
Jonathan menghentikan motornya tepat di depan gerbang rumah Kezia yang besar dan mewah itu.
Setelah turun dari motor, Kezia langsung ke pos security.
"Ssst, Pak Jono! Papa sudah pulang belum?" tanya Kezia pada security nya itu, sementara Jonathan masih duduk menunggu di motornya.
"Lho, Bapak sama Ibu kan langsung ke bandara Non, mereka pergi ke Singapura, cuma sehari katanya,paling besok sudah pulang!" jawab Jono.
"Wah, bagus deh, tolong bukain gerbangnya Pak, temen aku mau masukin motornya ke dalam!" titah Kezia.
Jono langsung membuka pintu gerbang yang besar dan tinggi itu, kemudian Jonathan langsung memasukan motornya ke dalam.
Jonathan terkesima melihat halaman rumah Kezia yang begitu luas itu, di lengkapi dengan taman bunga yang indah dan kolam renang yang estetik.
"Wah ... kamu ternyata anak konglomerat Zia, rumahmu besar seperti istana, Bang Jo makin minder nih!" ungkap Jonathan.
"Bang Jo apaan sih! Yang kaya itu kan orang tuaku, aku bahkan belum punya penghasilan!" cetus Kezia.
Mereka langsung masuk keruang tamu, dan duduk sambil mengobrol.
Given, Gavin dan Tasya nampak sedang asyik bermain Lego di sudut ruangan itu yang di desain menyerupai arena permainan anak-anak.
"Wah, ternyata di rumahmu banyak anak kecil ya Zia, seru dong!" kata Jonathan.
"Kan aku sudah bilang Bang, adikku masih kecil-kecil, mereka semua adalah anak-anak ibuku!" jawab Kezia.
"Ooo!" Jonathan membulatkan bibirnya.
Mbok Narti muncul dari arah dapur sambil membawa dua gelas minuman dingin.
"Silahkan di minum!" tawar Mbok Narti ramah.
"Trima kasih Mbok!" ucap Kezia.
Tasya yang dari tadi asyik bermain, langsung bangun dan berjalan menghampiri Kezia dan Jonathan.
"Kak, Papa sama Ibu kan pergi, nanti aku bobo sama kakak ya?" tanya Tasya sambil duduk manja di samping Kezia.
"Tidak mau ah, nanti Tasya ngompol lagi!" tolak Kezia.
"Iiih, kakak jahat, nanti aku bilangin Papa lho!" ancam Tasya.
"Bilangin saja, kakak tidak takut!" sahut Kezia.
"Nanti aku bilangin kalau kakak pacaran!" cetus Tasya. Kezia langsung melotot.
"Siapa yang pacaran??!" seru Kezia.
"Itu!!" Tasya menunjuk ke arah Jonathan.
"Oh, tidak kok, itu kan teman kakak, ya sudah deh, nanti malam Tasya boleh tidur sama kakak, tapi janji jangan ngompol ya!" kata Kezia akhirnya.
"Yeeaayy!! Tasya melonjak senang, dia langsung kembali bergabung dengan Given dan Gavin menyelesaikan legonya.
Jonathan tertawa sambil menutup mulutnya.
"Kenapa Bang? Ada yang lucu??" tanya Kezia.
"Kalau suasana rumah ramai begini, aku jadi betah main di sini, kau berbeda denganku Zia, dulu di rumah aku selalu kesepian, Mamaku bekerja, aku main sendirian, apalagi aku ini kan anak tunggal, ah sudahlah!" ungkap Jonathan.
"Jangan sedih Bang, Bang Jo boleh kok anggap adik-adik aku adik Bang Jo!" kata Kezia.
"Kan memang mereka calon adik ipar!" bisik Jonathan sambil mengedipkan sebelah matanya. Kezia mencubit pinggang Jonathan.
"Hmm, kumat lagi pe de nya!" gumam Kezia.
Mbok Narti nampak berjalan menghampiri Kezia dan Jonathan yang masih duduk di ruang tamu itu.
"Kalau mau makan, makanan sudah siap di meja ya!" kata Mbok Narti. Kezia menganggukan kepalanya sambil melirik ke arah Jonathan.
"Makan dulu yuk Bang!" ajak Kezia.
"Jangan Zia, Bang Jo malu makan di rumah Kezia, baru juga sekali datang!" kata Jonathan.
"Ngapain malu, kan Bang Jo juga belum makan, ayo lah, sudah di siapkan kok!" dedak Kezia.
Akhirnya Jonathan menganggukan kepalanya. Mereka pun segera beranjak menuju ke ruang makan.
Given dan Gavin nampak sedang duduk menghadap meja makan, juga hendak bersiap makan malam, sementara Tasya terlihat di suapi oleh Mbok Narti.
"Hai Ven, Vin! Ini kenalin nih, teman kakak! Bang Jonathan namanya!" seru Kezia pada kedua adiknya.
Jonathan langsung duduk di hadapan mereka.
"Kalian anak-anak genteng siapa namanya?" tanya Jonathan sok akrab.
