Heart's Owner

Heart's Owner
Kembali Bertemu



Di salah satu ruangan meeting di kantor Ricky, Jonathan sudah duduk di bangku paling depan, rasa semangat bekerjanya begitu tinggi, di sampingnya juga sudah duduk Beni, teman baru Jonathan.


"Akhirnya kita keterima juga ya Jo!" bisik Beni sebelum briefing di mulai.


"Iya dong, masa aku jauh-jauh dari Medan di tolak, ayo kita buktikan kinerja kita, supaya kita dapat bonus besar Ben!" sahut Jonathan.


Tak lama kemudian, muncul seorang wanita cantik yang akan memulai pembicaraan pagi itu.


"Selamat pagi semuanya, perkenalkan, saya Rita, manager Marketing di tempat ini, saya akan sedikit menjelaskan mengenai kinerja kalian semua selaku marketing eksekutif perusahaan kami!" ucap Rita memperkenalkan diri.


Ada sekita dua puluh orang yang duduk di ruangan besar itu.


"Kalian semua adalah marketing pilihan Pak Ricky sendiri, karena itu kalian harus memberikan kontribusi yang baik bagi perusahaan ini, kalian akan mendapat gaji standar, namun selalu ada bonus penjualan, nah, bonus penjualan ini bisa lebih besar dari gaji standar kalian kalau kalian rajin promosi, promosi bisa di lakukan lewat manual atau media sosial, apapun caranya yang penting ada penjualan, kalau kalian bisa closing, maka bonus akan segera meluncur! Apa kalian semua paham??" jelas Rita. Semua yang ada di situ Menganggukan kepalanya, termasuk Jonathan dan Beni.


Setelah acara briefing selesai, mereka diperbolehkan untuk keluar dan membuat market plan, perusahaan memfasilitasi banyak sekali komputer yang terdapat di salah satu ruangan besar di gedung itu.


Sementara itu, Kezia yang masih berkeliaran di perusahaan Papanya itu nampak jenuh dan bosan, dia hendak ke kampus tapi tanggung, hari sudah menjelang siang. Akhirnya di menunggu di lantai bawah sambil mengobrol dengan Lusi.


"Mbak Lusi, yang briefing di atas kapan selesainya ya?" tanya Kezia.


"Memangnya kenapa Non? Ada yang ditunggu?" tanya Lusi balik.


"Ya tidak sih, aku berencana mau kerja di sini dulu Mbak, sekalian belajar-belajar, Papa juga sudah ijinkan kok!" kata Kezia.


"Kerja bagian apa Non? Sekertaris? Direktur? Atau GM?" tanya Lusi.


"Bukan itu Mbak, aku mau jadi Marketing eksekutif!" sahut Kezia.


"Hah?? Marketing?? Itu kan profesi yang paling bawah di sini Non! Gajinya juga kecil, cuma bonus yang besar, itu juga kalau ada penjualan! Lagian kenapa sih Non, udah enak-enak jadi anak konglomerat pake kerja segala??!" tanya Lusi terheran-heran.


"Hehe, cari pengalaman Mbak!" Sahut Kezia sambil menggaruk kepalanya.


"Hmm...ada-ada saja si Non ini!" gumam Lusi.


"Tapi inget lho mbak! Jangan beritahu siapapun kalau aku anak pemilik perusahaan ini, di sini hanya Mbak Lusi dan semua direktur yang tau, kalau sampai bocor, berarti mbak Lusi nih yang bocorin!" ancam Kezia.


"Iya iya, di jamin aman deh Non! Hmm, jangan-jangan Non Kezia ada yang di incar nih, cowok yang yang tadi di kerjain ya non!" goda Lusi.


"Hush! Sembarangan! Aku masih kesal saja sama tingkahnya yang sok pahlawan itu, masa aku lagi curhat sama alam, di sangkanya mau bunuh diri! Bodoh kan!" sahut Kezia.


"Ehm, tapi Bang Jonathan itu ganteng banget lho Non, mukanya kelihatan belasteran, ada bule-bulenya gitu!" ujar Lusi.


"Di dunia ini banyak kali cowok ganteng Mbak, udah deh, jangan suka godain orang! Nanti kualat!" cetus Kezia yang langsung ngeloyor pergi meninggalkan Lusi di meja resepsionisnya.


Kezia terus berjalan sampai keluar kantornya, matanya tertuju pada sebuah kedai kopi sederhana yang berada tepat di depan gedung kantor Papanya. Kezia langsung berjalan dan menyebrang menuju kedai kopi itu, sekedar untuk mencari hiburan.


"Selamat siang, selamat datang di kedai kopi Rosi" Sapa Rosi saat melihat gadis cantik memasuki kedainya.


"Saya pesan kopi capuccino dingin ya Mbak!" pinta Kezia.


"Siap Mbak, di tunggu ya!" Rosi segera membuatkan pesanan Kezia.


