Heart's Owner

Heart's Owner
Curahan Hati Ratna



Jonathan mengambil bantal dan selimutnya, dia hendak tidur di sofa yang ada di ruang depan apartemennya.


Saat Jonathan akan merebahkan dirinya di sofa, Ratna datang menghampirinya.


"Maafkan aku ya Bang, mengganggu kenyamanan Abang, harusnya aku tidak datang kesini, tapi di Jakarta cuma Bang Jo yang aku kenal!" kata Ratna yang kini duduk di depan Jonathan.


"Sudahlah Ratna, Abang paham kondisimu, lebih baik kau istirahat saja di kamar, ini sudah malam!" sahut Jonathan.


"Bang, Mamak dan Bapak tidak tau kalau aku ke Jakarta, ke tempat Abang, Bang Jo jangan beritahu siapapun kalau aku kabur ke Jakarta ya Bang!" lanjut Ratna.


"Iya Ratna!"


"Mamak benar-benar keterlaluan! Tidak pernah memahami hati anaknya, hanya karena demi gengsi dan selalu mendengarkan apa pendapat orang!" ungkap Ratna, air matanya kembali jatuh di pipinya.


"Kalau aku tak kuat iman, mungkin aku akan bunuh diri Bang, membayangkan bagaimana menjadi istri Bang Jodi, yang lebih cocok menjadi Ayahku!" lanjut Ratna.


Tidak ada jawaban dari Jonathan, saat Ratna menoleh, Jonathan ternyata sudah tertidur dengan nyenyaknya, suara dengkuran halusnya mulai terdengar.


Saat Jonathan tertidur, Ratna terus memandangi wajah Jonathan dengan lekat, seolah memberikan dia sedikit kebahagiaan.


Wajah Jonathan yang begitu tenang seolah mampu memberikan Ratna kesejukan.


"Bang Jo, seandainya waktu itu Bang Jo tidak pergi ke Jakarta, mungkin sekarang kita sudah menikah ya Bang, mungkin sekarang aku sudah bahagia, aku akan jadi istri yang baik buat Abang!" gumam Ratna sambil menyeka matanya yang basah oleh air mata.


Ratna terus memandangi Jonathan, seolah tidak mau lepas sedikitpun pandangannya dari wajah tampan itu.


"Maafkan aku Bang, mungkin ini terakhir kalinya aku bisa terus memandang wajah Abang, aku mencintaimu Bang Jo, sangat mencintaimu!" ucap Ratna lirih sambil berderai air mata.


Kemudian Ratna bangkit berdiri, dengan lembut dan perlahan dia mengecup kening Jonathan.


Jonathan tetap tak bergeming dari tidurnya. Tidak menyadari kalau Ratna sudah mengecupnya.


Ratna lalu melangkah masuk ke dalam kamar Jonathan, ada banyak foto Kezia di kamar itu, Ratna mengigit bibirnya menahan segala rasa yang kini memenuhi hatinya.


Ratna naik ke pembaringan, lalu dia mulai berbaring dan memeluk guling, seolah-olah guling itu adalah Jonathan. Ratna mulai memejamkan matanya.


****


Pagi-pagi Ratna sudah bangun dan mandi, kemudian dia membuka kulkas, bermaksud untuk membuat sarapan untuk Jonathan.


Saat Ratna mulai membuat nasi goreng, tiba-tiba Jonathan terbangun karena mencium aroma nasi goreng.


Ratna yang sudah selesai langsung menyodorkan sepiring nasi goreng ke arah Jonathan yang masih duduk di sofa dengan memakai piyamanya.


"Ini sarapan dulu Bang, ada nasi di belakang aku buat saja nasi goreng!" kata Ratna.


Jonathan meraih piring nasi goreng yang di sodorkan Ratna, Jonathan mulai membuka ponselnya yang ada di atas meja.


"Astaga! Ada banyak panggilan tak terjawab dari Kezia, Ratna, kenapa kau tidak bangunkan aku?" tanya Jonathan.


"Maaf Bang, aku lihat Bang Jo pulas sekali tidurnya, aku tidak tega membangunkan Abang!" jawab Ratna.


"Hari ini aku janji mau antar Kezia beli kado buat adiknya, tapi aku malah kesiangan!" keluh Jonathan.


