
Jonathan baru saja hendak merebahkan tubuhnya malam itu, rasanya sangat penat dan lelah sekali, tapi dia tidak dapat menyembunyikan kebahagiaanya, saat bisa berkomunikasi dengan Kezia.
Jonathan mengeluarkan dompet barunya hadiah dari Kezia, kemudian mengeluarkan KTP nya yang masih ada coretan tangan Kezia.
"Sampai kapanpun, Aku tak akan pernah mengganti KTP ini Zia!" gumam Jonathan sambil mengecup dompetnya. Kemudian memasukan kembali KTP nya itu di dalam dompetnya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, Jonathan lalu meraih ponselnya yang dia letakan di meja samping tempat tidurnya, ada telepon dari Medan, dari Binsar sepupunya.
"Halo Bang Binsar!" sapa Jonathan.
"Jo, apa yang terjadi denganmu dan Ratna?" tanya Binsar.
"Apa maksudmu Bang?" tanya Jonathan balik.
"Sejak pulang dari Jakarta, Ratna jadi murung, dia terus mengurung diri di kamarnya, tidak mau makan, malah sekarang jatuh sakit!" kata Binsar.
"Kenapa Ratna seperti itu?" gumam Jonathan.
"Harusnya aku yang tanya padamu Jo, apa yang terjadi dengan kalian, Bapak dan Mamaknya bingung karena Ratna tiba-tiba berubah!" ujar Binsar.
"Bang Binsar, aku hanya bilang kalau selama ini aku hanya menganggap Ratna itu adik, tapi mungkin Ratna marah karena ucapanku itu, aku sudah coba hubungi dia tapi tidak bisa!" tukas Jonathan.
"Terlalu kau Jo! Itu namanya kau mempermainkan perasaan wanita!" cetus Binsar.
"Aku tidak mempermainkan perasaan wanita, aku hanya berkata jujur Bang!" sanggah Jonathan.
"Aku yakin, di Jakarta kau sudah berselingkuh, dan Ratna tau itu!" seru Binsar.
"Bang! Kau jangan sok tau! Aku tidak berselingkuh! Aku hanya jujur mengenai hatiku terhadapnya, lebih cepat lebih baik, kalau lama-lama Ratna makin kasihan!" ujar Jonathan.
"Sekarang Ratna sakit, kau harus tanggung jawab Jo!" Kata Binsar.
"Tanggung jawab apa sih Bang! Aku tidak menghamilinya kok!" kilah Jonathan.
"Bapak sama Mamaknya Ratna menyuruhmu untuk pulang ke Medan!" sahut Binsar.
"Aku tidak bisa, aku kan kerja!" tukas Jonathan.
"Sebentar saja, hari Sabtu dan Minggu kau kan libur Jo, kau berangkatlah hari Jumat sore, aku cuma menyampaikan ini, trimakasih!" ucap Binsar yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Jonathan menjambak rambutnya frustasi. Dia mulai membenamkan kepalanya di bantal dan langsung memaksakan dirinya untuk tidur, melepaskan semua beban yang ada di hatinya.
****
Sore ini, Setelah Jonathan menyelesaikan pekerjaannya, dia langsung menuju ke kampusnya, karena ada kelas untuk kuliahnya.
Sebelum masuk ke kelas yang akan di mulai 30 menit lagi, Jonathan mencari Kezia di kelasnya.
Namun Kezia tidak nampak di kelasnya, Jonathan malah bertemu dengan Erin, yang saat itu baru selesai kelas.
"Erin! Lihat Kezia tidak?" tanya Jonathan.
"Eh Bang Jo, lama nih tidak ketemu, Kezia lagi di kantin sendirian tuh, sepertinya dia lagi bete!" jawab Erin.
"Bete kenapa dia? Tumben kamu tidak bareng Kezia Rin?" tanya Jonathan.
"Tidak semua kelas kami sama Bang Jo, Kezia sekarang fokus ke pembuatan skripsinya," sahut Erin.
"Ooo, oke deh, aku cari Kezia di kantin saja!" ujar Jonathan.
"Kalau begitu aku pulang duluan ya Bang!" Pamit Erin yang langsung berjalan menuju parkiran motor dan langsung memakai helmnya.
"Lho, si Erin tumben naik motor, biasanya bawa mobil!" gumam Jonathan.
Jonathan segera berjalan menuju kantin yang letaknya di dekat parkiran.
Matanya menangkap sosok yang sudah familiar dalam ingatannya, Kezia nampak duduk sambil menikmati segelas jus alpukat di hadapannya.
