Heart's Owner

Heart's Owner
Tentang Rasa



Jonathan perlahan mulai memencet nomor Ratna, walaupun dia tidak tau harus bicara apa, setidaknya dia sudah berniat untuk membantu Beni.


Tidak lama kemudian telepon Jonathan sudah di angkat oleh Ratna.


"Halo Bang Jo!"


"Halo Ratna, bagaimana kabarmu? Maafin Bang Jo tidak bisa datang ke pernikahanmu, Kezia sedang hamil besar!" ucap Jonathan.


"Iya Bang, tidak sangka Bang Jo akan jadi Ayah!" lirih Ratna.


"Ratna, Bang Jo harap Ratna bisa menemukan kebahagiaan Ratna sendiri bersama Beni, Beni baik dan sayang sama Ratna, Ratna belajarlah untuk menyayangi Beni dengan sepenuh hati, kebahagiaan itu di mulai dari hati Ratna!" ucap Jonathan.


Tiba-tiba terdengar suara isak tangis dari Ratna.


"Maafkan aku Bang ... aku salah, aku salah telah begitu saja menerima lamaran Mas Beni!" isak Ratna.


"Kenapa kau merasa bersalah? Apa kau mau terus menyiksa hidupmu sendiri Ratna? Kau tidak salah menerima Beni jadi suamimu, dia laki-laki yang baik!" ujar Jonathan.


"Iya Bang, Mas Beni memang baik, mungkin laki-laki lain kalau aku tolak akan. mencampakkan aku, tapi Mas Beni tidak, dia memang baik, tapi aku sendiri seolah tidak ikhlas dia menyentuh aku!" kata Ratna.


"Katakan sama Abang, apa alasannya??" tanya Jonathan.


"Alasannya, karena dalam hatiku masih ada Bang Jo, entah kenapa aku begitu sulit melupakan Abang, maafkan aku Bang!" ucap Ratna.


"Kau tidak pantas berkata seperti itu Ratna, kau lupa Abang sudah mempunyai istri, sebentar lagi Abang akan punya anak, kau juga lupa kalau statusmu sekarang adalah istri Beni? Maafkan Abang Ratna, mungkin ini adalah telepon terakhir dari Abang, kalau Ratna Belum bisa mencintai Beni, setidaknya buatlah dia bahagia dengan memberikan haknya!" ucap Jonathan sebelum dia mematikan ponselnya.


Jonathan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga itu, semua pikiran dan perasaannya berkecamuk.


Sebuah tangan melingkar di leher Jonathan, Kezia sudah berdiri di belakang Jonathan, Jonathan lalu mencium tangan Kezia.


"Hei, sudah mau punya anak jangan kelihatan sedih!" ujar Kezia yang langsung duduk di samping Jonathan.


"Kasihan Beni Zia, baru saja dia menikah tapi Ratna malah tidak mau di sentuh Beni, aku baru saja menasehati Ratna, semoga dia bisa menerima Beni apa adanya!" gumam Jonathan.


"Ratna masih cinta sama Bang Jo, aku bisa melihat sorot matanya saat dia menatap Bang Jo, waktu dia di rawat di rumah sakit!" kata Kezia.


"Walaupun seribu kali Ratna cinta sama Abang, tetap saja hati Abang hanya milik Kezia!" ucap Jonathan.


Kezia menyandarkan kepalanya di bahu Jonathan.


"Sebenarnya waktu itu aku cemburu Bang, tapi aku percaya Bang Jo bisa menjaga hati Abang buat aku, terimakasih ya Bang!" ucap Kezia.


Jonathan kemudian kembali mengelus perut Kezia yang terlihat sangat besar itu, ada gerakan-gerakan yang tak beraturan di sana.


****


Sementara itu, di Medan, Beni nampak mengemaskan pakaian dan barang-barangnya, besok dia berencana akan pulang ke Jakarta.


"Kita jadi berangkat ke Jakarta besok Mas?" tanya Ratna.


"Iya Ratna, aku juga kan harus kembali ke kantor!" sahut Beni singkat.


Ratna tidak bicara lagi, dia ikut membereskan pakaian dan barang-barang nya yang akan di bawa besok.


"Mas Beni tidak betah ya di sini?" tanya Ratna.


"Mas Beni, untuk malam kemarin aku minta maaf ya, kita coba lagi Mas, sekarang aku adalah milikmu seutuhnya, maafkan aku untuk yang malam itu!" ucap Ratna lirih.


Beni menghentikan aktifitasnya, dia menatap dalam ke arah wajah istrinya itu.


"Kau bicara begitu karena Jo yang meneleponmu kan?" tanya Beni.


"Bukan karena Bang Jo Mas, tapi benar apa yang di katakan Bang Jo, walau bagaimana aku harus bisa membahagiakanmu, karena kau adalah suamiku!" kata Ratna.


"Aku tau Ratna, sejak dulu kau cinta mati sama Jo, bahkan aku rela walau hanya mendapatkan separuh hatimu, tapi ternyata sakit Ratna, sakit karena menerima penolakan darimu!" ujar Beni.


Tiba-tiba Ratna memeluk Beni dengan erat.


"Maafkan aku Mas, maaf, aku bukan istri yang baik, ijinkan aku belajar menerimamu walaupun agak terlambat!" ucap Ratna sambil menangis.


"Iya Ratna, jangan menangis lagi, kita akan bahagia, aku akan berusaha membahagiakanmu!" Beni mulai mengecup kening Ratna, kemudian turun ke pipinya, lalu ke bibirnya.


Perlahan Beni membimbing Ratna naik ke atas tempat tidurnya, mereka mulai bercumbu, Ratna memejamkan matanya, mencoba untuk menerima perlakuan dari Beni, namun yang Ratna bayangkan bukan Beni, melainkan Jonathan.


Ratna menyimpan bayangan Jonathan dalam hatinya, tertutup rapat, saat ini dia melayani Beni, namun yang dia bayangkan bukan Beni.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Ratna!!! Suruh bangun suamimu, masa sudah siang begini kalian masih di kamar?? Bantu Bapakmu di kebun sana!!" terdengar suara teriakan dari luar kamar.


Beni dan Ratna terkejut dan langsung menghentikan aktifitas mereka seketika.


"Mamak Mas!" bisik Ratna.


"Kita lanjutkan nanti malam ya sayang!" ucap Beni sambil mengecup kening Ratna.


Mereka kemudian segera keluar dari kamar mereka.


Tante Purba nampak sibuk membereskan dapur dengan suara yang berisik.


"Mamak kenapa sih? Pagi-pagi sudah berisik!" sungut Ratna.


"Kalian ini mentang-mentang pengantin baru, sana kau ke pasar Ratna, belanja keperluan rumah, mau sampai kapan Mamak menanggung hidup kalian? Harusnya si Beni kasih uang banyak buat Mamak dan Bapak!" sengit Tante Purba.


Ratna dan Beni hanya bisa menunduk.


"Besok kami sudah kembali ke Jakarta Mak!" kata Beni.


"Bagus! Kau ke Jakarta kerja yang rajin supaya naik jabatan, itu si Jo pintar cari uang, sebentar saja dia sudah kaya!" cetus Tante Purba.


"Mamak jangan suka membandingkan orang! Walau bagaimana Mas Beni itu suami aku Mak! Mamak jangan menjatuhkan harga dirinya!" bela Ratna.


Beni menggenggam tangan Ratna.


"Sudahlah Ratna, Besok kita akan memulai hidup baru di Jakarta!" bisik Beni.


****