Heart's Owner

Heart's Owner
Makan Siang



Jonathan duduk menghadap laptop di meja kerjanya, sambil sesekali memeriksa berkas-berkas yang lumayan menumpuk akibat Jonathan cuti menikah tempo hari.


Ceklek!


Pintu ruangan Jonathan tiba-tiba terbuka, Beni masuk dan langsung duduk di hadapan Jonathan.


"Kau Ben, ada apa?" tanya Jonathan.


"Ini Jo, mohon tandatangani surat perjanjian kontrak karyawan Baru, atas nama Linda," kata Beni.


Jonathan lalu menandatangani surat itu, lalu kembali menyodorkannya ke arah Beni.


"Dia lolos jadi marketing?" tanya Jonathan.


"Iya Jo, kau sudah kenal dia sebelumnya?" Benny balik bertanya.


"Iya, dia temanku waktu di Medan dulu, teman sekelas waktu SMU!" jawab Jonathan.


"Oala, akhirnya ketemu di kantor ini ya, sempit sekali dunia, Oya, bagaimana kabar Kezia Jo? Kenapa dia tidak ikut ke kantor bersamamu?" tanya Beni.


"Dia lagi ngidam Ben, bawaannya mual terus, ini juga aku tiap setengah jam telepon," kata Jonathan.


"Ngidam? Hamil maksudnya, ya ampun Jo, sebentar lagi kau akan jadi calon Papa, selamat ya Jo, tokcer juga benihmu!" puji Beni sambil menepuk bahu Jonathan.


"Iya Ben, terlalu cepat dari perkiraan, tapi sekarang Kezia agak manja, bawaannya minta di peluk, atau di cium, pokoknya aku kalau di apartemen susah gerak karena di kekepin Kezia, tapi aku bahagia!" ungkap Jonathan.


"Huh! Kau bikin aku iri saja!" sungut Beni.


"Iri? Kau sudah berhubungan serius dengan Ratna bukan?" tanya Jonathan.


"Ya, aku memang serius Jo, tapi Mamaknya minta syarat yang berat untuk aku bisa melamar Ratna, Mamaknya minta Ratna di belikan rumah dan kendaraan, juga mas kawin yang banyak, aku belum sanggup Jo!" jawab Beni sedih.


"Keterlaluan Mamaknya Ratna! Kau tenang saja Ben, yang penting hubunganmu lancar dengan Ratna, nanti aku coba bicara dengan Om Purba, mudah-mudahan mereka mau menurunkan syarat, Om Purba lebih bisa di ajak bicara!" ujar Jonathan.


"Terimakasih Jo, aku balik ke ruangan dulu ya, nanti siang mau makan bareng tidak?" tanya Beni.


"Sorry Ben, nanti siang aku pulang ke rumah, makan siang dengan Kezia, kasihan dia sendirian!" sahut Jonathan.


"Oh, ya sudah kalau begitu, semoga kandungan Kezia lancar sampai melahirkan ya Jo!" ucap Beni, setelah itu dia bergegas keluar dari ruangan Jonathan.


Setelah Beni keluar, tak lama kemudian Dita, sekertarisnya Jonathan masuk ke ruangan Jonathan.


"Selamat siang Pak Jo, ada pemberitahuan siang ini Pak Jo di undang makan siang bersama dengan staff direksi," kata Dita.


"Waduh, nanti siang aku makan siang dengan istriku di rumah, sepertinya aku tidak bisa hadir!" ujar Jonathan.


"Kata Pak Arif, nanti akan membicarakan proyek pembangunan di kawasan baru Pak, sekalian meeting!" tambah Dita.


"Maaf Dita, katakan pada Pak Arif, aku belum bisa join, aku sudah terlanjur janji sama Kezia!" ujar Jonathan.


"Baik Pak, manja banget istrinya, makan saja minta di temani!" gumam Dita.


"Eh Dita, bukan Kezia yang mengajak aku makan siang, aku yang menawarkan diri untuk makan siang bersama, kau jangan sok tau deh, sekarang Kezia sedang hamil, wajar aku memanjakannya!" cetus Jonathan.


"Iya iya Pak, jangan pake sewot juga kali, kalau begitu saya permisi, selamat siang!" kata Dita sambil berlalu dari tempat itu.