Perlahan Jonathan pun mendekatinya.
"Hai cantik! Tumben sendirian!" sapa Jonathan sambil mengambil posisi duduk di depan Kezia.
"Eh, Bang Jo, ada kelas Bang?" tanya Kezia.
"Sebentar lagi!" jawab Jonathan.
"Aku pulang duluan ya Bang!" kata Kezia.
"Bukan Bang, tapi aku sudah selesai kelas Bang, Bang Jo kan baru mulai, lagi pula sekarang Papaku melarang aku pulang malam lagi!" jawab Kezia.
"Hmm, Kezia tunggu Bang Jo sebentar saja, hanya 45 menit kok kelas Abang!" pinta Jonathan.
Kezia melirik ke arah jam tangannya, kemudian dia menganggukan kepalanya.
"Ya sudah deh Bang, aku tunggu di sini saja, cepat masuk kelasku Bang, nanti bang Jo telat lagi, kapan suksesnya!" ujar Kezia.
Jonathan segera berdiri, kemudian dia mengelus rambut Kezia.
"Seneng sekali kuliah di tungguin sang kekasih!" ujar Jonathan dengan senyum menyeringai.
"Siapa juga yang jadi kekasih Abang yeee!" sahut Kezia sambil menjulurkan lidahnya.
Dengan cepat Jonathan langsung berlari menuju ke kelasnya yang ada di lantai 3 gedung itu.
Selama 45 menit, Kezia menunggu di kantin, sesekali dia berdiri meregangkan tubuhnya yang lumayan penat itu.
Waktu sudah menunjukan jam 4.30 sore, Kezia di beri waktu oleh Papanya pulang kuliah paling lambat jam 7 malam.
Setelah selesai kelas, Jonathan langsung berjalan cepat kembali menemui Kezia yang masih setia menunggunya.
"Kok cepat Bang? Curang ya curi start?" tanya Kezia.
"Bang Jo kan cepat mengerjakan tugas, supaya Kezia tidak kelamaan menunggunya!" sahut Jonathan.
"Ah, Bang Jo bisa saja!" cetus Kezia.
"Kezia, Abang minta maaf ya, Bang Binsar telepon Abang, katanya Ratna sakit dan mengurung diri di kamar, mungkin weekend ini Bang Jo mau balik Medan dulu, untuk menyelesaikan masalah Abang sama Ratna!" ucap Jonathan.
Kezia menatap dalam ke arah Jonathan.
"Bang Jo, lebih cepat selesai lebih baik, kalau Mbak Ratna sampai sakit gara-gara aku, aku pasti akan sangat merasa bersalah!" kata Ratna.
Jonathan menggenggam tangan Kezia, erat dan hangat.
"Bang Jo hanya perlu Kezia percaya, kalau di hati Abang hanya ada Kezia seorang, bukan yang lain, Kezia mau kan jadi kekasih Bang Jo?" tanya Jonathan sambil mengecup jemari Kezia.
Wajah Kezia bersemu merah seketika.
"Bang Jo selesaikan dulu urusan sama Mbak Ratna, nanti setelah pulang baru kita bicara lagi!" jawab Kezia.
"Hmm, oke deh, Bang Jo sabar nungguin Kezia, yuk Bang Jo antar Kezia pulang!" tawar Jonathan.
"Jangan Bang! Aku naik mobil Erin!" sergah Kezia.
Jonathan mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau selalu naik mobil Erin? Sementara Erin hanya naik motor?" tanya Jonathan heran.
"Oh, itu karena Erin terlalu baik Bang, mau pinjami aku mobilnya, dan sia lebih suka naik motor!" jawab Kezia beralasan.
"Berarti hari ini Bang Jo tidak bisa antar Kezia pulang?" tanya Jonathan.
"Iya Bang, maaf ya!" sahut Kezia.
"Ya sudah, lain kali jangan pinjam mobil Erin lagi, biar Bang Jo yang antar jemput Kezia!" ucap Jonathan.
"Tapi ..."
"Bang Jo akan kumpulkan uang supaya bisa beli mobil, dan bisa antar Kezia kemanapun supaya lebih nyaman!" lanjut Jonathan.
"Bang ...bukan itu maksudku!" ucap Kezia.
'Itu mobilku bang ... bukan mobil Erin, andai Bang Jo tau ... tapi belum saat nya ya Bang!' Batin Kezia.
*****
Hai readers ....
Trimakasih sudah mengikuti cerita Author sampai sini ...
Tetap dukung Author dengan Like dan Vote ya ...