
Pagi-pagi benar, Kezia sudah datang ke kantor Papanya. Suasana gedung itu masih terlihat sepi, karyawan belum banyak yang datang.
Kezia duduk di depan meja resepsionis, mengobrol dengan Lusi yang kebetulan sudah datang ke gedung itu.
"Tumben nih Non Kezia sudah datang pagi-pagi, mau pantengin cowoknya nih Yee!" goda Lusi.
"Hush! Apa sih, aku tuh mau menyelidiki soal cewek yang ada di ruangan Bang Jo, kamu juga tau kan Mbak videonya!" kata Kezia.
"Ooh, yang kemarin itu, orang kantor sampai geger Mbak, kasihan juga tuh Bang Jo kalau benar dia korban fitnah!" ujar Lusi.
"Ya pasti lah Bang Jo itu di fitnah, aku kenal betul dia, sama aku saja pacarnya dia tidak berani sentuh, apalagi sama yang lain, dan aku tau betul semua kegiatannya!" bela Kezia.
"Untung Pak Ricky lagi sibuk menangani proyek sekolahan dan rumah susun di lahan bekas pemukiman kumuh, jadi dia belum sempat lihat media sosial!" kata Lusi.
Mereka terus mengobrol sampai beberapa karyawan mulai ramai berdatangan.
"Mbak Lusi, di kantor ini, cewek yang paling berpotensi menggoda Bang Jo siapa sih?" tanya Kezia.
"Hmm, siapa ya? Bang Jo sih jarang ngobrol sama cewek, kecuali sama Mbak Rita karena memang mantan atasannya dan sama Dita sekertaris barunya!" jawab Lusi.
"Oh begitu ya, kalau gitu aku langsung naik ke atas saja deh Mbak, aku mau langsung ke ruangan Bang Jo!" Kezia lalu berdiri dan beranjak meninggalkan meja resepsionis lalu naik ke atas menuju ruangan Jonathan.
Ceklek!
Ruangan itu tidak di kunci, perlahan Kezia membuka pintu dan langsung masuk ke dalam.
Jonathan belum datang juga ke kantor, padahal sudah hampir jam 8 pagi.
"Kemana sih Bang Jo! Masa jam segini dia belum datang juga!" gumam Kezia yang mulai menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu.
Ceklek!
Pintu ruangan Jonathan di buka dari luar, Dita masuk ke dalam sambil membawa beberapa berkas di tangannya.
Dia terkejut saat melihat Kezia yang ada di ruangan Jonathan.
"Lho! Pak Jo nya kemana?" tanya Dita.
"Aku juga tidak tau! Ada keperluan apa kamu masuk ke ruangan Bang Jo?" tanya Kezia balik.
"Saya ini sekertarisnya, jadi wajar saja saya masuk ke ruangan Pak Jo, saya cuma mengantarkan berkas yang harus dia periksa!" sahut Dita.
"Letakan saja berkasnya di situ! Setelah ini kamu boleh keluar dari ruangan Bang Jo!" cetus Kezia.
"Kamu siapa berani perintah saya??" tanya Dita.
"Mau tau siapa saya? Saya ini Kezia, calon istrinya Bang Jo, anaknya Pak Ricky Gunadi!" jawab Kezia.
Seketika Dita terdiam mendengar jawaban Kezia.
"Oh, kalau begitu saya permisi keluar!" kata Dita dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Kezia kembali merebahkan kepalanya di sofa itu, hatinya mulai kesal.
Kemudian dia mengambil ponselnya dan mulai menelepon Jonathan.
"Halo Zia!" suara Jonathan mulai terdengar.
"Halo Bang, ini aku sudah di ruangan Abang, Bang Jo kemana sih??" tanya Kezia sewot.
"Tadi pas Abang baru mau berangkat, langsung di ajak Papa Kezia ke tempat proyek barunya, jadi ya sekarang Bang Jo nurut saja, kan sama calon mertua!" jawab Jonathan.
"Oalaa Bang Jo, kirain kemana, memangnya Papa belum tau mengenai video itu?" tanya Kezia cemas.
"Sepertinya belum tau Zia, ini Abang saja ngeri-ngeri sedap, kalau Papa Kezia tau, habislah Abang Zia!" sahut Jonathan.
