dulu juniornya, aku mau lihat!" ujar Kezia.


Jonathan lalu mulai membuka sarungnya, mata Kezia kembali melotot melihat kejantanan suaminya itu yang sudah sangat siap untuk bertempur.


Tanpa menunggu lama, Kezia segera mendekati Jonathan yang masih berbaring, sesungguhnya Kezia juga sangat suka momen ini, bisa merasakan keperkasaan suaminya itu, merekapun melakukan aktifitas percintaan malam itu dengan penuh gairah dan perasaan.


Ceklek!!


Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Kezia dan Jonathan terkejut dan tidak sempat merubah posisinya. Tasya sudah berdiri di depan pintu kamar Kezia.


"Kakak lagi main kuda-kudaan ya? Aku ikutan dong kak!" kata Tasya polos.


"Tasyaa!! Keluar dari kamar kakak sekarang!" seru Kezia panik.


Dengan wajah bingung, Tasya keluar dari kamar Kezia dan kembali menutup pintunya.


"Sayang, kau lupa mengunci pintu kamarnya ya?" tanya Jonathan.


"Iya Bang Maaf, aku lupa!" sahut Kezia.


"Ini sudah di ujung tanduk Zia, tanggung banget deh ah!" sungut Jonathan.


"Sudah di lanjutkan nanti saja, aku mau bicara dulu sama Tasya!" Kezia langsung mendorong lembut tubuh Jonathan yang ada di atasnya, kemudian merapikan pakaiannya, lalu keluar dari kamarnya.


Wajah Jonathan nampak frustasi menahan hasrat yang hampir pada puncaknya.


****