Heart's Owner

Heart's Owner
Kita Satu Tim



Pagi itu Kezia keluar dari kamarnya mengenakan pakaian khas marketing, rambut panjangnya di kuncir ke belakang, tas tangannya yang biasanya modis berubah menjadi tas punggung.


"Bu! Aku pinjam motornya yaa!" seru Kezia sambil mulai mengenakan helmnya.


"Eh, itu motor sudah lama lho ibu tidak pakai, periksa dulu ban dan bensinnya! Dari pada mogok di jalan!" kata Lika memperingatkan.


"Tidak apa-apa Bu, orang kantornya dekat juga!" sergah Kezia.


"Kamu tidak pamit Papa dulu Kezia?" tanya Lika.


"Tidak usah pamit Bu, nanti juga di kantor ketemu!" ujar Kezia cuek sambil menyambar roti bakar dan susu hangat yang ada di meja makan.


"Enak saja, sejak kapan kau tidak sopan sama orang tua? Dasar anak jaman Now!!" seru Ricky dari arah tangga atas yang turun ke ruang makan.


"Eh, Papa!" sahut Kezia tersipu.


"Tuh, apa ibu bilang!" tambah Lika yang sedang menyiapkan roti bakar dan susu untuk di antar ke kamar Neneknya yang kini sakit-sakitan.


Ricky menyodorkan sejumlah uang pada Kezia. Namun tangan Kezia menepis tangan Papanya, menolak pemberian Papanya.


"Uangku masih cukup Pa, ingat, di rumah kau adalah Papaku, tapi di kantor kau adalah pimpinan ku, jadi, jangan perlakukan aku istimewa, aku sama seperti karyawan yang lain!" ujar Kezia yang langsung berlalu meninggalkan Ricky dan Lika yang terbengong-bengong melihat tingkah putrinya itu.


Kezia langsung menstarter motornya, lalu dia langsung meluncur meninggalkan rumah besarnya, namun sebelum Kezia sampai di kantor Papanya, tiba-tiba motornya berhenti mendadak.


"Ah! Sial! Tadi aku lupa mengecek bensin dan bannya!" Kezia segera turun dari motornya, lalu mulai mengecek ban motornya.


Ban motor nya masih bagus, lalu Kezia juga membuka tangki bensin, bensin juga terlihat masih penuh, gadis itu bingung mengapa motornya bisa mogok tiba-tiba.


Kemudian dengan terpaksa dia mendorong motornya di pinggiran jalan raya itu, sekalian mencari bengkel yang sudah buka.


Hati Kezia begitu dongkol, padahal gedung kantornya sudah terlihat di depan, tapi dia harus menuntun motornya yang tiba-tiba mogok itu.


Tiba-tiba, ada ojek online yang berhenti di hadapannya, penumpang ojek itu langsung turun dan menghampiri Kezia.


"Motormu kenapa??" tanya orang yang baru turun dari ojek itu. Kezia terperangah saat melihat siapa orang yang kini ada di hadapannya.


"Eh! Kamu??!" seru Kezia saat melihat Jonathan yang berdiri di depan motor yang di dorongnya.


"Hmm, ini nih hukum karma bagi orang yang suka usil ngerjain orang lain!" cetus Jonathan sambil membayar ojek online yang di naikinya tadi.


"Sudah sana jalan duluan! Kenapa kau malah bayar ojeknya, tuh kantor masih lumayan jauh!" seru Kezia jutek.


"Hei dengar ya, walau kau sangat menyebalkan, tapi aku tidak tega melihat seorang wanita yang mendorong motor sendirian, sebagai laki-laki, aku ada hak untuk membantumu!" ujar Jonathan.


Kezia tertegun mendengar perkataan Jonathan, sepanjang jalan dia mendorong motornya tadi, tidak ada satu orang pun yang mau perduli dengannya, apalagi menawarkan bantuan. Namun Pria yang kini di hadapannya, bahkan bisa menekan egonya dan kejengkelannya demi sebuah rasa kemanusiaan dan keperdulian terhadap orang lain.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan untuk membantuku?!" tanya Kezia tetap dengan nada yang ketus.


"Sini berikan motornya padaku, aku akan memeriksanya!" sahut Jonathan. Kezia langsung memberikan motornya pada Jonathan.


Jonathan mulai memeriksa motor Kezia, dia memeriksa mesin dan busi motornya. Lalu mencoba membersihkan busi dan mencoba untuk starter beberapa kali, hingga akhirnya motornya menyala kembali.


