
Pagi itu Jonathan sudah mandi dan rapi, dia langsung membuat sarapan dan susu hangat untuk Kezia.
Setelah itu dia masuk ke kamarnya dan mulai membangunkan Kezia.
"Zia, bangun dulu sebentar, ini Abang sudah buatkan susu hangat buat Kezia!" kata Jonathan.
Kezia mulai mengerjapkan matanya, di liriknya Jonathan yang sudah berpakaian rapi itu.
"Bang Jo mau kemana?" tanya Kezia.
"Ya ke kantor lah, hati ini kan Bang Jo sudah masuk kantor!" sahut Jonathan.
"Yah Abang, aku sendirian dong!" kata Kezia.
"Habis mau bagaimana lagi sayang, sarapan Bang Jo sudah buatkan, nanti di jam makan siang Bang Jo pulang dan bawa makanan, Bang Jo makan siang sama Kezia!" ucap Jonathan.
"Iya deh Bang!" sahut Kezia.
"Tapi Kezia janji, jangan capek-capek, pokoknya Kezia istirahat saja sambil nonton tv, atau browsing seputar kehamilan, nanti tiap setengah jam Bang Jo telepon Kezia, oke?!" ujar Jonathan sambil membelai rambut Kezia.
"Iya Bang!"
"Bang Jo berangkat dulu ya sayang, diminum susunya, sarapan Kezia ada di meja makan ya!" pamit Jonathan.
"Cium dulu Bang!" cetus Kezia saat Jonathan akan melangkah pergi.
"Oh iya, Bang Jo biru-buru jadi lupa cium Kezia, kemarin Papa bilang suruh datang pagian sih!" Jonathan langsung mengecup pipi dan bibir Kezia.
"Peluk Bang!" kata Kezia manja.
Jonathan lalu memeluk istrinya itu dengan erat.
"Hmm, sebenarnya Bang Jo berat ninggalin Kezia, sabar ya sayang, Bang Jo kerja kan untuk nafkahi Kezia, supaya bisa beli rumah untuk Kezia!" bisik Jonathan.
Kezia mempererat pelukannya. Seolah tak mau lepas dari pelukan Jonathan.
"Maafin Aku Bang, gara-gara aku ingin pindah ke rumah, Bang Jo jadi kepikiran deh, sekarang aku terserah Bang Jo saja, di manapun kita tinggal aku akan bahagia asalkan sama Bang Jo!" ucap Kezia sambil membenamkan kepalanya di dada Jonathan.
"Tidak apa-apa sayang, kita memang suatu hari nanti akan pindah ke rumah, supaya lebih nyaman, anak-anak kita bisa bermain dengan bebas di halaman rumah, itu juga impian Bang Jo!" kata Jonathan.
"Iya Bang, sudah sana Bang Jo berangkat, nanti telat di pecat lho sama Boss Ricky!" ujar Kezia sambil melepaskan pelukannya.
"Iya sayang, Bang Jo pamit ya, susu dan sarapannya jangan lupa, di kulkas juga Bang sudah potong buahnya, Kezia tinggal makan!" kata Jonathan sambil beranjak pergi meninggalkan Kezia.
"Bang Jo!" panggil Kezia. Jonathan menoleh.
"Ada apa sayang?"
"I Love you Bang Jo!" seru Kezia.
"I love you too!" balas Jonathan.
Jonathan lalu kembali berjalan keluar dari apartemennya.
****
Jonathan mengendarai mobilnya cepat, takut terlambat sampai di kantor.
Setelah sampai di kantor, Jonathan langsung memarkir mobilnya. Kemudian dia segera turun dari mobilnya itu.
Karena terburu-buru, Jonathan menabrak seorang wanita yang juga sedang berjalan ke arah kantor Jonathan. Wanita itu terjatuh karena membawa beberapa map.
"Maaf Mbak saya terburu-buru!" ucap Jonathan sambil membantu wanita itu bangun dari jatuhnya.
Saat mereka saling berhadapan, mereka sama-sama terkejut satu sama lain.
"Jo! Sejak kapan kau ada di Jakarta? Kau makin gagah saja, pakai jas dan dasi, keren Jo!" seru wanita itu.
Linda adalah teman satu kelas Jonathan saat SMU di Medan.
