
Beni memboyong Ratna ke Jakarta dengan pertimbangan pekerjaan.
Mereka menempati rumah mungil pemberian Ricky sebagai fasilitas dari perusahaan, letaknya persis di sebelah komplek perumahan premium di mana Jonathan dan Kezia tinggal.
Pagi itu seperti biasa, Jonathan berangkat ke kantor.
Pada saat Jonathan hendak masuk ke dalam ruangannya, Beni sudah berdiri menunggunya di depan ruangan Jonathan.
"Hai Ben! Ayo masuk! Rajin sekali pagi-pagi kau sudah datang!" sapa Jonathan sambil membuka pintu ruangannya. Beni pun segera masuk.
"Jo, nanti malam aku mengundangmu dan Kezia untuk makan malam di rumah baruku bersama Ratna!" ujar Beni.
"Wah, dalam rangka apa Ben?" tanya Jonathan.
"Dalam rangka syukuran pernikahanku, aku kan nikah di Medan, tidak sempat mengundang kalian karena jarak!" jawab Beni.
"Oke Ben, nanti malam aku akan mengajak Kezia ke rumah kalian, sekali lagi selamat ya, semoga kalian bahagia!" ucap Jonathan.
"Terimakasih Jo, sekarang Ratna juga sudah mulai terbuka padaku, dia mulai belajar untuk memberikan hatinya untukku, Ratna istri yang baik Jo!" ucap Beni.
"Iya Ben, kau adalah teman baikku, sejak kita ketemu untuk melamar di kantor ini, kaulah orang yang pertama kali aku kenal, aku pasti akan selalu mendukungmu!" sahut Jonathan sambil memeluk dan menepuk lembut bahu Beni.
****
Menjelang siang, seperti biasa Jonathan akan pulang ke rumah untuk makan siang, kini Kezia sudah lebih mahir memasak berkat tutorial yang hampir setiap hari dipelajarinya.
"Sayang, nanti kau jangan masak buat makan malam, Beni mengundang kita makan di rumahnya!" kata Jonathan yang kini mulai duduk di ruang makan, bersiap akan menyantap makan siangnya.
"Oya, baguslah kalau begitu, semoga mereka makin bahagia, dan aku juga senang!" ujar Kezia yang kini duduk di hadapan Jonathan.
"Ya sudah, nanti kita berangkat jam 6 dari sini, Kezia siap-siap saja!" kata Jonathan.
"Bang Jo, sebenarnya aku cemburu lho kalau Bang Jo ketemu lagi sama Mbak Ratna, Mbak Ratna selalu memandang Abang dengan dalam, aku cemburu Bang!" cetus Kezia.
"Zia, ingat, Ratna itu sudah jadi istri Beni, jangan berburuk sangka terhadap orang lain, cemburu boleh, tapi jangan berlebihan!" ucap Jonathan.
"Iya deh Bang!" sahut Kezia.
"Apalagi sebentar lagi Kezia mau melahirkan anak Abang, jangan pikir negatif, selama ini kan Kezia tau gimana sayang Abang sama Kezia dan calon bayi kita!" ucap Jonathan.
"Iya Bang, sudah dong ceramahnya, pokoknya nanti di rumah Mas Beni, Bang Jo jangan jauh-jauh dari aku!" cetus Kezia.
"Iya iya, duh yang takut banget kehilangan Bang Jo, cinta sekali ya Kezia sama Abang!" goda Jonathan sambil mencubit pipi Kezia.
"Jangan Ge er Bang! Sudah ah, cepat selesaikan makannya, aku mau cuci piring!"! ujar Kezia.
Ting ... Tong ...
Suara bel di depan rumah kembali berbunyi, Kezia dengan cepat berjalan ke arah depan rumahnya.
Matanya melotot saat melihat siapa orang yang kini ada di hadapannya.
"Nando!! Kau sudah pulang??" tanya Kezia terkesiap. Nando hanya tersenyum menanggapi kakaknya itu.
"Sudah jangan lama-lama kagetnya, aku tidak di suruh masuk nih?" tanya Nando.
