Heart's Owner

Heart's Owner
Janjian Lagi



Malam itu Kezia sengaja makan cepat-cepat agak tidak banyak di tanya oleh Ricky, Papanya.


Namun ternyata Ricky malah datang menghampirinya bahkan duduk di depan Kezia.


"Kenapa kau makan terburu-buru?" tanya Ricky.


"Aku mau ngerjain tugas Pa!" sahut Kezia beralasan.


"Masa? Bukan karena mau menghindari Papa?" tanya Ricky sambil tersenyum.


"Yah, sedikit!" jawab Kezia.


"Papa perhatikan, Jonathan si marketing baru itu, terlihat sangat perduli padamu!" ujar Ricky. Kezia mulai salah tingkah.


"Tidak ah, biasa saja, Papa yang lebay!" sahut Kezia.


"Ingat Kezia! Fokus pada kuliahmu, Papa tidak mau kau dekat pada siapapun, termasuk si marketing baru itu!" cetus Ricky.


"Papa nih curiga aja, lagian aku ga ada apa-apa kok sama Bang Jo!" kata Kezia. Ricky melotot.


"Apa? Kau panggil apa dia tadi? Bang Jo? Jangan sok imut deh Kezia!" ujar Ricky.


"Papa nih!! Nyebelin banget! lagian dia juga sudah punya pacar di Medan! Jadi Papa tenang aja! Puas?!" seru Kezia kesal sambil berdiri dan meninggalkan meja makan.


"Kezia!! Kita belum selesai ngobrol lho!!" panggil Ricky.


"Ngantuk!!" sahut Kezia.


Kezia terus berjalan menuju ke kamarnya tanpa menoleh lagi.


Sesampainya di kamar, Kezia melotot melihat kamarnya berantakan dan melihat kedua adiknya Given dan Gavin nampak sedang tidur berbaring sambil bermain laptop di atas tempat tidur Kezia.


"Hei! Laptop kakak jangan di mainin! Nanti file pada hilang semua!" hardik Kezia.


"Pinjam sebentar napa Kak! Pelit amat!" sahut Given.


"Kan kalian sudah di belikan laptop sendiri sama Papa!" ujar Kezia.


"Rusak kak!" jawab Gavin.


"Kebanyakan main game sih!" sungut Kezia.


"Kan refreshing kak!" sambung Given.


"Sudah sana keluar dari kamar Kakak! Kalian juga pasti makan nih di kamar kakak, tuh sampahnya berantakan! Bikin pusing aja! Ayo sana keluar! Kakak mau tidur!" Kezia menarik kedua tangan adiknya keluar dari kamarnya.


"Papaaa! Kakak galak nih sama kita!!" teriak Given.


Sebelum Papanya datang, Kezia langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


Setelah membereskan kamarnya yang berantakan, Kezia langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya.


Tring ... Tring ...


Suara notifikasi pesan singkat berbunyi dari ponsel Kezia. Dia langsung meraih ponselnya dan membuka isi pesannya, bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat nama Jonathan yang mengirimkannya pesan.


Jonathan : Halo Kezia, kau sudah di rumah? Kok tidak memberitahu aku?


Kezia : Baru juga aku masuk kamar Bang!


Jonathan : Besok janjian lagi yuk!


Kezia : Besok? Emang Bang Jo tidak ke kantor?


Jonathan : Ke kantor, maksudnya besok aku jemput kamu Zia, uang gaji dan komisi sudah cair nih, di transfer di rekening Andri!


Kezia : Ooo, ya sudah deh Bang, aku besok pulang kuliah jam 3, aku tunggu ya Bang!


Jonathan : Oke, good night Kezia!


Percakapan melalui pesan singkat mereka berhenti, Kezia terus memandangi ponselnya, entah mengapa ada debaran aneh di dadanya, perasaan senang yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata.


Malam itu Kezia tertidur dengan mendekap ponselnya.


****


Setelah selesai berdandan, Kezia segera keluar dari kamarnya, dia langsung ke meja makan, untuk sekedar mengisi perutnya dengan roti dan segelas susu hangat buatan ibunya.


"Wow! Anak Ibu cantik sekali hari ini, tumben ... biasanya cuek aja malah pernah tidak mandi karena kesiangan!" ujar Lika ibunya yang baru turun dari atas sambil menuntun Tasya.


