Heart's Owner

Heart's Owner
Kembali Pulang



Menjelang subuh, Jonathan baru bisa tidur di kamarnya. Pengalaman semalam membuatnya sulit tidur dan banyak berpikir.


Kezia yang baru terbangun dari tidurnya terkejut melihat Jonathan yang tidur meringkuk di sampingnya dengan wajah yang di tutupi bantal.


Kezia lalu menyelimuti tubuh Jonathan dan mengecup lembut keningnya yang berkeringat. Setelah itu dia beranjak keluar dari kamarnya.


Rumah itu masih terlihat sepi, saat Kezia ke arah dapur, Mbok Narti nampak sedang sibuk mempersiapkan bahan masakan untuk sarapan keluarga besar.


"Ada yang bisa di bantu Mbok?" tanya Kezia yang mengejutkan Mbok Narti.


"Eh, Non Kezia bikin kaget saja! Tumben pagi-pagi begini sudah bangun, biasanya masih mimpi!" kata Mbok Narti.


"Iya Mbok, tiba-tiba aku terbangun dari tidur, lalu tidak bisa tidur lagi, dari pada tidak ada kerjaan mending aku bantu Mbok Narti masak!" ujar Kezia.


"Ya sudah, kalau mau bantu ya ayo, supaya lebih cepat selesai juga!" kata Mbok Narti.


Tiba-tiba Lia, adik Lika muncul di dapur, membuat Kezia dan Mbok Narti terkejut dan saling berpandangan.


"Lho, Tante Lia juga bangun subih-subuh?" tanya Kezia.


"Iya Zia, tadi terbangun, sekalian mau bantu Mbok Narti masak, nanti sehabis sarapan kami rencana mau pulang ke Jogja, karena pekerjaan Mas Burhan sudah menungggu di sana!" kata Lia.


"Burhan sudah mau masuk kerja lagi? Sudah habis cutinya?" tanya Mbok Narti.


"Iya Mbok, makanya kami harus segera kembali ke Jogja!" jawab Lia.


Setelah mereka bertiga bahu membahu memasak untuk sarapan, pagi itu sarapan lengkap telah tersedia di meja makan.


Nando sudah terlihat bangun dari tidur dan sudah mandi. Sementara Ricky dan Lika belum nampak keluar dari kamarnya.


Kezia lalu masuk ke dalam kamarnya, hendak mandi. Jonathan masih terlihat tidur dengan pulas.


Kemudian Kezia mendekati Jonathan berniat akan membangunkannya.


"Bang! Bangun Bang! Sudah siang! Malu masa menantu bangunnya siang-siang!" kata Kezia.


Jonathan tak bergeming, dia malah menarik sarungnya dan kembali tertidur pulas.


"Bang! Bangun dong, sudah siang ini Bang! Malu sama yang lain lho, mereka saja sudah pada bangun, masa Bang Jo masih ngorok!" ujar Kezia sambil mengguncang-guncang tubuh suaminya itu.


Jonathan mulai membuka matanya.


"Masih ngantuk Zia, bang Jo tidur subuh soalnya, sebentar lagi ya!" ucap Jonathan. Matanya terlihat merah.


"Bang Jo kenapa tidur subuh? Semalam ngapain saja?" tanya Kezia.


"Semalam Bang Jo habis ketemu hantu Nenek, lalu mengobrol dengan Nando!" sahut Jonathan.


"Bang Jo bercanda ah, masa Nenek jadi hantu! Sudah deh bang jangan banyak alasan, ayo bangun deh, alasan Bang Jo tidak masuk akal tau!" sergah Kezia.


"Bang Jo tidak bercanda Zia, Kezia tanya saja sama Nando, semalam itu Nenek buyut datengin Bang Jo, minta Bang Jo untuk membantu usahanya Papa Ricky, setelah itu dia lenyap!" kata Jonathan.


Sementara Jonathan sedikit kecewa karena Kezia tidak mempercayai apa yang dia alami, akhirnya dia kembali melanjutkan tidurnya.


