Heart's Owner

Heart's Owner
Hadiah Untuk Pak Ricky



Pagi itu seperti biasa, Jonathan bersiap akan pergi ke kantor, Kezia bangun lebih pagi dari biasanya, dia membuatkan Jonathan Roti isi selai dan susu hangat.


"Wah, istri Abang sekarang rajin sekali buatin sarapan buat suami, bahagia deh Abang!" ucap Jonathan sambil memeluk pinggang Kezia.


"Bang Jo lebay Ah, cuma roti di kasih selai saja, anak kecil juga bisa!" sahut Kezia.


"Tetap saja Bang Jo bangga sama Kezia, nanti siang Bang Jo pulang ya sayang, makan siang lagi disini!" kata Jonathan.


"Iya Bang, tapi jangan ajak Papa lagi ya!" ujar Kezia.


"Bang Jo pulang sendiri siang ini, Beni sudah berangkat ke Medan, Papa Ricky ada janji sama orang Australia di sebuah hotel!" jelas Jonathan.


"Syukur deh Bang, Kalau ada Papa, rempong bawaannya!" cetus Kezia.


Ting Tong ...


Terdengar suara bel dari depan rumah Kezia, Kezia lalu bergegas membukakan pintu, sementara Jonathan masih menyantap sarapannya.


"Eh ada Bu RT, masuk Bu!" ujar Kezia.


Jonathan langsung menyusul Kezia ke depan.


"Siapa sayang?" tanya Jonathan.


"Eh, ada Pak Jonathan, baru mau berangkat kerja ya Pak, enak ya kerja di kantor mertuanya sendiri, Oya, ini titipan buat Pak Ricky, tolong di sampaikan ya Pak kalau ketemu di kantor!" Bu RT lalu menyodorkan sebuah bungkusan ke arah Jonathan.


"Eh Bu RT kok repot-repot?!" ujar Kezia.


"Tidak repot kok Mbak Kezia, ini sebagai ungkapan trimakasih saya untuk beliau, ya sudah saya pulang dulu ya Mbak, Pak Jo!" Bu RT segera pergi dari rumah Kezia.


Baru saja Jonathan masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba Bu Meli dan beberapa ibu-ibu datang sambil membawa bungkusan juga.


"Eh, Pak Jonathan baru mau berangkat ya, ini ada titipan dari kami untuk Pak Ricky, sampaikan rasa terimakasih kami atas kemudahannya mencicil rumah sehingga Kami semua bisa punya rumah dan sejahtera!" ucap Bu Meli, di iringi dengan anggukan ibu-ibu lainnya.


"Waduh, kenapa ibu-ibu ini jadi repot begini, saya jadi tidak enak!" ujar Kezia.


"Mbak Kezia, kami bangga lho kalau anaknya Pak Ricky tinggal di komplek ini juga, ikut arisan yuk Mbak, murah kok cuma 500 ribu sebulan!" ajak Bu Meli.


"Iya deh Bu, boleh!" sahut Kezia.


"Nah, bagus tuh, nanti saya hubungi lagi ya Mbak, kalau begitu kita pamit nih, kasihan Pak Jo nanti terlambat lagi!' ujar Bu Meli.


Tak lama kemudian para ibu-ibu itupun bubar dari rumah Kezia.


Jonathan dan Kezia menarik nafas lega.


"Akhirnya mereka pergi juga!" gumam Kezia.


"Wah, hari ini Papa Ricky dapat hadiah banyak dari ibu-ibu!" ujar Jonathan.


"Asal jangan sering-sering saja Papa dapat titipan begini, bisa cemburu ibu!" kata Kezia.


"Iya Zia, nanti Bu Lika cemburu lagi, ya sudah Zia, Abang berangkat dulu ya!" pamit Jonathan.


"Iya Bang, hati-hati ya!"


"Iya sayang!"


Mereka kemudian berciuman beberapa saat lamanya sebelum Jonathan melajukan mobilnya.


Setelah suaminya berangkat, Kezia segera masuk ke dalam rumahnya, kemudian dia duduk di sofa ruang tamunya, hari ini dia bingung mau masak apa.


Kezia melongok dari jendela rumahnya, tukang sayur keliling sudah datang dan kini sedang berhenti tak jauh dari rumah Kezia.


