
Karena kejadian tadi pagi membuat Jonathan tidak konsentrasi dalam bekerja, maka Ricky meminta Jonathan untuk mandi di kantor sampai kondisi tubuh Jonathan normal.
Batal sudah rencana untuk presentasi apartemen baru, padahal presentasi hari ini sangat potensial untuk karir Jonathan ke depan.
Dita mengantarkan minuman hangat ke ruang Jonathan atas perintah Ricky langsung.
"Pak Ricky pesan Pak Jo harus menghabiskan minuman ini, lalu kalau kondisi Pak Jo belum normal jangan keluar dulu dari ruangan!" kata Dita sambil meletakan minuman itu di atas meja.
"Ya sudah, sekarang kau boleh keluar!" titah Jonathan.
"Baik Pak, tapi sebenarnya Pak Jo kenapa sih? Sakit?" tanya Dita lagi.
"Itu bukan urusanmu, jangan mau tau urusan orang lain!" cetus Jonathan.
"Ya siapa tau saya bisa membantu Pak!" sahut Dita.
"Kau tidak akan bisa membantu, cuma Kezia yang bisa membantu, lebih baik kau keluar saja!" kata Jonathan.
"Hmm baiklah Pak, kalau butuh bantuan jangan sungkan hubungi saya!" ujar Dita sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
"Sial! Baru kali ini aku kerja kepalaku pusing tujuh keliling begini!" sungut Jonathan.
Ceklek!
Pintu ruangan Jonathan di buka dari luar, manager Beni masuk dan langsung duduk di hadapan Jonathan yang dari tadi memegangi jidatnya karena pusing.
"Wah, direktur kita kelihatannya sedang suntuk, makan siang bareng yuk Jo!" ajak Beni.
"Sorry Ben, siang ini aku makan di ruangan saja, aku sudah pesan makanan lewat online!" kata jonathan.
"Tumben Jo, biasanya kau selalu suntuk di ruangan dan selalu ingin ke luar, ada apa sih Jo?" tanya Beni kepo.
"Hmm, gini Ben, tadi pagi Kezia membuat aku tegang sedemikian rupa, hanya karena aku mulai belajar mencium dia, tapi sialnya tingkat ketegangan ku tidak turun-turun sampai sekarang!" ungkap Jonathan.
Beni tertawa terpingkal-pingkal mendengar pengakuan dari Jonathan.
"Hahahah kau ini lucu, bodoh, atau polos Jo!! Kalau begitu kenapa tidak kau keluarkan sendirian saja supaya kau tidak pusing??" ujar Beni yang masih tertawa geli.
"Diam kau! Bukannya membantu malah mentertawakan aku!" dengus Jonathan.
"Oke Oke, sebagai sesama laki-laki aku paham perasaanmu, makanya kau cepatlah nikahi Kezia, jadi kau bisa sepuas-puasnya menumpahkan hasratmu!" kata Beni.
"Hmm, aku harus bersabar setidak nya dua bulan lagi Ben, entah mengapa dua bulan itu terasa lama sekali!" ungkap Jonathan.
"Sabar lah Bro, kau beruntung sudah mau menikah dua bulanan lagi, lah aku, calon saja tidak jelas!" ujar Beni.
"Lho, kenapa kau tidak langsung melamar si Meti Ben?" tanya Jonathan.
"Boro-boro melamar, ketemu saja aku jarang sekarang sama dia, katanya sih sibuk! Entahlah!" keluh Beni.
"Kalau kau cocok dengannya kejar Ben, kalau tidak cocok cari saja yang lain!" usul Jonathan.
"Oke lah Jo, ku pertimbangkan usul mu, aku mau ke kantin dulu, lapar!" kata Beni yang langsung beranjak meninggalkan ruangan Jonathan.
Kriiing ... Kriiing ...
Telepon di meja kerja Jonathan berdering, Jonathan buru-buru mengangkatnya.
"Halo selamat siang!"
"Halo Bang Jo! Kok ponselnya tidak di angkat-angkat sih?" terdengar suara Kezia di seberang.
"Maaf Zia, hampir setengah harian ini Bang Jo Pusing, jadi tidak buka-buka ponsel!" sahut Jonathan.
"Pusing kenapa? Gara-gara tadi ya, hihihi maaf ya Bang Jo!"
"Kezia di mana sekarang, nanti Abang jemput ya, sebentar lagi Abang juga pulang, di suruh Papa!" kata Jonathan.
