
Ting ... Tong ...
Suara bel di pintu apartemen berbunyi, Kezia yang sedang memasak untuk Jonathan langsung bergegas membukakan pintu.
"Hai Erin!! Ayo masuk!!" seru Kezia antusias saat melihat Erin sudah berdiri di depan apartemennya.
"Kau sedang sibuk Zia?" tanya Erin yang langsung masuk dan duduk di sofa.
"Tidak, cuma masak sedikit buat Bang Jo, eh, kau sudah makan belum? Ayo makan sekalian coba masakanku!" ajak Kezia.
"Aku masih kenyang Zia, tadi dari rumah aku baru makan, aku kerja masuk siang, masih ada waktu jadi aku mampir deh," kata Erin.
"Sering-seringlah mampir kesini Rin, aku bete sendirian tiap hari, nanti siang sekalian kita bareng keluarnya yuk, kau ke rumah sakit, aku ke kantor Bang Jo!" ujar Kezia sambil menyelesaikan masakan terakhirnya.
"Boleh Zia, aku cuma ingin memberitahumu, sebentar lagi Bang Binsar mau melamar aku, tapi aku nikahnya di Medan Zia, nanti keluargaku semua ke Medan, kemungkinan setelah menikah aku juga akan tinggal di Medan!" ungkap Erin.
"Wah, akhirnya temanku menyusulku juga, kalau kau nikah di Medan, aku tidak tau bisa datang atau tidak nih, ini bawaannya masih mual terus, tidak tau kuat atau tidak perjalanan jauh!" kata Kezia. Erin membulatkan matanya.
"Kau hamil Zia?? Wah, selamat ya, akhirnya Bang Jo junior datang juga di perutmu, hebat kalian!" puji Erin.
Setelah selesai memasak dan memasukannya ke dalam tempat makanan, Kezia menyusul Erin duduk di sofa.
"Makanya Rin, aku tidak janji datang ke pernikahan nanti, karena kondisiku yang hamil begini, nanti bang Jo malah repot lagi!" jelas Kezia.
"Bang Jo gimana Zia setelah jadi suamimu?" tanya Erin kepo.
"Bang Jo itu tipe suami idaman banget Rin, pokoknya mantap lah, ku bahagia lahir batin!" jawab Kezia.
"Biasanya tipe begitu jadi incaran banyak wanita lho, hati-hati Zia, apalagi Bang Jo polos begitu!" ujar Erin.
"Ah, jangan nakut-nakutin aku Rin, aku tidak bisa bayangkan kalau hidup tanpa Bang Jo, sudah deh bicara yang lain saja!" sergah Kezia.
"Waduh segitunya yang takut kehilangan si Abang tampan, sudah yuk Zia, sudah siang nih, aku harus segera ke rumah sakit!" kata Erin.
"Ayo, aku sekalian ikut, kau naik apa tadi ke sini Rin?" tanya Kezia.
"Aku naik motor Zia!" jawab Erin.
"Jalan ke rumah sakit kan searah dengan kantor Bang Jo, aku nebeng ya, dari pada aku nunggu taksi kelamaan, kasihan anti Bang Jo keburu lapar!" ujar Kezia.
"Kau tidak apa-apa naik motor Zia? Kan lagi hamil, nanti Bang Jo marah padaku aku tidak tanggung ya!" kata Erin.
"Beres, kau jangan takut, aku kangen juga sudah lama tidak naik motor!" sahut Kezia.
Mereka akhirnya keluar dari apartemen itu, Kezia menumpang naik di motor Erin sampai depan gedung kantor Jonathan.
Setelah Kezia turun dari motor dia segera masuk ke arah lobby.
"Selamat siang Non Kezia!" sapa seorang security yang berdiri di depan pintu lobby.
"Jangan panggil aku Non Kezia lagi, tapi Nyonya Jonathan, paham?" cetus Kezia.
"Paham Non, eh, Nyonya Jonathan!" sahut security itu.
Kezia terus berjalan sampai berhenti di meja resepsionis.
"Apa kabar Mbak Lusi? Lama ya kita tidak bertemu!" sapa Kezia.
"Eh Non Kezia, makin gemukan kelihatannya, tambah happy ya setelah menikah!" goda Lusi.