****


Setelah menyelesaikan tugasnya, Jonathan lalu bersiap-siap akan pulang ke apartemennya, memanfaatkan waktu istirahat siang.


Dalam perjalanan pulang, Jonathan membeli beberapa macam makanan untuknya dan Kezia.


Jonathan dengan cepat naik ke atas, kemudian langsung masuk ke dalam apartemennya.


"Eh ini istri Abang sudah menunggu ya, kita makan sekarang ya sayang!" ucap Jonathan sambil beranjak ke dapur menyiapkan makanan yang dia bawa tadi.


"Aku bosan di sini Bang!" seru Kezia yang masih duduk di sofa itu.


"Sabar sebentar lagi sayang, Bang Jo sudah hampir dapat rumah ini!" kata Jonathan dari arah dapur.


"Oya? Kok bisa Bang?" tanya Kezia antusias.


Dia lalu segera menyusul Jonathan kebelakang, Jonathan nampak sedang menyiapkan piring makan di meja makan.


"Yuk kita makan dulu, sudah Bang Jo siapkan makanannya!" ucap Jonathan sambil membimbing Kezia duduk.


Mereka lalu mulai makan bersama.


"Bang Jo belum jawab pertanyaanku tadi!" cetus Kezia.


"Ooh, yang soal rumah, jadi begini Zia, Bang Jo dan Papa Ricky sudah sepakat, Abang akan membeli rumah dengan cara mencicil langsung ke Papa, jadi tidak usah pakai DP atau melalui Bank!" jelas Jonathan.


"Papa setuju?" tanya Kezia lagi.


"Ya setuju lah, malah itu usul dari Papa, katanya Papa malu kalau menantunya beli rumah kredit di Bank, jadi solusinya ya itu, bayar ke Papa tiap bulan!" jawab Jonathan.


"Terserah Bang Jo saja bagaimana caranya, aku sih setuju saja, yang penting tinggal sama Bang Jo!" ucap Kezia.


"Zia, maaf ya sayang, Bang Jo tidak bisa lama-lama nih, Bang Jo harus segera balik ke kantor, waktu istirahat sebenarnya hanya satu jam, ini Bang Jo sudah pakai waktu istirahat lebih dari satu setengah jam!" kata Jonathan sambil membereskan piring kotor dan meja makan.


"Ya Bang Jo, aku kan masih kangen!" sungut Kezia.


"Nanti sore kan Bang Jo pulang, tinggal beberapa jam lagi kok!" kata Jonathan.


Kezia lalu kembali memeluk Jonathan, seolah berat melepaskan suaminya itu.


"Aku bete Bang, aku pengen sama Abang!" rajuk Kezia.


"Sabar dong sayang, gimana perutnya? Masih suka mual tidak?" tanya Jonathan sambil mengelus perut Kezia.


"Mual tapi sedikit Bang, dia tau saja kalau Bang Jo lagi kerja!" sahut Kezia.


"Anak pintar!" gumam Jonathan sambil mengelus dan mencium perut Kezia.


"Ah Geli Bang! Besok siang Bang Jo jangan makan di apartemen lagi, aku yang akan masak buat Bang Jo!" kata Kezia.


"Masak? Kezia bisa masak?" ledek Jonathan.


"Jangan meremehkan aku Bang, gini-gini aku pernah buatin Papa mie instan pakai telor, dan Papa suka!" kata Kezia bangga.


"Oke deh sayang, Bang Jo juga pengen di masakin Kezia, jadi besok bagaimana?" tanya Jonathan.


"Besok siang aku yang datang ke kantor Bang Jo sambil bawa makanan!" sahut Kezia.


"Tapi Bang Jo tidak tega Kezia jalan sendirian, jangan!" sergah Jonathan.


"Aku akan naik taksi online Bang, biar aman, masa istrinya tidak boleh datang ke kantor suaminya untuk mengantar makanan?? Sedih deh aku!" ucap Kezia menunduk.


Jonathan lalu memeluk Kezia dan menciumi wajahnya.


"Boleh kok sayang, besok Bang Jo tunggu ya, tapi janji Kezia tidak boleh capek-capek!" kata Jonathan.


"Siap Bang Jo ganteng!" ujar Kezia senang sambil menciumi pipi Jonathan.


****