Heart's Owner

Heart's Owner
Aku Cemburu Lho!



Dengan mendengus kesal Jonathan akhirnya meninggalkan tempat itu menuju ke ruang khusus marketing, wajahnya yang biasanya penuh senyum kini berubah muram.


"Selamat pagi rekan-rekan semua, sebentar lagi kita akan mendapatkan pencerahan dan motivasi dari seorang trainer yang sangat berpengalaman, dan dia adalah salah satu top marketing yang pernah mendapat penghargaan dari pemerintah!" Ujar Rita memberikan kata pembukaan.


Dari arah pintu samping, muncullah Mario dengan gagahnya, mengenakan jas formal, di sertai dengan tepuk tangan meriah dari para marketing, kecuali Jonathan.


"Perkenalkan, dia adalah Mario Sebastian, untuk Pak Mario, waktu dan tempat kami persilahkan!" Lanjut Rita.


Mario mulai memberikan pencerahan dan kata motivasi untuk para marketing.


Tiba-tiba Jonathan teringat saat dia melihat Kezia yang mengobrol dengan akrabnya dengan Mario.


Jonathan kemudian hendak keluar dari ruangan itu.


"Kau mau kemana Jo?" bisik Beni saat melihat Jonathan yang sudah ambil ancang-ancang untuk pergi.


"Ke Toilet! Mau ikut?!" sahut Jonathan sambil mulai mengendap-endap dan merunduk meninggalkan ruangan itu.


Saat Jonathan sudah keluar dari ruangan, secara tak sengaja dia bertemu dengan Ricky yang sedang berjalan di koridor menuju ke lift.


"Hei Marketing! Kenapa kau tidak ikut briefing di dalam??" tanya Ricky.


"Saya kebelet mau ke toilet!" cetus Jonathan.


"Ah, kau ini alasan saja! Apa kau sudah jiper duluan melihat Mario yang lebih unggul darimu??" tanya Ricky meledek.


"Bukan itu Pak! Saya tidak keberatan jika harus bersaing dengan dia untuk mendapat restu bapak!" jawab Jonathan.


"Lalu apa?" tanya Ricky lagi.


"Saya cemburu kalau dia mengobrol dengan Kezia tanpa seijin saya!" jelas Jonathan. Ricky melotot.


"Memangnya apa hak mu melarang putriku untuk bicara dengan siapapun??!" berang Ricky.


"Bapak lupa kalau putri bapak itu bukan single lagi, dia sudah milik saya Pak!" cetus Jonathan.


"Enak saja ngaku-ngaku milik, mana buktinya?? Ingat ya, sebelum kata restu keluar dari mulutku, kalian bukan apa-apa, dan Kezia masih wanita bebas yang bisa memilih siapapun yang cocok untuknya!" jelas Ricky.


"Sudah pasti dia memilih saya!" sahut Jonathan.


"Kau percaya diri sekali marketing!!" sengit Ricky.


"Kami sudah terikat cincin perjanjian Pak, kalau hanya saya pemilik hati putri bapak, lagi pula Kezia itu kan cinta sama saya!" tukas Jonathan.


"Hmm, baiklah, aku capek bicara padamu marketing, lebih baik kau carilah prospek sebanyak-banyaknya untuk memenuhi target 100 unit rumah yang akan kau jual itu!" ucap Ricky sambil menepuk-nepuk bahu Jonathan, lalu dia segera masuk ke dalam lift yang sudah terbuka di hadapannya itu.


Jonathan juga segera bergegas ke toilet yang memang ada di sudut koridor itu, di dalam toilet Jonathan mulai menumpahkan perasaannya.


"Kezia!!! Kenapa kau bicara dengan laki-laki lain tanpa seijinku??" teriak Jonathan di dalam toilet.


****


Pada saat jam istirahat siang hari, Beni mengajak Jonathan untuk makan siang di cafe Rosi yang berada tepat di depan gedung itu.


Mereka lalu mulai memesan makanan mereka.


"Tadi kenapa kau tidak ikut briefing dan pencerahan Jo?" tanya Beni.


"Malas Ben!" sahut Jonathan singkat.


"Biasanya kau selalu semangat kalau menyangkut soal motivasi!" gumam Beni sambil menyantap makanannya.


"Tergantung siapa orangnya!" cetus Jonathan.


"Kau ini aneh sih Jo! Gimana hubunganmu dengan Kezia? Lancar jaya kan?" tanya Beni.


"Hmm, itulah dia Ben, Pak Ricky belum merestuiku dengan Kezia, aku takut dia di gebet orang!" sahut Jonathan.


"Apa?? Pak Ricky?? Kezia anak pak Ricky??" tanya Beni terkejut.


"Ups! Keceplosan deh!" ujar Jonathan sambil menutup mulutnya dengan tangannya.


"Gila kau Jo! Berani betul kau nembak anak boss besar, anak konglomerat!!" seru Beni terkesiap.


