Heart's Owner

Heart's Owner
Persiapan Lamaran



Hari itu kantor tempat Jonathan bekerja di hebohkan dengan video baru yang kembali viral.


Rita memberikan pernyataan dan pengakuan atas tindakannya melakukan pelecehan terhadap Jonathan dan menghancurkan nama baiknya.


Sejak Rita di pecat dengan tidak hormat oleh Ricky, maka Beni lah yang menggantikan posisi Rita sebagai manager marketing.


Sebagai rasa ucapan syukur, sore ini sepulang dari kantor, Beni mengundang beberapa orang termasuk Jonathan untuk makan di sebuah restoran.


Setelah menjemput Kezia di kampus, Jonathan langsung meluncur ke restoran tempat Beni mengundang mereka.


"Selamat ya Ben, akhirnya kau naik jabatan juga!" ucap Jonathan sambil menjabat tangan Beni.


"Ah, tetap saja kau adalah atasanku Jo, di sini aku memanggilmu Jo, tapi kalau di kantor mana berani aku!" sahut Beni.


Mereka duduk menghadap sebuah meja besar yang sudah di pesan sebelumnya.


Tak lama kemudian, munculah Andri dan Rosi yang juga di undang oleh Beni. Kini cafe Rosi sedang tahap renovasi dan akan segera kembali di buka. Mereka mendapat suntikan dana dari Jonathan.


"Wah, Mbak Rosi kelihatan gemukan sekarang!" ujar Kezia yang kini duduk di samping Jonathan.


"Bagaimana tidak gemuk, makannya banyak sekali, sampai kewalahan aku!" cetus Andri.


"Namanya juga orang hamil Mas, memangnya Mbak tidak mual atau ngidam apa gitu?" tanya Kezia kepo.


"Mual sedikit, tapi setelah aku minum susu hamil dan vitamin dari dokter, nafsu makanku bertambah!" jawab Rosi.


"Wah Jo, sepertinya kau harus cepat menyusulku, sepertinya Kezia sangat tidak sabar bisa hamil seperti Rosi!" ujar Andri.


"Benar Zia? Kezia ingin hamil seperti Mbak Rosi?" tanya Jonathan sambil menggenggam tangan Kezia.


"Diiih apaan sih kalian!" sungut Kezia cemberut.


"Sudah Jo jangan lama-lama, kau tunggu apa lagi? Jabatan ada, uangmu juga sudah banyak!" timpal Beni.


"Iya sih, kalian benar, tapi aku tidak tau bagaimana prosedur lamaran itu, aku tidak ada orang tua, bisakah aku melamar Kezia sendirian?" tanya Jonathan polos.


Semua yang ada di ruangan itu tertawa mendengar pengakuan Jonathan.


Hingga pukul delapan malam, mereka baru selesai makan bersama di restoran itu.


Jonathan langsung mengantar Kezia pulang ke rumahnya.


"Zia, nanti Abang mampir ya ke rumah Kezia!" kata Jonathan.


"Mau ngapain Bang? Mau tanding catur sama Papa?" tanya Kezia.


"Bukan Zia, mau ngobrol sama Papa dan Ibu Kezia, karena Bang Jo mau melamar Kezia secepatnya dan menjadikan Kezia istri sah Abang, Kezia tidak mau kan Abang di goda seperti waktu itu sama Mbak Rita?" kata Jonathan.


"Bang Jo sudah siap nih ngelamar aku?" tanya Kezia lagi.


"Siap lahir batin sayang! Cuma bang Jo kan memang tidak punya pengalaman lamar melamar, jadi tidak ngerti!" sahut Jonathan.


"Ya sudah deh, bang Jo nanti tanya saja sama Papa dan Ibu!" ujar Kezia akhirnya.


Akhirnya mereka sampai di rumah Kezia, setelah Jonathan memarkirkan mobilnya dia segera masuk dan duduk menunggu di ruang tamu.


Tak lama kemudian Ricky dan Lika datang dan duduk bersama mereka.


"Kata Kezia ada yang ingin kau tanyakan, kau mau tanya apa Jo?" tanya Lika.


"Iya Bu, sebenarnya, saya sangat ingin melamar Kezia, uangnya juga sudah siap, saya tabung uang gaji dan komisi saya selama ini, siap untuk melamar dan menikahi Kezia!" jawab Jonathan mantap.


"Kau ini nafsu sekali ingin melamar Kezia, tunggulah sampai Kezia lulus kuliah dan di wisuda, tinggal dua bulan lagi!" kata Ricky.


