Heart's Owner

Heart's Owner
Menjalin Persahabatan



Kezia dan Jonathan keluar dari kamar sambil bergandengan tangan. Ricky dan Lika yang masih duduk di tuang keluarga nampak tertegun menatap mereka.


"Lho, sudah akur lagi nih, cepat amat! Tadi ibu dengar ada yang mau kabur ke Malaysia" ledek Lika.


"Belum tau dia rayuan maut di Jo bisa meluluhkan hati Kezia, aku makin kagum padamu, padahal aku dulu di tinggal Lika berbulan-bulan baru kembali!" ujar Ricky.


"Papa dulu kurang gencar sih kejar ibu!" cetus Kezia.


"Siapa bilang? Ibumu saja yang pergi tanpa pamit dari Papa!" sahut Ricky.


"Sudah! Sudah! Kenapa jadi membahas masa lalu sih!" sungut Lika tersipu.


"Papa, Ibu, aku ijin keluar ya sama Bang Jo!" pamit Kezia.


"Mau kemana lagi kalian? Baru saja baikan sudah mau pergi saja, mending di rumah nonton drama Korea!" ujar Ricky.


"Drama Korea itu ada romantisnya ya Pa?" tanya Jonathan semangat.


"Ya, ada dong, aku saja sering nonton dengan Ibu, pokoknya di jamin baper!" sahut Ricky.


"Papa ih, inget umur Pa!" cetus Kezia.


"Umur boleh tua, tapi jiwa harus selalu muda, iya tidak sayang?" Ricky melirik dan mencolek dagu Lika.


"Papa apaan sih, malu Pa depan anak dan calon mantu!" cetus Lika.


"Kenapa harus malu, memangnya dunia ini cuma milik mereka berdua? Kita juga sayang, ehm ... jadi pengen nih, ke kamar yuk!" Ricky langsung menarik tangan Lika menuju ke kamar mereka.


"Menjijikan!!" dengus Kezia.


Jonathan terkesiap menyaksikan kemesraan calon mertuanya itu.


"Zia, nanti kalau kita sudah menikah, aku sangat ingin seperti mereka, menua bersama dalam ikatan cinta yang bahagia!" ucap Jonathan.


"Sudah deh Bang, jangan baper lihat mereka, kita jalan yuk, sudah siang nih!" Kezia menarik tangan Jonathan keluar dari rumah itu.


Mereka langsung menuju ke mall untuk membeli kado Tasya.


Pada saat mereka selesai dari toko anak-anak, di sebuah gerai minuman, mereka bertemu dengan Beni yang sedang duduk sendiri dengan wajah kusut.


"Hai Ben!" sapa Jonathan yang langsung duduk di depan Beni.


"Hai, kalian asyik sekali berdua terus!" sindir Beni.


"Kau kenapa Bro? Kelihatannya sedang frustasi!" tebak Jonathan.


"Aku baru di putusin si Meti Jo! Sakit hatiku Jo, padahal selama ini aku sudah berusaha setia sama dia! Padahal aku naik jabatan sebagai manager berharap dia akan bangga padaku, tapi ternyata dia malah memutuskan hubungan kami!" ungkap Beni sedih.


"Aku turut prihatin Ben, semoga kau akan dapat pengganti yang lebih baik dari Meti!" ucap Jonathan sambil menepuk lembut bahu Beni.


"Sudah Ben, dari pada galau mending ikut kita!" ajak Kezia.


"Ngapain aku ikut kalian? Yang ada aku malah jadi nyamuk nakal!" sungut Beni.


"Habis ini kami mau ke cafe Mbak Rosi yang baru di bangun, hari ini dia buka perdana lho, kami juga rencana mau ajak Ratna!" kata Jonathan.


"Ratna? Siapa dia?" tanya Beni.


"Adikku dari Medan!" sahut Jonathan cepat.


"Iya Ben, dari pada galau mending senang-senang, yuk!" ajak Kezia.


Akhirnya mereka sepakat janjian ke cafe Rosi sepulang dari mall itu.


Cafe Rosi kini sudah selesai di pugar pasca kebakaran beberapa waktu yang lalu.


Kini bangunan nya nampak lebih artistik dan elegan. Dengan nuansa yang romantis, mirip seperti Joy Cafe.