"Tuh! Motornya sudah nyala! Ini ketauan motor jarang di pakai, mesinnya dingin, businya kotor!" kata Jonathan.


"Trimakasih!" sahut Kezia. Dia mulai menaiki motornya kembali.


Jonathan melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.


"Ehm, kau mau berangkat bareng denganku?" tawar Kezia.


"Tidak usah! Aku jalan kaki saja, kantornya juga sudah dekat!" jawab Jonathan.


"Jangan panggil aku Mas ya, namaku Jonathan, panggil saja Jo, atau kalau kau lebih muda dariku panggil aku Bang Jo!" sahut Jonathan.


"Aku Kezia ..." ujar Kezia.


"Aku tidak tanya siapa namamu!" sahut Jonathan, membuat Kezia semakin dongkol.


"Nyebelin banget!" sungut Kezia.


"Sudah sana! Kau jalan duluan saja, bukankah motormu sudah nyala?!" kata Jonathan yang masih terus berjalan, Kezia naik motor dengan kecepatan rendah di sampingnya.


"Hei, kau ini sombong sekali! Aku baik-baik mengajakmu naik motor bareng, kau malah sok menolak, lihat nih, sudah jam delapan lewat lima menit, kau pasti akan terlambat, reputasimu akan buruk sebagai karyawan baru!" ujar Kezia.


Jonathan terperangah saat melihat jam tangannya.


"Alamak! telat aku!" serunya panik.


"Makanya, ini juga karena aku membalas budimu karena kau sudah membantuku hari ini!" tambah Kezia.


"Baiklah, sini biar aku yang bawa motornya, pegangan kuat-kuat ya karena aku akan ngebut!" kata Jonathan akhirnya.


Merekapun berangkat ke kantor sama-sama, tak sampai 10 menit mereka sudah sampai di parkiran kantor.


Kezia membereskan rambutnya yang berantakan kena angin. Jonathan kemudian memberikan kunci motornya pada Kezia.


"Nih kunci motormu, kau kerja bagian apa di sini?" tanya Jonathan yang kini berjalan beriringan dengan Kezia menuju ke atas.


"Aku marketing eksekutif!" jawab Kezia.


"Hah? Marketing eksekutif? kita satu bagian dong, tapi, aku tidak melihatmu kemarin-kemarin, kau ini karyawan baru kenapa bolos di awal sih?" tanya Jonathan heran.


"Yah, tapi mulai sekarang, aku tidak bolos lagi! Kita akan menjadi satu tim Bang! Bang Jo hehehe!" sahut Kezia.


"Satu tim?"


"Iya, satu tim, di mana kau bekerja, aku pasti ada di situ!" ujar Kezia.


"Aku pasti akan sangat stress bekerja dengan cewek aneh sepertimu! Hiii!" seru Jonathan sambil mengedikan bahunya.


"Kurang asem! Kau pikir aku manusia purba kau bilang aneh!!" sungut Kezia.


Mereka melewati meja resepsionis, Kezia tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Lusi yang terheran-heran melihatnya jalan dengan Jonathan.


Tak lama mereka sampai di ruang khusus Marketing, para marketing sedang membuat market plan dan strategi pemasaran.


"Kenapa kau telat Jo?" tanya Beni yang langsung mendekati Jonathan yang baru datang itu bersama dengan seorang wanita cantik yang kemarin baru di lempar uang oleh Jonathan.


"Biasa Bro, habis kerja tambahan jadi tukang bengkel!" sahut Jonathan menyindir Kezia yang masih cemberut.


"Bukankah kalian habis bertengkar hebat di kedai kemarin? Kenapa sekarang malah datang sama-sama? Apakah dia juga marketing disini?" bisik Beni. Jonathan Menganggukan kepalanya.


Tiba-tiba, Ricky masuk untuk memberikan pengarahan langsung kepada semua marketing, terkait perumahan baru yang akan segera launching.


"Selamat pagi semua, salam semangat! Menurut laporan, hari ini ada dua orang yang terlambat masuk kantor, demi kejujuran dan kebaikan bersama, siapa yang terlambat hari ini segera angkat tangan dan minta maaf kepada semua tim yang ada di ruangan ini!" jelas Ricky.


Jonathan dan Kezia langsung mengangkat tangan mereka dengan wajah yang menunduk malu.


****