Heart's Owner

Heart's Owner
Makan Siang Dengan Beni



Siang itu pada jam istirahat di kantor, Beni mengajak makan siang bersama di kantin, Jonathan menyambutnya senang, sudah beberapa lama ini dia jarang makan siang di kantor.


Kini di kantor itu, semua orang sudah tau kalau Jonathan adalah menantu dari Pak Ricky sang pemilik perusahaan.


Semua staf dan karyawan bersikap sungkan dan hormat terhadap Jonathan, termasuk jajaran direksi.


Apalagi kini Jonathan yang di percaya untuk mengambil alih semua kegiatan Ricky.


Mereka terkagum-kagum, Jonathan yang dulu berasal dari kampung dan sangat lugu dan polos, hanya menjabat sebagai marketing biasa, siapa sangka kini dia menjadi menantu pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


Kehidupan Jonathan seolah telah berubah, namun yang tidak berubah adalah senyum ramahnya dan kepolosan sikapnya.


"Kau ini datang ke Jakarta merantau, sekarang sudah jadi tangan kanan Pak Ricky, semuanya di limpahkan padamu Jo, aku makin minder nih!" ujar Beni di sela-sela santap siang mereka.


"Untuk apa kau minder Ben, teman tetaplah teman, mau jabatannya apa, hubungan pertemanan tidak akan berubah!" sahut Jonathan.


"Kau benar sih Jo, jarang-jarang ada orang sepertimu, biasanya saat orang ada di atas, pasti di sertai dengan kesombongan, untungnya temanku yang satu ini tidak!' tambah Beni.


"Ah kau ini Ben, Oya, bagaimana hubungan dengan Ratna? Ada perkembangan apa?" tanya Jonathan.


"Rencananya Minggu ini aku akan ke Medan Jo, aku akan nekad melamar Ratna, walaupun orang tuanya memberikan syarat yang berat, tapi aku akan tetap perjuangkan Ratna, karena dia butuh pria yang melindunginya, aku juga akan bawa dia dan melepaskannya dari kungkungan orang tuanya!" jawab Beni.


"Bagus Ben, aku dukung perjuanganmu!" ujar Jonathan.


"Aku belajar banyak darimu Jo, dulu saja kau bisa memperjuangkan cintamu untuk Kezia, walau harus di rawat di rumah sakit, aku juga pasti bisa memperjuangkan Ratna!" sahut Beni.


"Kalau kau butuh apa-apa, jangan sungkan hubungi aku Ben!" kata Jonathan.


"Terimakasih Jo!" sahut Beni.


Setelah mereka makan siang, Jonathan kembali lagi menuju ke ruangannya, menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Pak Jo!" suara seseorang memanggilnya.


Jonathan menoleh ke belakang, sudah ada Linda yang berdiri di belakangnya.


"Linda? Ada apa?" tanya Jonathan.


"Maaf Jo, aku sepertinya butuh bantuanmu!" sahut Linda.


"Bantuan apa? Ayo bicara di ruanganku, tidak enak bicara di koridor ini!" Jonathan kembali berjalan menuju ke ruangannya, sementara Linda mengikutinya dari belakang.


Setelah Jonathan masuk ke ruangannya, dia segera duduk di kursi kebesarannya menghadap meja kerjanya. Linda duduk di hadapan Jonathan.


"Jo, gajiku belum keluar, uang komisi dari penjualan juga tidak ada, karena aku belum menjual rumah satupun, bisakah kau meminjamkan uang untukku? Untuk bayar kos dan listrik?" tanya Linda.


Tanpa banyak bertanya lagi, Jonathan membuka laci mejanya dan mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menyodorkannya ke arah Linda.


"Apa segini cukup untuk keperluanmu sebulan?" tanya Jonathan.


"Cu-cukup Jo, bahkan itu lebih dari cukup, terimakasih ya, nanti aku akan menggantinya walau harus di cicil!" jawab Linda.


"Kau tak perlu pikirkan menggantinya, pakai saja uang itu, sekarang masalahmu sudah selesai kan?" tanya Jonathan lagi. Linda menganggukan kepalanya.