"Sekali-kali tidak apa-apa kan Bu!" sahut Kezia.


"Ehem! Ehem! Jangan bilang kau janjian sama seseorang Kezia, kau harus ijin dulu dengan Papa!" Suara Ricky Papanya saat akan duduk di meja makan mengagetkan Kezia.


"Papa apaan sih!" sungut Kezia.


"Oya Kezia, waktu pameran pertama di mall, Jonathan satu tim sama kamu ya, tapi karena kamu tidak ada, bagian keuangan memberikan semua komisi penjualan sama Jonathan, nanti Papa ambil balik setengah uangnya, Papa kasih kamu ya!" kata Ricky.


"Jangan Pa! Yang sudah di transfer jangan di ambil lagi, biarin aja buat bang Jo!" sahut Kezia.


"Apa? Bang Jo?" mata Lika melotot.


"Ehh!" Kezia langsung menutup mulutnya dengan tangannya.


"Papa benci panggilan itu!" dengus Ricky.


"Pokoknya Papa jangan minta balik uang komisi itu, lagian kan yang closingin waktu itu Bang Jo eh, Jonathan maksudnya!" ujar Kezia.


"Jangan bilang kamu punya hubungan terselubung dengan marketing songong itu!" cetus Ricky sambil menatap tajam putrinya.


"Papa nih curiga aja, lagian Bang Jo juga sudah punya pacar kali di Medan! Makanya tanya dulu sebelum menuduh!" Kezia langsung berdiri dari tempatnya dan langsung ngeluyur ke luar.


"Kezia! Kau tidak bawa mobilmu?" teriak Ricky.


"Aku mau naik taksi saja!!" sahut Kezia yang langsung menghilang dari balik pintu.


Taksi yang sebelumnya sudah di pesan Kezia sudah menunggu di depan gerbang, tanpa menunggu lama Kezia segera naik ke dalam taksinya.


Sesampainya di kampus, dengan penuh semangat Kezia mengikuti kelas pagi itu, semua tugas dan pekerjaan membuat skripsipun dikerjakannya dengan baik.


Sampai hati menjelang siang, Kezia bersama Erin terlibat makan siang di kantin yang siang itu nampak ramai.


"Tumben nih hari ini cantik sekali, pasti ada janjian nih sama seseorang!" tebak Erin.


"Ah, kamu pintar menebak Rin, aku memang janjian sama Bang Jo, nanti dia mau jemput aku sepulang kuliah!" sahut Kezia.


"Oya? Bagus dong! Akhirnya kau bisa dekat juga sama dia!" ujar Erin.


"Yah, dekat sebagai teman Rin, Bang Jo kan sudah punya pacar! Tapi tidak apa lah, yang penting aku aman jalan sama dia, belakangan ini si Robby sering menggangguku!" kata Kezia.


"Udah kamu jadian aja sama Bang Jo, pacarnya jauh ini di Medan!" ucap Erin sambil menyantap makan siangnya.


"Enak aja! Kau suruh aku jadi pelakor gitu? Sorry ya!" cetus Kezia.


"Ah Kezia, tapi kan perasaan dalam hati siapa yang tau? Buktinya hari ini kau berpenampilan spesial hanya untuk ketemu Bang Jo mu itu!" ledek Erin.


Kezia tersipu sambil mencubit perut Erin, hingga gadis itu meringis kegelian.


"Erin, nanti aku pinjam rumahmu ya, supaya kalau Bang Jo antar aku pulang, aku bilang kalau rumahmu adalah rumahku, supaya dia tidak tau rumahku!" ujar Kezia.


"Terus setelah itu aku yang mengantarmu pulang?" tanya Erin.


"He he he ... iya, ayolah demi teman! Bang Jo itu tipe cowok yang bertanggung jawab, dia pasti akan bersikeras mengantarku pulang!" jawab Kezia.


"Hmm, okelah! Tapi jangan aering-sering ya!!" cetus Erin cemberut.


"Asyyik! Thank you Erin ...!" Kezia langsung memeluk Erin.


Tin...tin...tin...


Tiba-tiba sebuah motor baru sudah terparkir di parkiran kantin kampus. Sang pengendara motor mulai membuka helmnya.


"Hah! Itu kan Bang Jo! Katanya dia mau jemput jam 3? Ini baru jam 1 lho!" seru Kezia.


"Sudah temui sana!" Erin menyenggol tangan Kezia.


****