
Pagi itu Kezia sudah bersiap akan berangkat kuliah. Dia sengaja melewatkan sarapannya takut Papanya akan menanyakan hal yang aneh-aneh.
"Kau tidak sarapan dulu Kezia?" tanya Lika saat Kezia mengambil kunci mobil di gantungan dinding.
"Tidak Bu, aku tidak lapar, aku sarapan di kampus saja?" sahut Kezia.
Dia langsung berjalan ke arah garasi mobil, kemudian langsung naik ke dalam mobilnya. Lika yang memandangnya hanya menggelengkan kepalanya.
"Mana Kezia sayang?" tanya Ricky yang baru keluar.
"Tuh baru jalan!" sahut Lika sambil menunjuk mobil Kezia yang baru keluar dari gerbang rumah itu.
"Anak itu!! Dia selalu menghindar kalau akau Mau bertanya sesuatu padanya!" dengus Ricky kesal.
"Tanya apa sih Pa?!" tanya Lika kepo.
"Hmm, nanti saja kalau aku sudah menemukan buktinya!" sahut Ricky sambil kembali masuk kedalam rumahnya.
Sementara Lika hanya mengerutkan keningnya, bingung apa yang di maksud dengan suaminya itu.
Kezia terus melajukan mobil nya dengan kencang menembus jalanan yang cukup padat lagi itu, hingga 45 menit kemudian dia sudah sampai di kampusnya.
Dengan penuh semangat dia masuk kedalam kampusnya itu, matanya menangkap sosok yang sudah sangat di kenalnya sedang duduk di loket penerimaan mahasiswa dengan sebuah map di tangannya.
Matanya berbinar saat melihat siapa orang yang di lihatnya.
"Bang Jonathan!" panggil Kezia.
Pria yang ternyata Jonathan itu menoleh dan langsung tersenyum saat melihat Kezia.
"Kamu sudah daftar kuliah Bang?" tanya Kezia yang langsung duduk di samping Jonathan.
"Ini baru ambil formulir, di sini bagus ya tempatnya, mahal pula, aku harus kerja giat nih biar banyak dapat komisi!" ujar Jonathan.
"Hari ini Bang Jo libur?" tanya Kezia.
"Tadi pagi-pagi absen di kantor, lalu aku ijin sama Mbak Rita ke sini, berharap ketemu kamu hehehe!" sahut Jonathan tertawa sambil menggaruk kepalanya.
Kezia yang mendengarnya jadi agak salah tingkah, pria di sampingnya sungguh membuat dia jadi mati kutu.
"Bang, umur Abang berapa sih?" tanya Kezia to the point.
"Umur ku 25 tahun Kezia, kenapa?" Jonathan balik bertanya.
"Tidak apa-apa cuma mau tanya aja, waktu aku lihat di KTP bang Jo, kayaknya bulan ini Abang ulang tahun ya, betul tidak?" Kezia menoleh dan menatap wajah Jonathan.
"Hmm, ketauan deh diam-diam kamu perhatiin ulang tahunku juga!" sahut Jonathan. Kezia jadi tersipu malu.
"Ehm, maksudku bukan begitu Bang, tapi ..." Kezia tidak tau lagi harus berkata apa.
"Memangnya Kezia mau kasih aku hadiah?" tanya Jonathan.
"Dih, bang Jo ge er, siapa juga yang mau kasih Bang Jo hadiah, malah aku yang mau minta traktir!" jawab Kezia. Jonathan tertawa.
"Iya Kezia, akhir bulan kan aku sudah gajian, nanti kamu pilih deh mau makan di mana, aku traktir!" sahut Jonathan.
"Janji lho Bang!" Kezia menjulurkan kelingkingnya, Jonathan lalu menautkan kelingkingnya layaknya anak kecil.
"Oya Kezia, mengenai komisi yang akan cair karena penjualan 1 unit rumah yang waktu itu, walaupun kau sudah di pecat Pak Ricky, aku akan tetap membagi dua komisi itu!" ujar Jonathan.
"Jangan Bang, aku kan sudah tidak bekerja di kantor itu lagi, jadi komisi yang 4 persen itu buat Bang Jo saja, katanya Bang Jo mau beli motor baru kan!" Sergah Kezia.
"Tidak Kezia, kamu tetap berhak dapat setengah dari komisi itu, kan kita berdua yang closing!" tukas Jonathan.