"Aku baru merantau ke Jakarta Jo, ada lowongan untuk marketing di kantor ini, makanya aku mencoba melamar, hari ini aku ada interview dengan pemilik langsung perusahaan ini, aku agak grogi nih Jo!" kata Linda.
"Kau tenang saja Lin, pemilik perusahaan ini baik kok, kau pasti di terima bekerja di sini, karena memang kami sedang membutuhkan marketing sebanyak-banyaknya!" jelas Jonathan.
Mereka lalu berjalan beriringan menuju ke lobby.
"Ngomong-ngomong kau kerja sebagai apa di sini Jo, kelihatannya jabatanmu sudah tinggi ya?" tanya Linda.
"Dulu aku juga marketing sepertimu, sekarang aku jadi direktur marketing, itu juga melalui proses yang tidak mudah!" jawab Jonathan.
"Wah kau hebat, aku seharusnya memanggilmu Pak Jo, kau jauh di atas ku, maafkan aku Pak Direktur!" ledek Linda sambil tertawa.
"Sudahlah, tak usah mempermasalahkan jabatan, kita tetap teman sekelas seperti dulu!" ujar Jonathan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Ratna Jo? Aku pikir kalian sudah menikah!" tanya Linda.
"Ya, aku memang sudah menikah, tapi bukan dengan Ratna!" jawab Jonathan.
"Ya ampun, padahal dulu Ratna sayang sekali sama kamu Jo, kok bisa sih kalian tidak berjodoh?!" kata Linda.
"Sudahlah Lin, aku buru-buru, kau silahkan konfirmasi di resepsionis soal interview ya, aku duluan!" Jonathan langsung naik ke atas menuju ke ruangannya, sementara Linda menuju ke meja resepsionis.
Jonathan tidak langsung masuk ke ruangannya, Dia naik pagi ke atas menuju ruangan Pak Ricky.
Jonathan langsung mengetuk dan membuka pintu ruangan itu.
"Selamat pagi Pak Ricky!" sapa Jonathan.
"Baru datang Jo? Kok duluan aku sih yang datang!" kata Ricky.
"Maaf Pak, istri saya agak manja hari ini, jadi agak telat deh!" sahut Jonathan.
Ricky tertawa mendengar ucapan menantunya itu.
"Disini cuma ada kita berdua, jadi kau tak perlu formal begitu!" ujar Ricky.
"Baik Pak, eh Pa!" sahut Jonathan.
"Ada apa kau datang ke ruanganku? Kenapa kau tidak selesaikan tugasmu dulu?" tanya Ricky.
"Maaf Pa, ada yang mau aku tanyakan ke Papa!"
"Katakan, apa itu?" tanya Ricky.
"Aku berniat untuk ambil rumah melalui jalur KPR, Kezia sangat ingin pindah ke rumah, bukan di apartemen!" jawab Jonathan.
"Jo, pilihlah rumah mana yang kau suka, tidak usah pakai KPR segala, kau ini malu-maluin aku saja, masa menantu developer beli rumah saja pakai KPR, mau di taruh di mana mukaku yang tampan ini!" ujar Ricky.
"Tapi Pa, aku harus bayar harga untuk sebuah rumah, aku juga malu kalau terkesan memanfaatkan fasilitas orang tua, aku ingin menghidupi Kezia dengan hasil kerjaku sendiri, maafkan aku Pa!" ucap Jonathan menunduk.
Ricky lalu maju dan memeluk Jonathan sambil menepuk lembut bahunya.
"Kau menantuku yang baik Jo, mungkin kalau orang lain sudah memanfaatkan aku sedemikian rupa, supaya sama-sama enak, aku akan berikan rumah untuk kalian, kau bisa mencicilnya langsung padaku tanpa melalui Bank, jadi ada uangmu yang masuk untuk pembelian rumah itu, bagaimana Jo?" tanya Ricky.
"Wah, bagus Pa, aku setuju, pokoknya tiap bulan aku akan setor uang rumah ke Papa, terimakasih Pa!" ucap Jonathan.
"Ya, asal kau dan Kezia bahagia aku juga senang, ingat Jo, rumah yang aku berikan itu tanpa DP ya, kau langsung saja mencicilnya seberapa kau mampu!" kata Ricky.
"Terimakasih Pa, Kau mertua kesayanganku!" ucap Jonathan lagi sambil kembali memeluk Ricky.
****