
Jonathan turun dari taksi yang berhenti di depan rumahnya di kampungnya, rumah itu terlihat sepi, tidak ada seorang pun yang menyambut kedatangannya.
Jonathan membuka pintu rumah yang tidak di kunci itu, lalu dia duduk di sofa ruang tamunya.
Seandainya Mamanya masih ada, tentu Jonathan akan di sambut saat pulang, seperti beberapa tahun lalu.
Namun kini, dia nampak orang asing di kampungnya sendiri, saudara dekat yang dia punya hanyalah Binsar, kakak sepupunya yang bekerja sebagai PNS di kelurahan.
"Kau sudah datang Jo?" terdengar suara dari luar rumah, langkahnya terdengar memasuki rumah Jonathan.
Jonathan tersenyum saat melihat siapa orang yang datang itu.
"Apa kabar Bang!" Jonathan berdiri dan langsung memeluk Binsar.
"Badanmu makin padat saja setelah di Jakarta!" seru Binsar sambil menepuk-nepuk punggung Jonathan.
"Trimakasih Bang, kau sudah rawat rumah peninggalan Mama!" ucap Jonathan.
"Bukan aku yang merawatnya Jo, tapi keluarga Ratna!" sahut Binsar.
Deg!
Jonathan langsung tertegun mendengar ucapan Binsar.
"Ratna? Bagaimana keadaannya?" tanya Jonathan.
"Kau mandilah dulu, istirahat sebentar, setelah itu kita kerumah si Ratna, Om dan Tante Purba juga sudah menunggumu Jo!" jawab Binsar.
Jonathan kemudian menaruh tasnya di dalam kamarnya, lalu dia mulai beranjak mandi.
Semua sudut rumah terawat, mungkin tiap hari di pel dan di sapu, hingga walaupun tidak di tempati, masih tetap terawat baik.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Jonathan lalu keluar berboncengan dengan Binsar menuju ke rumah Ratna.
Rumah Ratna cukup besar, orang tuanya juga cukup terpandang di daerah itu, mereka memiliki perkebunan sawit yang luas dan tambak ikan sekian hektar, di tambah lagi Ratna yang bekerja sebagai guru, menandakan keluarga ini orang yang berpendidikan.
Ketika Jonathan dan Binsar masuk ke pekarangan rumah itu, Tante Purba, ibunya Ratna langsung datang menyambutnya.
"Hei Jo! Gimana kau di Jakarta?? Katanya kau dapat kerja enak ya, ayo masuk Nak!" sambut Tante Purba sambil menggandeng tangan Jonathan.
"Om Purba mana Tante?" tanya Jonathan setelah mereka duduk di ruang tamu.
"Om mu itu masih di kebun, Oya, kau sudah makan belum Jo? Makan dulu ya! Itu si Ratna sejak dari Jakarta makannya sedikit sekali, mungkin kalau kau temani, dia bisa makan banyak!" cetus Tante Purba.
"I...iya Tante, trimakasih!" ucap Jonathan.
"Ratna!!! Keluar kau dari kamarmu!! Itu Abang mu sudah sampai, kau sambut kek, atau apa kek! Kerjaanmu mengurung saja di kamar!!" teriak Tante Purba yang suara menggelegar seperti petir di siang bolong.
Tak berapa lama kemudian, Ratna muncul dari kamarnya, wajahnya agak kusut dan sendu, dia terlihat lebih kurusan dari yang lalu, senyum simpul tersungging dari bibirnya.
Ratna lalu duduk di depan Jonathan dan Binsar.
"Sudah lama sampai Bang Jo?" tanya Ratna.
"Yah, sudah beberapa jam Ratna, tadi langsung mandi dan ganti baju, lalu langsung kesini!" jawab Jonathan.
"Jo! Si Ratna sekarang jadi pendiam, mungkin dia masih kangen sama kamu! Masa pulang-pulang dari Jakarta, malah menangis, apa kurang lama liburannya?!" tanya Tante Purba sambil menyiapkan makanan di meja makan.
"Sudahlah Mak, seperti itu saja di bahas terus!!" cetus Ratna.
"Ratna, kalau begitu aku pamit ya, ada urusan di alun-alun! Jo, kalau mau pulang bell aku ya, nanti aku jemput!" kata Binsar yang langsung berdiri dari tempatnya.
"Lho!! Kau tak makan disini dulu Binsarr?!" teriak Tante Purba dari arah dapur.
"Kapan-kapan Tante!! Ada urusan!!" sahut Binsar yang langsung berjalan keluar dari rumah itu.