Ting ... Tong ...


Terdengar suara bell dari pintu apartemen Jonathan.


Jonathan berdiri dan langsung membuka pintunya.


Matanya melotot saat melihat Kezia sudah berdiri di depan pintu.


"Bang! Ada Mbak Ratna di sini? Sejak kapan?" tanya Kezia dengan dada bergemuruh.


"Kezia, masuk sayang, Bang Jo akan jelaskan sama Kezia!" sahut Jonathan.


"Pantas saja, panggilanku tidak di jawab-jawab!" cetus Kezia yang matanya mulai memerah.


"Maaf Kezia, aku datang semalam dari Medan, terpaksa aku menginap di tempat Bang Jo karena aku tidak kenal siapa-siapa di Jakarta!" jelas Ratna.


"Menginap? O ya, aku paham, Bang Jo temani saja Mbak Ratna yang sudah datang dari jauh, aku mau pulang saja!" Kezia langsung beranjak pergi dari situ.


Jonathan berusaha mengejar Kezia, tanpa perduli dirinya yang masih mengenakan pakaian tidur.


"Kezia! Kezia tunggu sayang!" Panggil Jonathan.


Kezia terus berjalan cepat menyusuri lorong apartemen itu, tanpa memperdulikan teriakan Jonathan.


Jonathan mengejar Kezia semakin cepat.


"Zia, please dengarkan Bang Jo dulu... Kezia jangan berpikir aneh-aneh tentang Abang!" ujar Jonathan.


Kezia menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Jonathan, tatapan matanya menyorot tajam ke arah laki-laki itu.


"Aku tidak pernah berpikir aneh tentang Bang Jo, untuk menjaga hubungan sehat bahkan sekalipun aku tidak pernah tidur satu ruangan dengan Abang! Tapi aku lihat dengan mataku sendiri, Bang Jo dan Ratna ada dalam satu apartemen, bahkan Ratna menginap dari semalam, mana aku tau apa yang kalian lakukan!!" berang Kezia.


"Kezia ... Abang hanya membantu kesusahan Ratna, sungguh Abang tidak melakukan apa-apa dengan Ratna!" jelas jonathan.


"Sudahlah Bang! Aku mau pulang, sementara aku tidak ingin ketemu Bang Jo lagi! Aku mau tenangin pikiran dulu!" Kezia lalu kembali berjalan ke arah lift, hendak turun ke lantai bawah.


Jonathan terus mengejar Kezia bahkan kini sampai di lobby apartemen.


"Kezia! Bang Jo cinta sama Kezia, apa yang harus Abang lakukan supaya Kezia percaya sama Abang??" teriak Jonathan.


Semua orang yang ada di sekitar tempat itu menoleh dan berbisik-bisik saat melihat Jonathan.


Sementara Kezia terus berjalan keluar ke arah parkiran tanpa memperdulikan teriakan Jonathan.


Jonathan menarik nafas panjang saat melihat dari dalam lobby, mobil Kezia yang langsung melaju kencang meninggalkan apartemen Jonathan.


Akhirnya dengan langkah gontai, Jonathan kembali ke kamar apartemennya, rambut dan wajahnya kusut, sekusut hatinya.


Sesampainya di apartemen, Jonathan menghempaskan tubuhnya di sofa dan menjambak rambutnya frustasi.


"Maafkan aku Bang! Ini semua gara-gara aku!" ucap Ratna.


"Sudahlah Ratna, semuanya ini salah paham, biar aku sendiri nanti yang akan menyelesaikan ini!" sahut Jonathan.


"Bang, sebaiknya Bang Jo sarapan dulu, lalu mandi lah Bang, habis ini aku pamit mau cari tempat kos!" kata Ratna.


"Ratna, kalau kau mau cari tempat kos, ketempat kos Abang yang lama saja, tanya sama Bu Yani, nanti dia yang akan merekomendasikan padamu!" usul Jonathan.


"Iya Bang, sekali lagi aku minta maaf ya Bang!" ucap Ratna.


Jonathan menganggukan kepalanya kemudian beranjak pergi ke kamar mandi.


****


Jangan lupa vote, like dan komen ya guys ...


Terimakasih ...