"Mana ku tau dia anak boss besar, waktu aku nembak dia kan aku pikir dia gadis biasa!" jawab Jonathan santuy.


"Ya pantas saja Pak Ricky tidak merestui mu, kita ini kan kerja di kantor itu dengan jabatan paling bawah! Marketing!" ujar Beni.


"Tapi aku tidak menyerah Ben, Pak Ricky kasih syarat aku harus menjual 100 unit rumah kalau mau mendapat restu darinya, dan aku sudah menyanggupinya!" sahut Jonathan.


Beni melanjutkan makannya sambil geleng-geleng kepala.


Tiba-tiba dari arah luar, Mario masuk di temani oleh Kezia. Jonathan langsung membulatkan matanya.


"Wah, kau punya saingan yang berat Jo!" goda Beni.


Dada Jonathan kembali panas.


di mana Mario dan Kezia baru duduk dan mulai memesan makanan.


"Ehm! Boleh aku gabung?" tanya Jonathan. Kezia nampak terkejut melihat Jonathan yang tiba-tiba datang itu.


"Eh, bang Jo!"


"Lho, kau ternyata makan di sini juga, ayo gabung Jo, seharian ini Pak Ricky menyuruh Kezia untuk menemaniku, karena aku baru pertama ke kantornya hari ini!" kata Mario.


Jonathan duduk di antara mereka dengan wajah cemberut.


"Kau sudah makan Bang?" tanya Kezia.


"Sudah! Barusan sama Beni!" sahut Jonathan jutek.


"Kezia, kau mau makan apa?" tanya Mario lembut. Jonathan semakin panas.


"Apa saja, aku ikut pesanan mu!" jawab Kezia.


"Kau bilang nasi goreng di sini enak, bagaimana kalau kita pesan nasi goreng saja, supaya sehati!" usul Mario.


"Boleh juga!" sahut Kezia.


"Ehm, ehm!" gumam Jonathan yang merasa di cuekin.


"Apa kau mau minum sesuatu Jo?" tanya Mario.


"Tidak usah Pak!" tolak Jonathan.


"Kau jangan memanggilku begitu, kau membuat aku terlihat tua di depan Kezia!" cetus Mario.


"Kau memang lebih tua dari kami!" sahut Jonathan.


"Kenapa kau terlihat sentimen padaku Jo?" tanya Mario heran.


"Tidak, itu hanya perasaanmu saja!" sahut Jonathan.


Beni yang sudah selesai makan langsung berjalan menuju ke meja itu.


"Aku duluan ya Jo, kau masih mau mengobrol kan, tadi makananmu sudah aku bayar!" kata Beni.


Jonathan hanya mengacungkan jempolnya.


Setelah makanan di pesan, Mario dan Kezia mulai makan makanannya, Jonathan hanya duduk sambil menimbrung obrolan mereka.


"Aduh, tiba-tiba perutku mulas, aku ijin ke toilet sebentar ya Zia!" pamit Mario.


"Silahkan!" jawab Kezia.


Mario langsung berdiri dan berjalan ke arah belakang cafe.


"Bang Jo marah?" tanya Kezia.


"Pikir saja sendiri!" sahut Jonathan.


"Jangan salah paham bang! Papa menyuruhku untuk menemani Pak Mario seharian ini, dia kan orang baru di sini!" jelas Kezia.


"Tapi lama-lama kau bersama dia, kau pasti akan jatuh cinta padanya!" kata Jonathan.


"Bang Jo pikir aku tipe orang yang mudah jatuh cinta?" tanya Kezia ketus.


"Perempuan mana yang tidak akan kagum melihat laki-laki mapan dan dewasa, tampan lagi dan punya masa depan! Tidak seperti aku yang baru mulai dari nol!" seru Jonathan.


Tiba-tiba Kezia menghentikan aktifitas makannya, dia menatap Jonathan dengan tajam.


"Se dangkal itu kah kepercayaanmu padaku Bang Jo??" tanya Kezia.


"Aku cemburu Zia! Sejak pagi aku melihat kau ngobrol sangat akrab dengan dia, saat makan kau berjalan bersama dengan dia! Apa salah kalau aku cemburu!!" jawab Jonathan.


Kezia langsung berdiri dari mejanya, dia langsung menangkup wajah Jonathan yang masih duduk itu dengan kedua tangannya.


Kemudian dengan perlahan Kezia maju dan mengecup bibir Jonathan beberapa kali, hingga Jonathan melotot kaget.


"Apakah dengan begini, kau masih meragukan aku Bang?? Coba kau pikir apakah aku pernah memberikan ciuman ini ke sembarang orang??" Kezia kembali mengecup bibir Jonathan yang masih shock.


Saat Mario baru keluar dari toilet, dia terperangah melihat Kezia yang berdiri sambil mengecupi bibir Jonathan.


*****


Ah, ini si Kezia kelihatan sayang banget sama Bang Jo ...


Jangan lupa terus dukung cerita ini supaya tetap lanjut guys ...


Trimakasih ...