"Saya ingin melamar Kezia secepatnya, paling tidak kami bertunangan dulu sebelum menikah, nanti kalau Kezia lulus baru saya menikahi Kezia!" ujar Jonathan.


"Biarkan saja mereka bertunangan dulu Pa, yang penting ada ikatan jelas diantara mereka, lagian juga mereka kan saling mencintai!" ucap Lika.


"Hmm, kalau hanya bertunangan dulu sih gampang, hari Sabtu ini kau bisa melamar putriku sekaligus bertunangan!" kata Ricky.


"Tapi saya tidak punya orang tua Pak, apakah saya harus mengundang saudara atau kerabat saya yang lain?" tanya Jonathan.


"Terserah kamu, kau undang saja salah seorang saudaramu untuk menjadi saksi pertunangan, nanti aku juga akan mengundang beberapa kolegaku!" jawab Ricky.


"Sudah, kau simpan saja uangmu itu, biar semuanya aku yang tanggung!" kata Ricky.


"Tidak bisa begitu dong Pak, Kezia kan calon istri saya, jadi saya yang bertanggung jawab untuk biayanya!" bantah Jonathan.


"Aku ingin membuat pesta pertunangan yang mewah untuk putriku, bisa habis kalau kau pakai semua uangmu, kau simpan saja buat hari pernikahanmu nanti!" tukas Ricky.


"Tidak bisa begitu dong Pak, kan saya laki-laki yang bertanggung jawab, masa saya numpang sama Bapak sih, di mana nanti harga diri saya??" kilah Jonathan.


"Pokoknya semua acara pertunangan kalian aku yang urus!!" tegas Ricky.


"Sudah! Sudah! Kalian kenapa jadi berdebat? Sekarang sudah malam, nanti saja kita bicarakan lagi!" sergah Lika.


"Kalau begitu, saya pamit permisi dulu ya Bu, Pak, nanti saya pikirkan lagi rencana ini, pokoknya saya mau secepatnya melamar Kezia, saya juga capek lama-lama menahan ..." Jonathan menghentikan ucapannya.


"Menahan apa??" tanya Ricky melotot.


"Ada deh ... Bapak pasti tau, kita kan sama-sama laki-laki Pak!" sahut Jonathan.


"Sudah sana lebih baik kau pulang saja, besok lagi kita bicarakan rencana ini, kepalaku pusing!" kata Ricky yang langsung beranjak menuju ke kamarnya.


"Kezia, antar Jo ke depan!" ujar Lika yang langsung berjalan menyusul suaminya itu.


Kezia lalu menggandeng tangan Jonathan menuju ke depan tempat di mana mobilnya terparkir.


"Bang, nurut napa apa kata Papa, kalian ini sama-sama keras kepala deh, apa susahnya sih tinggal bilang iya gitu, biar Papa yang urus semuanya!" sungut Kezia.


"Zia, Papa Kezia boleh kok urus semuanya, tapi tetap masalah biaya Bang Jo yang tanggung, kan Bang Jo yang akan jadi calon suami Kezia!" ujar Jonathan.


"Tapi kan Papa itu orang tuaku Bang, dia pasti ingin memberikan yang terbaik buat anaknya!" sahut Kezia.


"Memang Kezia pikir Bang Jo tidak mau memberikan yang terbaik buat Kezia?" tanya Jonathan.


"Iiih Bang Jo mah! Dasar keras kepala!" dengus Kezia.


"Biarin! Yang penting masih di sayang sama Kezia!" timpal Jonathan.


"Dasar kepedean!" cetus Kezia.


"Yang penting masih di kasih cium sama Kezia!" sahut Jonathan.


"Siapa bilang? Tidak mau!"


"Kalau Kezia tidak mau cium Abang, Abang tidak akan pulang!" ujar Jonathan.


"Terserah! Paling di marahin sama Papa!"


"Kalau Papa Kezia tanya, Bang Jo bilang saja Kezia tidak mau cium Abang dulu!" sahut Jonathan.


"Iiih Bang Jo nyebelin amat sih!!" Kezia langsung berjinjit dan mencium pipi Jonathan.


Namun Jonathan masih belum beranjak dari tempatnya.


"Kurang mesra ciumnya!" cetus Jonathan.


Kezia kemudian menangkup wajah Jonathan dan mengecup bibirnya lama.


"Dah tuh! Puas??" sungut Kezia.


"Nah, ini baru oke!" kata Jonathan dengan senyum cerah di wajahnya.


"Sudah pulang sana!!" seru Kezia sambil mendorong tubuh Jonathan masuk ke dalam mobilnya.


****


Jangan lupa dukungannya guys ...


Vote, like dan komen ya ...


Terimakasih ...