****


Setelah keluarga besar selesai sarapan, Tak lama kemudian Lia dan Buruan pamit pulang kembali Ke Jogja.


"Aku pulang ya Kak Lika, Kak Lika di sini banyak anak-anak, pasti kuat walau tidak ada Nenek bersama kakak!" ucap Lia sambil memeluk Kakaknya itu.


"Iya Lia, kamu juga jaga diri, semoga kalian cepat di beri momongan, sudah sekian lama kalian menikah, namun belum ada kabar mengenai kehamilanmu, kakak doakan kau akan segera punya keturunan secepatnya!" ucap Lika.


"Terimakasih Kak, kami juga sudah pengobatan kemana-mana, namun belum juga Tuhan kasih momongan buat kami, mungkin kami yang harus bersabar dulu!" akta Lia.


Sudah lebih dari 6 tahun Lia dan Burhan menikah, namun sampai saat ini mereka belum di karuniai anak, dulu Lia pernah hamil, namun keguguran, dan sampai sekarang belum ada lagi tanda-tanda kehamilan.


Setelah Lia dan Burhan pulang ke Jogja. Kezia mulai membereskan barang-barangnya, rencana dia juga akan kembali ke apartemen Jonathan.


"Kau mau ikut-ikutan Tantemu pulang Kezia?" tanya Lika yang seolah berat saat Kezia hendak pulang bersama Jonathan.


"Ya aku kan akan sering main ke sini Bu!" jawab Kezia. Sementara Jonathan masih tidur di kamar.


"Kenapa kau tak menginap beberapa hari lagi? Temani dulu ibumu yang masih berduka!" kata Ricky yang sejak tadi ada di samping Lika.


"Maunya sih begitu Pa, tapi Bang Jo kelihatannya kesulitan tidur malam kalau dia harus menginap lagi!" ujar Kezia.


"Jo? Tidak bisa tidur? Masa sih? Dulu saja waktu sakit dan kehujanan, dia tidur begitu nyenyak sekali!" sahut Ricky.


"Entahlah Pa, tapi semalam Bang Jo bilang dia tidak bisa tidur sampai subuh, tuh buktinya dia belum bisa bangun kan sampai sekarang? Malah dia pakai berhalusinasi segala lagi, masa kata Bang Jo dia di temui Nenek, dan bicara sama Nenek!" jelas Kezia.


Lika dan Ricky saling berpandangan mendengar penjelasan dari Kezia.


"Masa Jo seperti itu sih? Parah amat halusinasinya??" gumam Lika.


"Itu bukan halusinasi Bu, itu beneran, mulanya aku juga tidak percaya kalau tidak membuktikannya sendiri!" Ujar Nando yang tiba-tiba muncul dan duduk bergabung dengan mereka.


"Nando? Memangnya kamu tau Bang Jo waktu berhalusinasi ketemu Nenek?" tanya Kezia.


"Iya tau, semalam aku juga tidak bisa tidur, lalu aku keluar kamar, ada suara berisik di ruang tamu, makanya aku samperin, saat aku datang Bang Jo sudah pucat seperti orang ketakutan, malah dia menyangka kalau aku Nenek buyut, setelah dia agak tenang baru dia cerita kalau dia di datangi Nenek buyut!" jelas Nando.


"Aneh, kenapa Nenek buyut mendatangi Jo? Kenapa bukan aku cucunya?" tanya Lika.


"Kata Bang Jo, Nenek meminta Bang Jo untuk membantu usaha Papa Ricky di bidang properti, karena hanya Bang Jo yang memiliki potensi, begitu kira-kira Pesan dari Nenek buyut!" jawab Nando.


"Nenek, ternyata walau dia sudah tiada, Nenek begitu memperhatikan aku, bahkan usahaku, Dia tau saja kalau aku butuh orang yang membantuku, Dia tau saja kalau Jo menantuku yang potensial bisa melakukan itu, Nenek, terimakasih ya..." gumam Ricky.


Semua mata yang da di ruangan itu saling berpandangan melihat sikap dan ucapan dari Ricky.


****