"Ssst, jangan panggil aku Non Kezia lagi, sekarang aku sudah jadi Nyonya Jonathan, aku mau ke atas ke ruangan Bang Jo, mau antar makan siang!" kata Kezia.
"Wah, bahagia bener Bang Jo dapat makan siang dari istri tercinta, silahkan langsung naik ke atas Nyonya Jonathan!" ucap Lusi sambil tersenyum.
Kezia tersenyum, lalu segera naik ke atas menggunakan lift menuju ke ruangan Jonathan.
Kezia langsung masuk ke dalam ruangan itu, ternyata Ruangan itu kosong, Jonathan tidak ada di ruangan itu.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Dita sang sekertaris masuk sambil membawa beberapa map di tangannya.
"Lho, Pak Jo kemana ya?!" gumam Dita.
"Kalau masuk bisa kan ketuk pintu dulu!" cetus Kezia tiba-tiba, Dita kaget karena tidak menyadari kalau Kezia ada di ruangan itu.
"Eh, ternyata ada orang, maaf ya ..."
"Nyonya Jonathan!" potong Kezia cepat.
"Iya iya, aku juga tau kalau kau Nyonya Jonathan!" ujar Dita.
"Lalu ada keperluan apa kau ke ruangan suamiku?" tanya Kezia.
"Aku mau minta tanda tangan proposal ini, sekalian tanda tangan kontrak untuk karyawan baru!" jawab Dita.
"Ya sudah, taruh saja di meja kerjanya, setelah itu kau boleh keluar!" titah Kezia.
"Hmm, ternyata istrinya boss galak dan jutek!" gumam Dita.
"Apa kau bilang? Aku galak? Sembarangan!" sengit Kezia.
Jonathan kemudian baru masuk ke dalam ruangannya. Dia bingung mendengar perdebatan Dita dengan Kezia.
"Kalian ada apa ribut di sini?" tanya Jonathan.
"Tidak ada apa-apa Pak, itu di meja ada berkas yang harus dipelajari dan di tanda tangani, aku permisi keluar, takut ada singa betina yang mengamuk!" jawab Dita yang cepat-cepat keluar dari ruangan itu, membuat Jonathan semakin heran.
"Ada apa sih Zia?" tanya Jonathan.
"Bang Jo dari mana saja? Istri datang membawakan makan siang, malah jadi bete gara-gara sekertaris tidak sopan itu!" cetus Kezia.
Jonathan langsung mendekati Kezia dan memeluknya.
"Maafkan Bang Jo sayang, tadi Abang habis dari ruangan Pak Arif, sedikit belajar tentang dunia properti dan pengembangan, Kezia masak apa hari ini?" tanya Jonathan lembut.
"Tuh ambil saja di meja!" sahut Kezia.
Jonathan mengambil bungkusan makanannya di atas meja, lalu mulai membukanya.
"Kezia masak sayur sop dan ikan balado? Bang Jo makan ya Zia, Kezia sudah makan belum?" tanya Jonathan.
"Aku mau makan sekarang bareng Bang Jo, di suapin ya bang!" sahut Kezia manja.
"Iya sayang!" Jonathan lalu mulai membuka kotak nasi dan mulai memakannya, dia agak terkejut, ternyata rasanya tidak sesuai dengan penampakannya, sopnya ke asinan sedangkan ikan balado nya tawar kelupaan garam. Namun Jonathan berusaha menutupinya.
"Enak Bang?" tanya Kezia.
"Enak Zia, terimakasih ya sayang sudah masakin buat Abang!" sahut Jonathan.
"Coba dong suapin aku!" pinta Kezia.
"Kezia Bang Jo pesankan makanan di kantin saja ya, Bang Jo mau habiskan semua ini, lapar!" kata Jonathan beralasan.
"Bang Jo lapar? Ya sudah deh, aku makan makanan yang dari kantin saja!" ujar Kezia.
Jonathan lalu menelepon untuk di antarkan makanan untuk Kezia ke ruangannya. Sementara dia melanjutkan makannya yang di rasa tidak enak itu.
****
Jangan lupa dukungan akhir pekannya ya guys ...