
Di meja makan di rumah Beni, mereka nampak menikmati makanan yang telah tersaji, terlebih Jonathan, kebetulan makanan yang ada di hadapannya adalah makanan kesukaannya, makanya dia makan dengan sangat lahap sekali.
Ratna tersenyum senang karena masakannya di sukai, sementara Kezia sejak tadi diam saja tanpa bicara apapun, dalam hati dia merasa cemburu, karena melihat Jonathan yang makan begitu lahapnya.
"Bagaimana? Masakan istriku mantap kan?" tanya Beni.
"Iya Ben, tiap hari kau pasti tambah gemuk, masakannya enak, iya kan Do?" sahut Jonathan sambil menyenggol Nando.
"Hmm!" sahut Nando singkat.
Setelah jamuan makan malam selesai, Jonathan pamit karena hari sudah malam.
"Ben, Ratna, terimakasih ya jamuan nya, lain kali kami yang akan mengundang kalian makan di rumahku!" kata Jonathan.
"Iya Jo, sudah sana kau pulang, kasihan Kezia kelihatannya sudah mengantuk, dari tadi diam saja!" ujar Beni.
Mereka kemudian langsung naik ke dalam mobil mereka.
"Sayang, kenapa sih dari tadi kau diam saja?" tanya Jonathan saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Tadi enak makanannya Bang?" tanya Kezia balik. Wajah nya masih nampak cemberut.
"Ya enak lah, masa makanan enak Bang Jo bilang tidak enak sih?" sahut Jonathan bingung.
"Bang Jo suka ya makanannya?" tanya Kezia lagi.
"Ya jujur Abang suka Zia, Kan Kezia tau Bang Jo suka makanan yang tadi!" jawab Jonathan.
"Kalau Bang Jo suka, minta saja Mbak Ratna masakin tiap hari buat Bang Jo!" cetus Kezia.
"Kezia kenapa sih? Memangnya Kezia tidak suka masakan Ratna? Atau Kezia marah karena Bang Jo makan banyak tadi?" tanya Jonathan.
Mobil mereka sudah sampai di depan rumah Kezia.
Kezia langsung turun dan masuk ke dalam rumahnya tanpa menoleh lagi.
"Nando, kakakmu kenapa sih?" tanya Jonathan.
"Dia cemburu kali Bang, Abang muji-muji masakan orang lain, namanya juga perempuan Bang, makanya aku malas berhubungan dengan perempuan!" sahut Nando.
"Lah, ngapain cemburu sama Ratna, dia kan sudah jadi istri si Beni!" gumam Jonathan.
"Sudah deh Bang, aku pamit pulang dulu, sudah malam, Abang selesaikan urusannya saja sama kak Kezia!" ujar Nando.
Nando lalu segera menuju ke mobilnya yang terparkir di depan mobil Jonathan itu, kemudian langsung mengemudikannya.
Jonathan kemudian masuk ke dalam rumahnya, Kezia sepertinya sudah masuk ke dalam kamar.
Jonathan lalu menyusul Kezia ke kamar, Kezia nampak duduk di tepi tempat tidurnya, Jonathan langsung memeluk istrinya itu.
"Maafin Abang zia, kalau sikap Abang menyakiti hati Kezia!" ucap Jonathan.
Kezia mengusap air matanya yang mulai berjatuhan, dia tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya.
"Bang, aku mohon sama Abang, jangan lagi berhubungan dengan Mbak Ratna, walaupun Abang menganggap dia sebagai saudara, kita hidup masing-masing saja, Ratna dengan keluarganya, Abang dengan keluarga Abang!" ucap Kezia.
"Iya Zia, maafin Abang ya, tapi asal Kezia tau, dalam hati Abang tidak bermaksud seperti yang Kezia lihat tadi, jangan hanya karena makanan Kezia meragukan Abang!" ucap Jonathan sambil mengecup kening Kezia.