Kezia ingin datang ke sana, namun dia mengurungkan niatnya, takut kalau para ibu-ibu menanyainya lagi.


Ponsel Kezia yang ada di atas meja bergetar, Kezia langsung mengambilnya kemudian mengangkat panggilannya.


"Halo Zia, apa kabar?" Tanya si penelepon.


"Erin?? Ini benar Erin kan? Kau ganti nomor?" tanya Kezia balik dengan antusias.


"Zia, aku sekarang di Medan, besok adalah hari pernikahanku dengan Bang Binsar, apakah kau bisa datang Zia?" tanya Erin.


"Erin, Kenapa kau mendadak memberitahuku? Saat ini aku belum bisa jalan jauh-jauh, naik mobil sebentar saja aku sudah pusing dan mual!' sahut Kezia.


"Sebenarnya pernikahannya Minggu depan Zia, tapi di percepat karena orang tuaku tidak bisa lama-lama di Medan, karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal!" kata Erin.


"Oh begitu, selamat ya Rin, akhirnya kau menemukan jodohmu juga, aku ikut bahagia untukmu!" ucap Kezia.


"Terimakasih Zia, salam ya buat Bang Jo dan keluargamu, kemungkinan aku akan tinggal bersama Bang Binsar di Medan, aku sudah resign dari rumah sakit!" kata Erin.


"Yah, kita akan jarang ketemu dong Rin, padahal aku ingin sekali ngobrol-ngobrol seperti jaman kita kuliah dulu!" ucap Kezia sedih.


"Tenang Zia, nanti kalau Bang Jo pulang kampung kan kita bisa ketemuan, bisa ngobrol-ngobrol lagi!" ujar Erin.


"Kau benar Rin, nanti kalau kandunganku agak besar sedikit, aku akan ajak Bang Jo pulang kampung, aku kangen juga denganmu Rin!" ucap Kezia.


"Oke deh Zia, aku sudah dipanggil nih untuk persiapan besok, doain aku ya Zia!" kata Erin.


"Pasti Rin, aku doakan kamu bahagia seperti aku, nanti aku akan kirimkan hadiah pernikahan untukmu, kau tunggu saja!" sahut Kezia.


"Ah Kezia, tidak usah repot lah!"


"Tidak Rin, pokoknya kau tunggu saja!" cetus Kezia sebelum menutup teleponnya.


Tak lama kemudian, Kezia kembali melongok dari jendela ruang tamunya, tukang sayur keliling sudah tidak ada lagi, ibu-ibu juga sudah bubar.


Kezia bingung membeli bahan masakan untuk makan siang dirinya dan Jonathan.


Ting ... Tong ...


Suara bel berbunyi dari arah depan, Kezia segera membuka pintu rumahnya, dia terkesiap melihat ibunya sudah berdiri di depan rumahnya.


"Ibu!" pekik Kezia sambil memeluk Ibunya.


"Kau sedang sendirian Nak? Suamimu sudah berangkat?" tanya Lika.


"Sudah Bu, untuk ibu datang, jadi kan aku bisa curhat sama ibu!" sahut Kezia sambil menghandeng tangan ibunya masuk ke dalam rumahnya.


"Ini Ibu bawakan makanan untuk makan siang kalian, ada rujak juga buat Kezia, ada kue buatan Ibu!" Lika meletakan rantang dan bungkusan lainnya di meja.


"Ibu tau saja kalau hari ini aku belum masak, terimakasih ya Bu, Ibu Lika memang the best!" seru Kezia senang.


"Itulah feeling seorang Ibu Nak, tadi tiba-tiba saja Ibu ingat Kezia, Kezia pasti sendirian ini, makanya ibu langsung meluncur kesini!" ucap Lika.


"Ibu naik apa kesini?" tanya Kezia.


"Tadi di antar supir, nanti siang dia jemput ibu lagi sekalian menjemput adik-adikmu sekolah!" jawab Lika.


"Rujaknya aku langsung makan ya Bu!" kata Kezia.


"Makanlah Nak, itu memang khusus untuk Kezia kok!" sahut Ibunya.


Kezia langsung membuka bungkusan rujak dan memakannya dengan lahap sekali, tanpa memperdulikan rasa asam yang di rasakan ya.


Lika yang melihatnya hanya bisa menelan ludahnya sambil bergidik ngilu.


****