Ratna dan Jonathan saling diam dengan kecanggungan mereka masing-masing.
"Hei, kalian kenapa pada diam begitu, ayo makan, ini sudah sore, Jo pasti sudah lapar, Ratna! Ajak Abangmu itu makan!!" seru Tante Purba.
"Ratna, Mamak mau arisan dulu ya di tempat Tante Duma, kau ngobrol saja sama Jo, kalian pasti ingin ngobrol banyak kan?!" ujar Tante Purba sambil membetulkan posisi sanggulnya yang agak miring.
Lalu dia segera pergi saat sudah di jemput oleh temannya.
"Ratna, Bang Jo minta maaf ya, maaf kalau pernah menyakiti hati Ratna!" ucap Jonathan.
Ratna diam tanpa memberikan jawaban apapun, air matanya sudah menggenang di matanya.
"Ratna, Ratna belum bilang sama Bapak dan Mamak Ratna kalau Abang ..." Jonathan menghentikan ucapannya, saat Ratna menggelangkan kepalanya.
"Jangan Bang! Jangan katakan apapun sama Bapak atau Mamak, mereka pasti akan sangat marah sama Bang Jo!" seru Ratna.
"Tapi Ratna ..."
Tiba-tiba Ratna berdiri dan keluar dari rumahnya sambil menangis, Jonathan langsung mengejar Ratna.
"Ratna! Kenapa Ratna jadi seperti ini?? Maafin Bang Jo Ratna!!" teriak Jonathan.
Ratna menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Jonathan yang masih berdiri di pekarangan rumahnya.
"Bang Jo! Untuk apa Bang Jo datang kesini lagi? Bang Jo mau Ratna tambah sedih dan terluka? Karena Bang Jo sudah berpaling dari Ratna??" pekik Ratna sambil menumpahkan air matanya yang tak lagi bisa di bendung itu.
Jonathan mendekati Ratna lalu mulai memeluknya.
"Bang Jo tersiksa kalau Ratna seperti ini!" ucap Jonathan, lalu membimbing Ratna duduk di depan teras rumah Ratna.
"Ratna belum bisa ikhlasin Abang!" isak Ratna sesenggukan.
Jonathan menghapus air mata Ratna dengan kedua tangannya.
"Maafin Bang Jo Ratna, Bang Jo juga tidak bisa menjadi orang munafik yang berpura-pura mencintai Ratna, Bang Jo harus belajar jujur dari sekarang, sebelum terlambat!" ucap Jonathan.
"Bang, apakah sedikit saja Abang tidak bisa mencintai Ratna??" tanya Ratna dengan mata penuh harap.
"Bang Jo sayang sama Ratna, dari dulu, dari kita kecil, tapi Abang sadar, sayang Bang Jo ke Ratna adalah sayang Abang sama adiknya, Bang Jo harap Ratna mau memahami hati Bang Jo, dan Abang juga mau bilang ini sama Bapak dan Mamak Ratna!" ucap Jonathan.
"Jangan!!" sergah Ratna.
"Kenapa??" tanya Jonathan.
"Mereka pasti akan marah besar sama Abang, karena ... kita sudah di jodohkan!" jawab Ratna.
Jonathan menghela nafas panjang. Tiba-tiba dia teringat akan pesan mendiang ibunya sebelum meninggal.
Ibunya berpesan agar Jonathan menjaga Ratna dan melindungi Ratna, bahkan memintanya untuk menikahi Ratna.
Jonathan juga sudah berjanji di depan ibunya sebelum meninggal kalau dia akan menikahi dan melindungi Ratna.
"Kenapa Bang Jo diam??" tanya Ratna, matanya menyorot tajam ke arah Jonathan.
"Maafin Bang Jo Ratna, Abang salah, Abang juga sudah terlanjur berjanji sama Mama Abang akan menikahi Ratna!" ucap Jonathan menunduk, wajahnya terlihat sedih.
"Hei!! Kalian belum menikah jangan duduk berduaan di pojok sana!! Ayo masuk Jo!!" seru Om Purba, Bapak Ratna yang baru pulang dari berkebun.
Ratna dan Jonathan tersentak kaget.
Mereka saling berpelukan dan melepas rindu.
"Lama tak terlihat kau makin tampan saja Jo! Pantas saja putriku siang malam memikirkanmu!!" seru Om Purba sambil menepuk bahu Jonathan.
*****
Ayo dukung author guys ....
Trimakasih ...