
Malam itu Jonathan dan Kezia tidak bisa tidur di kamarnya, mereka gelisah bolak balik ke kanan dan ke kiri.
Akhirnya Jonathan keluar dari kamarnya, sementara Kezia masih memaksa untuk tidur dengan menutup bantal di atas kepalanya.
Jonathan berjalan dan duduk di ruang keluarga, suasana rumah sudah terlihat sepi.
Waktu juga sudah menunjukan jam 11 malam, kamar Ricky juga terlihat sepi, mereka juga nampak sudah tidur.
Jonathan yang masih belum mengantuk mencoba untuk berjalan-jalan di sekitar rumah besar itu, semuanya nampak sepi, hanya sayup-sayup terdengar suara musik dari arah pos security.
Jonathan akhirnya kembali duduk di ruang tamu, cahaya lampu remang-remang menerangi ruangan itu.
Suasana semakin mencekam, angin dingin malam masuk melalui celah jendela ruangan itu.
Jonathan ingin kembali ke kamar, tapi matanya belum mengantuk, Kezia juga tak akan memberinya jatah, makanya dari pada bosan, Jonathan mencoba untuk berjalan-jalan berkeliling rumah.
Tiba-tiba suara angin berhembus dari jendela yang tiba-tiba terbuka itu, mungkin karena angin terlalu kencang sehingga membuka jendela ruangan itu, gorden juga melambai tertiup angin yang tiba-tiba berhembus dengan sangat kencang itu.
Lalu terdengarlah suara petir yang menggelegar dengan cahaya kilat yang menyilaukan mata.
Jonathan berusaha menutup jendela yang terbuka, namun tiupan angin terlalu kencang.
Kreeekk!!
Tiba-tiba seperti ada suara benda yang di seret. Mata Jonathan membuka saat melihat ada sebuah kursi roda yang berjalan dengan pelan ke arahnya.
Jonathan mundur beberapa langkah, buluk kuduknya kini merinding semua, di atas kursi roda yang bergerak itu, Jonathan seperti melihat sosok Nenek buyut dengan mengenakan pakaian serba putih menatapnya sambil tersenyum ke arahnya.
Jonathan hanya dapat menatap sambil bergetar, tanpa mampu mengucapkan apapun dari mulutnya, lidahnya terasa Kelu.
Bukankah Nenek buyut sudah meninggal dan baru di makamkan tadi? Namun kenapa kini di hadapan Jonathan Nenek buyut tiba-tiba muncul, seperti hendak menyampaikan sesuatu.
"Cu ...!" terdengar suara dari Nenek buyut, yang membuat jonathan semakin ciut.
"Nek ... bu-bukankah Nenek sudah per-pergi?" tanya Jonathan gugup.
"Aku memang sudah pergi, aku hanya minta kau bantulah Ricky, hanya kau yang bisa membantu dia, Ricky adalah menantu kesayanganku, tapi tidak banyak orang yang menguasai bidang usahanya, tapi kau mampu Cu!" ucap sang Nenek.
"Aku? Da-dari mana kau tau kalau aku mampu membantu Papa Ricky??" tanya Jonathan lagi.
"Karena kau menantu pilihan di rumah ini, Cucu ku Lika sangat mencintai suaminya, aku pun sangat menyayangi menantuku itu, makanya aku memintamu untuk membantu dia, dan jangan pernah kau membantah setiap perintahnya, apa kau paham Cu??" tanya Nenek buyut dengan suara menggelegar.
Pada saat Jonathan kembali membuka matanya, alangkah kagetnya dia, Nenek buyut sudah tidak ada lagi di hadapannya, hembusan angin malam juga sudah mereda, dan jendela ruangan itu juga sudah tertutup kembali.
Wajah Jonathan memucat, antara percaya atau tidak dengan apa yang di alaminya tadi.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya, membuat Jonathan semakin terperanjat ketakutan.
"Ampun Nek! Aku janji Nek!!" seru Jonathan.
"Janji apa??" tiba-tiba Nando sudah berdiri di belakang Jonathan.
"Nando?? Aku kira kau ..." Jonathan menghentikan ucapannya.
"Kau ini kenapa Bang? Seperti habis melihat hantu saja!" tanya Nando heran.
"Tadi, tadi aku memang melihat Nenek buyut, dia ada di sana, di atas kursi roda!" kata Jonathan sambil menunjuk ke arah di depannya.
Nando mengerutkan dahinya heran.
"Bang Jo ini mimpi kali, Nenek buyut kan baru meninggal Bang, lagian ngapain juga Bang Jo jam segini masih berkeliaran di sekitar rumah? Mau ronda? Sekalian saja gabung sama satpam!" ujar Nando.
"Bang Jo belum bisa tidur Do, entah kenapa biasanya Bang Jo cepat sekali kalau tidur, makanya dari pada Bete Bang Jo keluar kamar saja!" kata Jonathan.
"Ooh, jadi tidak bisa tidur to, sama dong Bang, aku juga tidak bisa tidur, hawa di dalam rasanya panas sekali, makanya tadi aku keluar kamar, tapi malah melihat Bang Jo yang seperti orang ketakutan!" jelas Nando.
"Ya bagaimana tidak takut Do, tiba-tiba Nenek buyut muncul di hadapanku, dia bicara sangat jelas padaku!" ujar Jonathan.
"Hah? Serius Bang? Jadi Bang Jo bukan mimpi atau apa gitu?" tanya Nando.
"Ya serius lah Do, sejak kapan Bang Jo bohong, Nenek cuma bilang kalau Bang Jo harus bantu usaha Papa Ricky, karena tidak banyak orang yang bisa membantu usaha Papa!" jawab Jonathan.
"Ya ampun Bang, berarti itu beneran Nenek buyut! Papa memang pernah sedikit mengeluh soal usahanya yang dia bingung mau wariskan ke siapa, kalau aku sudah ada warisan dari Ayahku, Ayah Martin, aku pegang perusahaan ekspor impor Ayah, tapi Papa Ricky, belum menemukan orang yang tepat buat usaha propertinya, sementara Given dan Gavin kan masih kecil-kecil!" ungkap Nando.
"Jadi, apa yang di bilang Nenek buyut tadi seperti semacam amanat ya Do, wah, berat ini!" ucap Jonathan.
"Bang Jo tenang saja, kan ada kak Kezia, Bang Jo juga tidak akan sendirian kali, lagian kan Bang Jo kan menantu kesayangan disini!" ujar Nando.
****