"Ya sudah, Bang Jo sama Papa saja dulu deh biar aman, usahain Papa tidak buka medsosnya ya Bang! Biar aku yang selidiki soal kemarin di ruangan Abang!" ujar Kezia.
Setelah mereka selesai teleponan, Kezia langsung bangkit dan bergegas keruang pusat informasi mengenai cctv.
Ruangan ini khusus berisi komputer-komputer yang terhubung dengan seluruh ruangan yang ada di seluruh gedung ini.
Pak Toni yang biasa menjaga ruangan itu, dengan perlahan Kezia masuk ke dalam ruangan itu.
"Selamat pagi Pak Toni!" sapa Kezia.
"Eh, Non Kezia, pagi Non!" balas Pak Toni.
"Pak Toni, aku mau lihat dong, cctv yang kemarin, pak Toni pasti sudah tau kan siap video mesum yang pagi viral itu?" tanya Kezia.
"Oh, yang soal direktur baru itu, memangnya kenapa Non, kan di dalam ruangan tidak ada cctv, adanya di koridor!" kata Pak Toni.
"Iya Pak, saya mau lihat yang di koridor, soalnya video itu fitnah Pak, saya tidak rela dong pacar saya di fitnah begitu, makanya saya mau cari tau siapa wanita penggoda itu!" jelas Kezia.
"Oh, jadi direktur baru itu pacarnya Non Kezia? Oke lah Non, nih Bapak tayangkan cctv yang kemarin!" ujar Pak Toni akhirnya.
Pak Toni mulai menayangkan cctv yang kemarin, Kezia memperhatikannya dengan seksama.
"Ini kemarin pagi, benar ada yang masuk keruangan Pak Jo, tapi orangnya tidak di kenal, karena dia memakai jaket dan masker!" kata Pak Toni.
"Kalau ada yang mencurigakan kok di diamkan saja sih?" tanya Kezia.
"Karena memang tiap pagi para OB menyediakan minuman di masing-masing ruangan atau divisi, kalau soal pakai masker tidak dipermasalahkan karena kan memang harus menjaga kebersihan!" jelas Pak Toni.
Video itu terus berjalan hingga terlihat seseorang memasuki ruangan Jonathan setelah beberapa lama minuman itu di sajikan.
Namun lagi-lagi orang tersebut tidak jelas siapa karena memakai jaket dan masker.
Kezia menarik nafas panjang, hatinya begitu dongkol.
"Kalau begini terus, gedung ini bisa kebobolan maling Pak! Masa semua orang yang masuk tidak jelas wajahnya!!" sungut Kezia.
"Maaf Non, kebetulan kemarin saya ijin tidak masuk, karena diare, makanya saya serahkan ruangan ini sama si Didi!" kata Pak Toni.
"Didi?? Didi siapa?" tanya Kezia.
"Didi security, kan di pos depan juga ada monitor buat cctv!" jawab Pak Toni.
"Huh! cctv ternyata juga tidak bisa membantu! Ya sudah Pak, aku kembali, biar aku selidiki secara manual saja!" sungut Kezia sambil berlalu dari ruangan itu.
Saat Kezia kembali menuju ruangan Jonathan, dia berpapasan dengan Rita. Rita terlihat terkejut saat bertemu dengan Kezia.
"Mbak Rita? Kok ada di lantai ini? Bagian marketing bukannya di lantai dua ya?" tanya Kezia.
"Eh, Kezia ... itu ... aku ... tadi ada urusan sama seseorang, tapi udah selesai kok!" jawab Rita gugup.
Dia buru-buru berlalu dari hadapan Kezia. Kezia menatapnya dengan pandangan aneh.
Kemudian Kezia kembali masuk ke ruang Jonathan. Dia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa empuk itu.
Tiba-Tiba matanya tertuju pada setangkai mawar merah yang ada di meja kerja Jonathan. Kezia membulatkan matanya.
Perlahan Kezia mendekati meja itu dan mengambil bunga mawar itu.
****
Hai guys ...
Bagi yang belum tau kehidupan Kezia dan keluarganya di masa kecilnya, bisa baca novel Author yang judulnya Pelabuhan Terakhir, di sana menceritakan tentang hidup Pak Ricky, seorang duda yang menemukan cinta sejatinya.
Tetap dukung selalu ya ...
Trimakasih ...