"Di suruh Papa? Tumben Papa suruh Bang Jo pulang cepat?" tanya Kezia.
"Gara-gara kamu!" cetus Jonathan.
****
Jonathan lalu segera pulang dari kantornya, dia ke rumah Erin untuk menjemput Kezia.
"Sudah puas mainnya?" tanya Jonathan saat Kezia sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Sudah dong Bang!" sahut Kezia.
"Langsung Bang Jo antar ya ke rumah Kezia, Bang Jo juga mau istirahat di apartemen!" kata Jonathan.
"Iya deh Bang, eh, besok kan hari Sabtu, antar aku ke mall yuk Bang, aku mau beli kado buat ulang tahun Tasya adikku!" ujar Kezia.
"Boleh, Kezia mau di jemput atau bagaimana nih?" tanya jonathan.
"Nanti aku kabarin lagi deh Bang, masih belum tau ini jamnya!" jawab Kezia.
Tak lama mereka sudah sampai di rumah Kezia.
"Masuk yuk Bang!" ajak Kezia.
"Bang Jo langsung saja ya, tadi Papa Ricky bilang Bang Jo harus istirahat, masa malah main di sini!" tukas Jonathan.
"Ya sudah deh, sampai ketemu besok ya Bang, mau di cium tidak?" goda Kezia.
"Jangan goda Bang Jo dulu Zia, nih cium pipi Abang saja, takut juniornya on lagi!" sahut Jonathan tersipu.
"Bang Jo mah, di sentuh dikit saja sudah langsung on!" cetus Kezia yang kemudian mulai mencium kedua pipi jonathan.
Setelah Kezia turun dari mobil Jonathan, Jonathan langsung kembali melajukan mobilnya menuju ke apartemen.
Jonathan langsung menghempaskan tubuh nya di sofa apartemen itu, tak lama kemudian dia segera beranjak mandi karena hari sudah sore.
Sepanjang sore hingga malam Jonathan hanya bersantai sambil menonton siaran televisi, hingga tak sadar kalau malam sudah datang menjelang.
Sehabis makan malam yang dia pesan lewat online, Jonathan mulai membuka laptopnya membuka file pekerjaannya yang sempat tertunda.
Jonathan juga membuat tugas-gugas online kuliahnya, sebentar lagi dia akan membuat tesis, Jonathan mengambil kuliah cepat agar dirinya juga cepat segera lulus.
Matanya sudah mulai merasa ngantuk, dia lalu menutup layar laptopnya dan segera membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya. Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.
Ting ... Tong ...
Baru saja Jonathan terbuai ke alam mimpi, tiba-tiba terdengar suara bel pintu apartemennya.
Jonathan lalu bangkit dari tidurnya dan bergegas menuju pintu. Dia mulai membukakan pintu apartemennya itu.
Matanya terbuka lebar saat melihat siapa orang yang kini sudah berdiri di hadapannya.
"Ratna?!" seru Jonathan kaget.
Ratna berdiri persis di depan Jonathan, matanya terlihat sembab seperti orang habis menangis dalam jangka waktu yang lama.
"Ayo masuk Ratna!" Jonathan mempersilahkan Ratna masuk. Ratna duduk di sofa, Jonathan langsung mengambilkan segelas air putih.
"Maaf Bang, aku mengganggumu malam-malam, aku di beritahu alamat apartemen Abang dari Bu Yani, ibu kos Abang dulu!" kata Ratna.
"Apa yang terjadi denganmu Ratna?" tanya Jonathan.
"Aku ... Aku kabur dari rumah Bang, karena Mamak memaksaku untuk menikah dengan Bang Jodi, juragan tanah itu!" Ratna kembali menangis dengan pilu. Jonathan menepuk lembut bahu Ratna, mencoba menenangkannya.
"Tapi ini sudah malam Ratna, kau akan tidur di mana? Tidak mungkin kau tidur di sini" kata Jonathan.
"Ijinkan aku numpang sebentar saja Bang, tidak apa-apa aku tidak tidur, aku duduk saja di sini sampai besok, besok aku akan cari tempat kos baru!" ucap Ratna.
"Jangan Ratna, masa kau dari Medan tidak tidur semalaman, kau tidurlah di kamar Bang Jo, Bang Jo yang tidur di sofa ini!" ujar Jonathan.
****