"Eh, ayo masuk Do, kakak turut berdukacita ya, atas kepergian Ayah Martin, ngomong-ngomong kau cepat sekali pulang ke Indonesia Do!" jawab Kezia sambil duduk di sofa sebelah Nando.
"Keponakanku sudah sebegini besar, kapan lahirnya? Aku tak sabar ingin mencubit pipinya!" kata Nando sambil mencolek perut buncit Kezia.
"Eh jangan colek-colek, keponakanmu ini bukan sabun Om Nando!" sahut Kezia.
"Dasar Papa, kenapa juga bukan Papa yang ngajarin langsung!" gumam Kezia.
Jonathan kemudian ikut bergabung duduk dengan mereka.
"Lalu kuliahmu bagaimana Do?" tanya Jonathan.
"Aku akan lanjutkan kuliahku di Indonesia, nanti aku akan atur waktunya!" jawab Jonathan.
"Nando, sudah punya pacar belum nih, masa calon bos besar masih jomblo aja!" celetuk Kezia tiba-tiba.
"Ah, selalu itu yang kakak tanyakan, seperti tidak ada pertanyaan lain saja, aku belum mau terikat sama perempuan dulu kak, fokus kuliah dan kembangkan perusahaan Papa dulu!" sergah Nando.
"Jadi cowok jangan terlalu dingin dan cuek Do, Oya, kau jangan pulang dulu Do, temani kakak di sini, nanti malam kakak ajak Nando ke tempat teman kakak yang syukuran!" ajak Kezia.
"Beres kak! Aku memang mau lama-lama di sini, kangen sama Kak Kezia dan calon keponakan!" goda Nando.
****
Menjelang magrib, Jonathan, Kezia dan Nando mulai berangkat ke rumah Beni, sesuai dengan undangan Beni, ingin mengajak mereka makan malam.
Rumah Beni lebih kecil dari rumah Jonathan, namun rumah itu nampak asri dan elegan, apalagi kini Beni sudah di berikan fasilitas mobil dari kantornya, kehidupan ekonominya juga semakin meningkat.
"Beni tersenyum senang menyambut kedatangan Jonathan dan Istrinya, di tambah Nando.
Sementara Ratna masih terlihat sibuk di dapur.
Kezia langsung beranjak ke dapur, berniat membantu Ratna menyiapkan makanan.
"Hai Mbak Ratna, masak apa nih?" tanya Kezia yang sudah muncul di dapur, Ratna sedikit terkejut.
"Kezia? Kau di depan saja, temani mereka mengobrol, aku sudah selesai kok!" ujar Ratna.
"Kau jangan sungkan Mbak, aku cuma mau membantu saja kok!" sahut Kezia.
Ratna menatap lekat ke arah perut Kezia yang terlihat sudah semakin besar.
"Perutmu sudah besar sekali, kapan bayinya akan lahir?" tanya Ratna.
"Ini sudah jalan 8 bulan, sekitar bulan depan mungkin dia akan lahir!" jawab Kezia.
"Wah cepat sekali, selamat ya Kezia!" ucap Ratna.
"Mbak Ratna juga pasti akan menyusul kok!" kata Kezia. Ratna hanya tersenyum.
Mereka lalu mulai menyiapkan makanan di piring saji, dan meletakannya di sebuah meja makan bundar.
Kezia tertegun, Ratna memasak hampir semua makanan kesukaan Jonathan, semua menu masakannya adalah masakan yang selalu Jonathan minta pada Kezia.
Tiba-tiba ada yang bergemuruh dalam hati Kezia.
"Mbak Ratna, apa makanan kesukaan Mas Beni?" tanya Kezia.
"Hmm, apa ya, aku tidak tau Zia, setahuku Mas Beni makan apa saja yang aku berikan!" jawab Kezia.
"Lalu, kau masak makanan kesukaan siapa?" tanya Kezia lagi.
Untuk beberapa saat lamanya Ratna hanya diam tanpa mampu menjawab pertanyaan Kezia.
****