"Aku Given, ini adikku Gavin!" jawab Given.
"Wah, kalian seperti anak kembar!" seru Jonathan.
"Hebat juga Papamu ya, pejantan tangguh! Hehehe!" ledek Jonathan.
"Hush! Sudah ayo makan, Given! Gavin! Kalian ambil makanan kalian, setelah itu kerjain tugas, terus langsung tidur! Jangan main terus!" ujar Kezia memperingati kedua adiknya.
"Iya Kak!" jawab mereka bersamaan.
"Abang ini pacar kak Kezia ya?" tanya Given pada Jonathan.
"Kalau iya, kalian setuju tidak?" tanya Jonathan balik.
"Setuju saja lah, Abang ganteng kok, kayak artis!" cetus Gavin.
"Asal Abang kalau kesini temenin kita main Lego atau main game online, kita sih iyes!" sambung Given.
"Ah, kalau soal itu kalian tenang saja! Nanti Abang ajarin kalian main kelereng, belum tau kan kelereng! Itu permainan jaman Abang kecil dulu di kampung, kalian anak jaman now mana ngerti!" ujar Jonathan.
"Wah!! Nanti ajarin kita ya bang!!" seru Given bersemangat.
"Hush!! Sudah, sudah! makan!" hardik Kezia.
Mereka pun mulai makan malam bersama.
"Zia, orang tuamu mana? Aku ingin sekali kenalan!" tanya Jonathan.
"Lagi di Singapore Bang, paling besok juga pulang, tidak usah buru-buru kenalan lah, yang penting Bang Jo kan sudah tau rumahku, kenal adik-adikku!" sahut Kezia.
Seorang Suster keluar dari sebuah kamar dengan mendorong sebuah kursi roda menuju ke dapur.
"Itu siapa Zia?" tanya Jonathan.
"Itu nenek buyut ku, nenek dari ibuku, dia sudah jompo, bicara saja susah, pendengaran dan penglihatan juga sudah kurang baik, makanya sekarang di bantu suster untuk merawatnya, karena ibuku sering mendampingi Papaku untuk pergi kemanapun!" jelas Kezia.
"Keluargamu harmonis sekali Zia, aku jadi makin kagum, bahagia rasanya kalau bisa menjadi anggota keluarga ini!" gumam Jonathan sambil mengunyah makanannya.
Setelah mereka selesai makan, mereka kembali ke ruang tamu, sementara Given dan Gavin kembali ke kamar mereka.
"Kezia, Bang Jo pamit pulang ya, sudah jam 9 malam," kata Jonathan.
"Iya deh Bang, yuk aku antar sampai depan gerbang!" kata Kezia.
Mereka berjalan ke luar rumah dan Jonathan mulai menaiki motornya yang terparkir di garasi besar rumah itu.
Jono nampak sudah membuka setengah pintu gerbangnya.
"Hati-hati ya Bang!" kata Kezia saat Jonathan mulai memakai jaketnya.
"Iya Zia, Abang tambah semangat kerja dan kuliah nih, Kezia yang jadi motivasi Abang!" ujar Jonathan.
"Iya, kuliah yang rajin, kerja yang semangat!" sahut Kezia.
"Kezia, minta cium dong sedikit, biar tambah semangat!" ucap Jonathan. Matanya menatap penuh damba.
"Apanya yang mau di cium Bang?" tanya Kezia.
Jonathan menunjuk bibirnya dengan telunjuknya.
"Pipinya aja deh Bang, nanti Bang Jo tidak bisa tidur lagi!" cetus Kezia.
"Iya deh, semuanya ini kan cuma Kezia yang punya!" kata Jonathan sambil mencondongkan wajahnya.
Kezia selalu tidak tahan memandang wajah rupawan milik Jonathan. Kedua mata coklatnya, dan sedikit lesung pipi yang tercetak saat dia tersenyum, menambah manisnya wajah itu.
Kezia maju dan mulai mencium pipi Jonathan, lalu dengan gerakan cepat Kezia akhirnya mengecup bibir Jonathan yang kemerahan alami itu.
Wajah Jonathan terlihat senang.
"Nah, gitu dong, Bang Jo bahagia banget malam ini, trima kasih ya Zia!" ucap Jonathan.
"Kenapa sih, Bang Jo selalu minta aku cium? Bang Jo kurang inisiatif!" cetus Kezia.
"Kezia mau tau jawabannya? Karena Bang Jo menghargai dan menghormati Kezia, jadi Abang tidak akan sembarangan menyentuh Kezia!" sahut Jonathan.
"Dih curang! Giliran dirinya sendiri, maunya di cium!" sungut Kezia. Jonathan mencubit pipi Kezia.
"Bang Jo takut khilaf sayang!" ujarnya.
Dia lalu mulai memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya, setelah itu Jonathan segera melajukan motornya keluar dari gerbang rumah Kezia.
****
Halo pembaca kesayangan Author ...
Tetap setia dukung kisah ini yuk...
Jangan lupa Like, vote dan Komen ya ...
Trima kasih ...