Sambil membuat racikan minuman, Rosi memperhatikan Kezia yang kini duduk sendiri di bangku pojok kedainya, wajahnya cantik, putih, tas dan pakaiannya kelihatan mahal dan berkelas, sepatunya juga cantik, seperti bukan wanita pada umumnya.


Setelah selesai, Rosi segera membawakan segelas kopi capuccino dingin pada Kezia.


"Silahkan di minum Mbak!" tawar Rosi.


"Trima kasih! Ngomong-ngomong ini baru ya kedai kopinya, sepertinya dulu tidak ada?" tanya Kezia.


"Di sini cukup ramai dan strategis, kenapa tidak membayar orang untuk menjadi pelayan? Padahal cukup ramai kan, apa Mbak tidak kerepotan melayani pelanggan?" tanya Kezia.


"Saya masih sewa tempat di sini Mbak, sayang uangnya kalau saya harus bayar orang lagi, saya dan pacar saya berencana akan menikah, jadi kami harus hemat dulu!" jelas Rosi. Tiba-tiba Kezia terdiam, dia teringat akan Robby yang mengkhianati ya dengan temannya.


"Mbak beruntung ya, punya pacar setia, bahkan sebentar lagi akan menikah, tidak seperti aku, di tusuk dari belakang!" ucap Kezia yang wajahnya tiba-tiba berubah mendung.


"Eh! Ada bang Jo! Masuk Bang, mau minum apa??" Rosi tiba-tiba berdiri saat melihat ada orang yang datang ke kedainya, orang itu adalah Jonathan dan Beni yang sedang beristirahat. Kezia langsung menoleh.


"Alamak! Kau ini seperti hantu saja! Ada di mana-mana, di jalan, di kantor, sekarang di kedai!!" seru Jonathan.


"Lho! Aku kok yang duluan sampai kedai ini! bilang saja kalau kau yang membuntuti ku! Ayo ngaku!" balas Kezia tak mau kalah.


"Apa? Membuntuti mu? kurang kerjaan sekali aku! Lebih baik minum kopi banyak-banyak dari pada membututimu!" sungut Jonathan yang langsung duduk bersama beni.


"Ros! Tolong buatkan dua gelas kopi susu dingin ya!" kata Jonathan ke arah Rosi yang masih berdiri keheranan.


"Eh, I ... iya bang!" Rosi langsung menuju ke belakang.


"Ben! Hari ini kau aku traktir, karena dompetku sudah kembali, uangnya masih utuh bahkan bertambah! Anggap saja rejeki nomplok!" ujar Jonathan.


"Wah! Hari gini ada ya kehilangan dompet lalu kembali dengan uang berlipat ganda, aku juga mau kehilangan dompet kalau begitu!" sahut Beni, mereka pun tertawa lepas.


Kezia sangat kesal karena merasa di cuekin.


"Huh! Cuma bertambah 500 ribu saja bangga!! Sombong amat!!" seru Kezia. Jonathan langsung menoleh. Lalu dia berdiri dan mendekati Kezia.


"Dari mana kau tau kalau uangku bertambah 500 ribu??" tanya Jonathan sambil menatap tajam wajah Kezia.


Kezia tertegun menyadari kesalahannya yang keceplosan bicara.


"Eh, itu, maksudku aku cuma asal tebak!" sahut Kezia gugup.


"Tidak mungkin! Kau mengatakan dengan yakin dan itu sangat tepat! Apa kau yang telah mengembalikan dompetku dan menambahi uangnya, bahkan mencoret foto yang ada di KTP ku?? Jawab!!" sentak Jonathan.


Kezia gugup dan tidak punya pilihan lain, dengan terpaksa dia mengakui perbuatannya.


"Iya! Aku memang yang telah mengembalikan dompetmu! Aku beri kau uang karena aku kasihan padamu, uangmu hanya 500 ribu, tidak cukup sampai akhir bulan, aku mencoret fotomu karena aku masih kesal pada sikapmu waktu itu!" jelas Kezia.


Jonathan langsung merogoh dompetnya, dia mengeluarkan uang 500 ribu, lalu melemparkannya di hadapan Kezia. Kezia dan semua orang yang ada di situ nampak terkejut melihat kejadian itu.


"Aku tidak butuh belas kasihan mu! Aku laki-laki yang punya harga diri! Simpan uangmu, kau pikir aku akan mati kelaparan tanpa uang ini?? Kau sudah mencoret fotoku di KTP! Aku tidak akan memaafkanmu!!" sentak Jonathan.


Dia lalu membalikan tubuhnya dan menarik tangan Beni keluar dari kedai itu.


"Ayo Ben! Aku akan mentraktirmu di tempat lain dengan uangku sendiri!!" kata Jonathan yang langsung berlalu tanpa menoleh lagi.


Rosi terpana melihat kepergian Jonathan dan temannya, dengan dua gelas kopi susu dingin yang sudah ada di atas nampan yang ia pegang itu.


Sementara Kezia nampak menangis sambil memunguti uang yang di lempar Jonathan tadi.


*****


Ayo guys....dukung cerita baru author nih...


Like, komen dan Vote ya...


Trimakasih...