Setelah mereka sampai di Cafe Rosi, Jonathan langsung menelepon Ratna untuk ikut bergabung, berharap gadis ini akan terhibur dengan kesedihannya.


"Kezia ... aku minta maaf ya waktu itu karena ..."


"Ssst, sudah lupakan Mbak, kita mau senang-senang di sini!" potong Kezia cepat.


Jonathan langsung memesan beberapa minuman dan makanan.


"Kalian nikmati dulu sajiannya, kalau kurang nanti kita tambah lagi! Hitung-hitung meramaikan cafe ini!" kata Jonathan.


"Ah kau Jo, memang selalu royal!" sahut Beni.


Rosi muncul dari dalam cafe, dia langsung datang menghampiri meja Jonathan.


"Wah, pantas dari tadi ada yang ramai di cafe ku, ternyata kalian!" kata Rosi yang kini duduk bergabung dengan mereka.


"Mbak Rosi, gimana kabar Dedeknya? Sehat?" Kezia mengusap-usap perut Rosi yang kini terlihat semakin membukit.


"Sehat, kemarin baru periksa ke dokter, sejak hamil Andri selalu melarang ku ke mana-mana, di cafe saja dia menyuruhku untuk duduk dan memantau, tidak boleh bekerja apapun!" ungkap Rosi.


"Wahh ... pasti sesuatu ya rasanya, selamat deh Mbak Rosi, semoga lancar sampai melahirkan ya!" ucap Kezia.


"Jo, kode keras tuh! Kapan kau akan membuat Kezia hamil?" tanya Beni.


Jonathan langsung meninju perut Beni, hingga Beni meringis.


"Hush! Sembarangan saja kau bicara! Mana mungkin aku membuat Kezia hamil sebelum menikah!" cetus Jonathan.


"Ah, kau ini Jo, kau buat sekarang atau nanti kan sama saja, ujung-ujungnya kau akan menikahi Kezia kan dua bulan lagi!" ujar Beni.


"Sorry Ben, aku bukan orang macam itu, aku akan tetap menjaga kesucian Kezia sampai sah nanti, jadi tutup mulutmu sekarang!" tukas Jonathan.


"Ah, kau ini Jo, padahal kau sangat ingin kan? Terbukti saat di kantor kau selalu on saat dekat Kezia, dan parahnya, tidak turun-turun seharian! Luar biasa!" ledek Beni.


"Stop!! Kalian tidak malu bicara begitu di depan kami para wanita??" berang Kezia.


"Ups! Sorry, jadi melebar kemana-mana kan!" sahut Beni.


Ratna yang sedari diam saja menggigit bibirnya, dalam hatinya sesungguhnya dia sangat iri dan cemburu pada Kezia. Apalagi sejak tadi tangan Jonathan tak lepas dari tangan Kezia, dan dia juga melihat sepasang cincin yang tersemat di jari manis mereka.


"Maaf, aku duluan pulang ke kosan!" Ratna berdiri dan hendak beranjak pergi. Namun tangan Kezia mencegah nya.


"Jangan pergi Mbak Ratna, kita baru mau mulai makan!" kata Kezia.


"Iya Ratna, di sini saja dulu, kalau kau risih mendengar obrolan para pria, kita para wanita duduk saja di meja sendiri!" ujar Rosi yang mulai mengajak Ratna dan Kezia bergeser ke meja lain.


Akhirnya Ratna mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu.


Rosi, Kezia dan Ratna duduk di meja sebelah meja Jonathan.


"Ratna sampai kapan di Jakarta?" tanya Rosi.


"Entahlah, aku juga tidak tau, rencana aku mau cari kerja saja di Jakarta!" jawab Ratna.


"Untuk sementara sebelum dapat kerja yang cocok, kau bantu-bantu saja dulu di cafe ku, sekalian kita bisa sering mengobrol banyak!" ajak Rosi.


"Benarkah? Aku mau banget! Terimakasih Mbak Rosi!" ujar Ratna senang.


"Aku juga boleh dong sering main kesini mengobrol dengan kalian!" timpal Kezia.


****


Hai guys ...


Author mau tanya, bagaimana jika Author up cerita ini 3 hari sekali, kelamaan tidak? Karena Author mau publish cerita yang lain...


Terimakasih ...


Jangan lupa ya dukungannya....