"Maaf Lin, kalau begitu bisakah kau tinggalkan ruangan ini sekarang? Aku mau menyelesaikan pekerjaanku!" ujar Jonathan.


"Baik Jo, sekali lagi terimakasih ya, kau baik sekali!" ucap Linda berkaca-kaca.


"Walau bagaimana, kau adalah teman kelasku dulu, jadi jangan sungkan!" kata Jonathan.


"Kalau begitu aku permisi Jo!" Linda segera berdiri dan berjalan keluar dari ruangan Jonathan.


****


Sore itu setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Jonathan langsung pulang menuju ke rumah Ricky.


Pada saat Jonathan sampai di rumah Ricky, security langsung membukakan pintu gerbang rumah itu dan membungkuk hormat pada Jonathan.


Baru saja Jonathan turun dari mobil, adik-adik iparnya sudah menyambutnya di depan pintu utama rumah itu.


"Bang Jo kita main kelereng yuk! Mumpung masih sore!" seru Given.


"Bang Jo nanti malam kita main monopoli lagi ya!" timpal Gavin.


"Bang Jo ceritain aku dongeng ya, yang kayak waktu itu!" ucap Tasya sambil menggelendot manja di tangan Jonathan.


"Iya Sya, nanti Bang Jo ceritain ya!" Jawab Jonathan sambil mengelus rambut Tasya.


"Jadi kita mainnya kapan dong Bang?" tanya Given.


"Bang Jo ganti baju dulu, masa main sambil pakai kemeja begini, nih ada makanan buat kalian!" Jonathan menyodorkan bungkusan makanan pada adik-adik iparnya.


"Wah asyiiik!!" seru mereka senang.


Jonathan langsung masuk ke dalam rumah itu, Kezia tidak ada di ruangan itu, Jonathan terus berjalan menuju ke kamar Kezia. Dia langsung membuka pintu kamar itu.


Kezia nampak sedang berbaring di tempat tidurnya. Jonathan lalu duduk di tepi tempat tidur itu sambil memijiti kaki Kezia.


"Tumben hari ini tidak sambut Abang pulang kerja?" tanya Jonathan.


"Hari ini aku muntah banyak Bang, tadi aku sampai di kerokin sama Mbok Narti, makanya aku lemas!" jawab Kezia.


"Ya ampun sayang, vitamin dan susu hamilnya sudah di minum belum?" tanya Jonathan. Kezia menggelengkan kepalanya.


"Sebentar ya, Bang Jo buatkan susu, satu jam kemudian harus di minum vitaminnya, biar Kezia kuat!" Jonathan langsung beranjak membawa susu ke dapur untuk membuatkan susu itu buat Kezia.


Tak lama kemudian Jonathan sudah kembali dengan membawa satu gelas susu hangat.


"Nih di minum dulu susunya, nanti malam Bang Jo ajak Kezia dinner di luar ya, supaya Kezia bebas memilih makanan yang Kezia mau!" ucap Jonathan. Kezia Menganggukan kepalanya.


Kezia lalu mulai meminum susunya hingga habis tak tersisa.


"Bang Jo mandi dulu sana, maaf Bang aku tidak sempat siapkan air hangat buat Abang!" kata Kezia.


"Tidak apa-apa sayang, lebih enak pakai air dingin, lebih segar!" sahut Jonathan yang langsung membuka kemejanya.


Kemudian Jonathan langsung menuju ke kamar mandi.


Tok ... Tok ... Tok


Terdengar suara ketukan pintu kamar Kezia.


"Masuk!" seru Kezia.


Ketiga adiknya langsung menyerbu masuk ke kamar itu.


"Kak Kezia tiduran saja, memangnya kak Kezia sakit?" tanya Gavin.


"Iya sedikit!" sahut Kezia.


"Bang Jo nya mana kak? Sore ini dia janji mau main kelereng!" tanya Given.


"Bang Jo juga mau main monopoli lho nanti malam!" tambah Gavin.


"Juga dongengin buat aku, supaya aku bisa bobo!" timpal Tasya.


"Kalau Bang Jo buat kalian semua, lalu kapan buat Kakak??" Kezia menepuk jidatnya sendiri melihat adik-adiknya yang begitu antusias main dengan Jonathan.


****