"Tapi Bang ..."
"Pokoknya tidak ada tapi-tapian, aku ini laki-laki punya prinsip Kezia!" cetus Jonathan.
Ponsel Jonathan bergetar, Jonathan merogoh ponsel yang ada di saku celananya, kemudian di mengusap layar yang ada di ponselnya itu, Ratna yang meneleponnya.
"Halo Bang Jo, ada di mana pagi ini?" tanya Ratna.
"Abang baru mulai daftar kuliah Ratna, ini Abang lagi di kampus!" jawab Jonathan.
"Wah, syukur deh Bang, Bapak pasti senang dengernya, semoga Bang Jo sukses ya, Oya Bang, liburan semester aku ke Jakarta ya Bang, kangen sama Bang Jo!" ucap Ratna.
Jonathan nampak tertegun.
"Buat apa ke Jakarta Ratna, di sini kan aku kerja, kau juga mengajar di sekolah, sayang ongkosnya Ratna!" cegah Jonathan.
"Tapi aku kangen sama Bang Jo!" ujar Ratna.
"Kamu kangen apa sih Ratna, tiap hari kamu telepon Abang, masa bisa kangen?" tanya Jonathan.
"Pengen lihat wajah Abang langsung, nanti di Jakarta jangan naksir sama cewek ya Bang! Inget, Bang Jo itu sudah punya Ratna!" cetus Ratna.
"Ya sudah, Abang masih ada kerjaan Ratna, sudah ya ..." Kemudian Jonathan mematikan sambungan teleponnya.
Kezia yang sedari tadi duduk di sebelah Jonathan nampak cemberut.
"Asyik betul yang pacaran lewat telepon, bisa kangen-kangenan!" sindir Kezia.
"Siapa yang kangen? Jangan salah paham!" sahut Jonathan.
"Lho, kangen juga tidak apa-apa kali, sama pacar sendiri kan!" timpal Kezia.
"Sudahlah Kezia, kamu tidak ada kelas memangnya?!" tanya Jonathan.
"Oh My God!! Aku telat Bang! Harusnya aku sudah masuk dari jam 8 tadi, gara-gara ketemu Bang Jo dan ngobrol, masa sekarang sudah jam 9 aja!" sentak Kezia sambil melihat ke arah jam tangannya.
"Terus sekarang kamu mau ngapain?" tanya Jonathan.
"Kita makan bakso saja yuk di kantin! Aku yang traktir deh!" Seru Kezia sambil menarik tangan Jonathan.
Merekapun berjalan beriringan menuju ke kantin yang terletak di samping lobby.
Kezia mulai memesan dua mangkok bakso. Mereka berdua makan dengan lahapnya.
"Jadi sekarang kamu bolos ya gara-gara ketemu aku, besok jangan di ulangi lagi ya, kamu harus belajar semangat!" ujar Jonathan.
"Bang Jo juga cepat-cepat mulai kuliahnya ya, nanti kita bisa janjian pulang bareng!" kata Kezia. Jonathan menganggukan kepalanya.
"Iya, kalau bukan uang kiriman dari sepupuku Bang Binsar, aku juga tidak mungkin akan daftar secepat ini!" ujar Jonathan.
"Kiriman uang?"
"Iya, Bang Binsar sepupuku mengirimkan sisa uang warisan ibuku yang baru meninggal, aku pinjam nomor rekening Andri, taman kos ku!" kata Jonathan.
"Bang Jo mulai buka tabungan saja di bank, supaya punya ATM Bang, biasanya gaji dan komisi itu kan di transfer, masa pinjam rekening Andri terus?" usul Kezia.
"Aku mana bisa buat tabungan di bank Kezia, KTP ku sudah berubah rupa gambarnya!" sahut Jonathan.
Tiba-tiba Kezia jadi merasa bersalah, KTP Jonathan jadi amburadul juga adalah karena ulahnya.
"Maafin aku ya Bang Jo, gara-gara aku KTP bang Jo jadi rusak karena sudah ku coret-coret!" ucap Kezia menyesal.
"Sudah lupakan saja, sekarang cepat habiskan makananmu, kamu ada jam kuliah berikutnya kan? Aku akan menunggumu sambil mengisi formulir!" kata Jonathan sambil mengusap rambut Kezia.
Tiba-tiba hati Kezia menjadi begitu hangat.
****