Jonathan kembali memeluk Kezia, membenamkan kepala Kezia di dadanya yang bidang itu.
"Kita tidak bisa mengatur hati orang lain, tapi yang penting kita bisa saling menjaga hati, untuk pasangan kita masing-masing, Kezia harus percaya Kalau dalam hati Abang hanya ada satu wanita, wanita itu adalah Kezia, sang pemilik hati Abang!" ucap Jonathan.
"Terimakasih Bang, maafin aku juga karena aku begitu mudah cemburu, mungkin bawaan bayi yang tidak mau jauh dari Papinya!" ungkap Kezia.
Jonathan langsung mengelus lembut perut Kezia.
"Hmm, Dedek kangen ya sama Papi, mau di tengokin malam ini?" Jonathan mengecup perut Kezia.
"Iya Bang, kangen nih dedek nya!" sahut Kezia yang mulai bergelayut manja.
"Hmm, mulai nakal sekarang ya Dedek!" ujar Jonathan yang langsung membaringkan Kezia di tempat tidurnya, dia pun mulai mengeluarkan senjata pamungkasnya.
"Bang, besok beli pakaian yang agak besaran ya, itu punya Abang besar sekali, aku tidak rela kalau ada orang lain melirik ke situ, tidak bisa di sembunyikan apa?" tanya Kezia yang mulai memainkan milik Jonathan yang masih tidur itu.
"Itu bawaan lahir Zia, bang Jo kan keturunan bule, wajar kalau juniornya besar, biarkan saja orang lain melihat, tapi yang merasakan kan cuma Kezia!" jawab Jonathan.
"Setiap kali bang Jo pakai apapun, selalu saja menonjol, aku kan jadi risih sendiri, apalagi kalau lagi on, Bang Jo tidak bisa kemana-mana, sudah, besok pokoknya beli celana baru, yang besar jangan yang ketat!" ujar Kezia yang langsung bergelung dalam pelukan Jonathan.
"Iya deh, Kezia atur saja ya, pokoknya cuma Kezia yang bisa nikmatin kejantanan Abang!" bisik Jonathan.
Mereka lalu mulai bergumul malam itu.
****
Pagi itu, setelah mengantar Jonathan yang berangkat ke kantor, Kezia berjalan kaki berkeliling komplek.
Menurut saran Dokter, berjalan kaki setiap pagi bisa melancarkan otot kaki dan panggul, untuk mempermudah proses persalinan.
Kandungan Kezia juga semakin membesar, kini tinggal menghitung hari menjelang persalinan Kezia.
"Selamat pagi Mbak Kezia, itu kandungannya sudah besar sekali, kapan lahirnya si Dedek?" tanya Bu RT saat Kezia melewati rumahnya.
"Iya Nih Bu, tinggal menghitung hari, prediksi dokter sih Minggu depan!" jawab Kezia.
"Oalah, sebentar lagi to, kalau ada apa-apa atau butuh bantuan, jangan sungkan bilang sama aku ya Mbak, atau ibu-ibu yang lain!" tawar Bu RT.
"Beres Bu, yuk ah, mau keliling lagi nih!" ujar Kezia yang melanjutkan jalan paginya.
Setelah tiga kali putaran mengelilingi komplek, tiba-tiba Kezia merasa ada yang keram di perutnya, dia berhenti sejenak dan duduk di bawah sebuah pohon yang kebetulan ada bangkunya.
Kezia menarik nafas panjang, rasanya begitu sesak, setelah kramnya mereda, Kezia kembali berjalan pulang menuju ke rumahnya.
Bersambung ...
****
Hai guys ...
Sebentar lagi kisah ini akan tamat, tunggu sampai Kezia melahirkan ya ...
Tapi akan ada gantinya kisah sekuel yang mengisahkan perjalanan kisah Nando, cowok ganteng tapi cuek dan dingin terhadap semua perempuan.
Jangan lupa dukungannya dong ...😘😉