
Setelah Kezia tenang dan tidak menangis lagi, Ricky segera duduk di sebelah Jonathan, sementara Kezia masih membenamkan dirinya di pelukan Jonathan.
"Jadi begini Jo, Kezia, ada kabar dari Malaysia, Martin Ayahnya Nando sedang sakit keras, Papa dan Ibu rencana akan ke Malaysia besok, jadi besok kalian usahakan menginap di rumah, temani Given, Gavin dan Tasya, kasihan Mbok Narti kalau sendirian menjaga mereka!" jelas Ricky.
"Iya Pa, besok kami akan menginap di rumah Papa!" sahut Jonathan.
"Ayah Martin sakit apa Pa?" tanya Kezia.
"Entahlah, tadi Nando telepon, Ayah Martin sudah komplikasi, sekarang di rawat di rumah sakit, kasihan Nando, selain Ayahnya dia tidak punya siapa-siapa lagi, hanya tinggal kita keluarganya!" lanjut Ricky.
"Lah terus usaha Ayah Martin gimana di Malaysia?" tanya Kezia lagi.
"Nando yang langsung ambil alih usaha Ayahnya, besok Papa akan berangkat pagi-pagi, kalau bisa malam ini kalian menginap itu lebih bagus!" jawab Ricky.
"Baik Pa, nanti malam kami usahakan untuk menginap di rumah Papa!" cetus Jonathan.
"Baiklah kalau begitu, Papa balik dulu ya keruangan, kalian jangan pelukan terus, Kezia, kau jangan manja-manja di kantor! Buat suamimu tidak fokus saja!" hardik Ricky.
"Papa apa sih?? Sirik aja liat orang bahagia!" sungut Kezia.
"Bukan sirik, tapi ini di kantor Kezia, kan tidak enak di lihat orang!" kata Ricky.
"Tidak apa-apa Pa, aku senang kok manjain Kezia, lagi pula ini kan di ruangan pribadiku, kalau di tempat umum Kezia juga tidak akan berani!" bela Jonathan.
"Hmm, kalian sama saja! Sudahlah Papa balik dulu!" Ricky segera bergegas meninggalkan ruangan Jonathan.
"Nah Kezia, waktu istirahat Abang sudah habis, Kezia boboan di sini dulu ya, Bang Jo mau kerja!" ucap Jonathan.
Kezia menganggukan kepalanya kemudian melepaskan pelukannya lalu mulai berbaring di sofa.
"Istri pintar!" gumam Jonathan sambil mengelus rambut Kezia.
Kring ... Kring ... Kring ...
Telepon di meja kerja Jonathan berbunyi. Jonathan lalu segera mengangkat teleponnya itu.
"Halo!"
"Halo Pak Jo, ada meeting sekarang dengan dewan direksi, mereka sudah berkumpul di ruang meeting lho Pak!" ujar Dita ternyata yang menelepon.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi!?" tanya Jonathan.
"Katanya kalau ada istri Bapak saya jangan masuk ruangan, makanya saya telepon!" sahut Dita.
"Ya sudah! Aku ke sana sekarang!" Jonathan lalu menutup ponselnya.
Dia menoleh ke arah Kezia yang nampak sudah tertidur.
Perlahan dia mendekati istrinya itu lalu mengecup keningnya lembut, setelah itu dia keluar dari ruangannya menuju ke ruang meeting.
****
Hati menjelang sore, sudah waktunya semua karyawan dan staff pulang kantor Jonathan juga bersiap akan pulang sambil membereskan meja kerjanya.
"Ayo Bang cepetan, udah sore nih!" rengek Kezia.
"Iya sayang, Bang Jo sudah selesai, yuk kita pulang, gimana perutnya? Masih suka mual hari ini?" tanya Jonathan yang langsung menuntun tangan Kezia keluar dari ruangannya.
"Sudah hilang mualnya Bang, aku cuma sebentar mualnya, dan tidak terus-terusan datangnya!" sahut Kezia.
Mereka terus berjalan hingga sampai ke parkiran dan mereka mulai naik ke dalam mobil.
Dengan perlahan Jonathan mengemudikan mobilnya keluar dari kantornya.
Di jalan trotoar, terlihat Linda sedang berjalan kaki pulang kantor.
"Ajak saja Bang!" sahut Kezia.
Jonathan lalu mulai menepikan mobilnya dan membuka kaca jendela mobilnya, Linda agak terkejut saat melihat Jonathan.
"Pulang bareng kita Lin! Dari pada jalan kaki, ayo naik!" Jak Jonathan.
"Jo? Aku biasa jalan kaki, rumahku dekat lho!" sergah Linda.
"Jangan sungkan Lin, istriku mengijinkannya kok, iya kan sayang?!" tanya Jonathan sambil melirik ke arah Kezia. Kezia menganggukan kepalanya.
Dengan sedikit ragu akhirnya Linda naik ke dalam mobil Jonathan.
"Ini istrimu Jo? Kau pintar pilih yang cantik!" ujar Linda.
"Kebetulan saja Kezia cantik, kalaupun dia jelek aku tetap memilih dia kok!" sahut Jonathan.
Kezia dan Linda berjabat tangan dan saling menyebutkan nama mereka.
"Ratna gimana kabarnya Jo? Kasihan dia lho, terakhir aku ketemu katanya dia rencana akan bertunangan denganmu, tapi ternyata kalian tidak jodoh!" celoteh Linda.
"Ratna sudah punya jodohnya sendiri, kau jangan ungkit-ungkit masa lalu Linda!" sergah Jonathan.
"Ups, maaf Jo, aku lupa kalau di sini ada istrimu, lagian kenapa kau begitu cepat menikah sih, padahal aku belum, Ratna juga belum!" lanjut Linda.
"Linda, kau turun di mana?" tanya Jonathan.
"Nanti ada lampu merah aku turun di situ saja Jo, tempat kos ku dekat situ!" jawab Linda.
"Bang Jo berhenti sebentar!" tiba-tiba Kezia menyetop mobil Jonathan.
Kezia lalu keluar dan menepi, dia memuntahkan semua isi perutnya, dengan panik Jonathan menyusulnya.
Tak lama kemudian Kezia sudah kembali duduk di samping kursi kemudi.
"Kezia lagi pengen makan apa? Bilang sama Bang Jo!" ucap Jonathan sambil mengelap keringat Kezia yang membasahi dahinya.
"Tidak pengen apa-apa Bang!" sahut Kezia.
"Istrimu lagi hamil ya Jo?" Tanya Linda.
"Iya Lin, dia sedang hamil sekitar 7 sampai 8 mingguan!" jawab Jonathan.
"Wah, Jonathan masih muda sudah mau punya anak, selamat ya buat kalian!" ucap Linda.
Tak lama setelah melewati lampu merah, Linda turun dari mobil Jonathan.
Kezia nampak menarik nafas lega.
"Akhirnya, dia turun juga, cerewet sekali dia! Kepalaku sampai pusing dan tiba-tiba mual!" sungut Kezia.
"Ooh, jadi Kezia mual karena mendengar omongan Linda? Maklum saja sayang, dulu waktu di sekolah Linda di kenal sebagai ratu gosip!" jelas Jonathan.
"Pantesan!" dengus Kezia.
"Sudah sayang, sekarang kita ambil baju-baju kita, untuk menginap di rumah Papa!" cetus Jonathan.
"Kita jadi menginap malam ini?" tanya Kezia.
"Jadi dong sayang, Bang Jo sudah janji sama Papa kalau malam ini kita akan menginap!" sahut Jonathan.
****